Pada 1981, beberapa kasus pneumonia yang luar biasa (PCP, lihat Lembaran Informasi (LI) 512) dan kanker kulit yang disebut sarkoma Kaposi (LI 508) dilapor- kan. Kasus ini ditemukan pada laki-laki homoseksual di Los Angeles dan New York City. Peristiwa ini adalah kegaiban bagi para peneliti.
Virus penyebab AIDS diidentifikasi pada 1983. Baru disediakan obat untuk meng- obati penyakit ini pada 1987. Pada waktu itu, sejenis obat kanker yang disebut zidovudine (AZT) ditemukan mampu memperlambat replikasi Human Immuno- deficiency Virus (HIV.)
Pada 2011, lebih dari 30 jenis obat telah disetujui untuk melawan HIV. Tak satu pun dari obat ini membunuh virus. Masing- masing melambatkan HIV pada langkah tertentu dalam siklus hidupnya (lihat LI 106).
Pada 1996, beberapa studi penelitian memberi kesan bahwa kombinasi tiga jenis obat dapat mengurangi jumlah HIV bahkan memberantasnya. Banyak orang yang memakai kombinasi obat antiretroviral (ARV) mencapai viral load tidak terdeteksi (lihat LI 125).
Namun diperkirakan bahwa hanya 2% virus dalam tubuh adalah dalam darah; hanya virus dalam darah ini dapat diukur dengan tes viral load. Ternyata HIV tidak berhasil diberantas, bahkan pada pasien yang memakai kombinasi tiga obat yang sangat manjur,.
Segera setelah kita terinfeksi HIV, virus menjadi bagian dari kode genetik dalam jutaan sel. Beberapa sel ini berada di luar jangkauan sistem kekebalan tubuh, dan dari ARV. Bagian tubuh tempat persembunyian virus disebut sebagai reservoir (waduk). Bagian ini termasuk saluran kelamin dan sistem saraf pusat. Satu peneliti memper- kirakan bahwa mungkin HIV dapat di- berantas dari waduk tersebut setelah 70 tahun penggunaan terapi antiretroviral (ART).
Harapan untuk menyembuhkan HIV didorong oleh kasus “pasien Berlin.” Orang terinfeksi HIV ini, yang tinggal di Berlin, juga menderita leukemia. Pengobatan baku untuk leukemianya gagal. Dia kemudian menerima pencangkokan sumsum tulang. Terkait dengan pencangkokan ini, sistem kekebalan tubuhnya dihapuskan. Sumsum tulang pengganti dicangkok dari donor dengan mutasi genetik langka, yang membuatnya kebal terhadap infeksi HIV. Ketika pengobatannya tuntas, pasien Berlin ini tidak memiliki tanda apa pun HIV dalam tubuhnya.
Tindakan pencangkokan sumsum tulang adalah berbahaya. Sebanyak sepertiga pasien yang mendapatkannya akhirnya meninggal akibat tindakan ini. Oleh karena itu, tidak jelas bahwa keberhasilan pasien Berlin dapat atau harus dicoba pada orang lain. Namun, kasus ini memberikan beberapa petunjuk tentang bagaimana HIV dapat diberantas.
Pada 2013, beberapa peneliti AIDS melaporkan “penyembuhan”. Penelitian ini tidak dirancang secara hati-hati untuk meneliti penyembuhan. Namun, untuk orang yang terlibat hasilnya dianggap sebagai “penyembuh fungsional.” Istilah ini berarti bahwa, walau penggunaan ART dihentikan, viral load tetap terkendali. Seorang bayi perempuan di Mississippi AS yang dinyatakan terinfeksi HIV setelah dilahirkan oleh ibu terinfeksi HIV segera diberi ART. Diperkirakan bayi tersebut sudah disembuhkan, namun laporan baru ini menunjukkan virus sudah muncul lagi. Penelitian Penyembuh Sedang Dilakukan
Ada upaya penelitian yang sedang berlangsung di beberapa bidang:
Selama awal infeksi HIV, jutaan sel terinfeksi. Virus adalah tidak aktif (tidur), sehingga tidak membuat virus baru. Dalam keadaan ini, virus di luar jangkauan sistem kekebalan tubuh dan ARV.
Para peneliti sedang bekerja dengan obat yang mampu mengaktifkan HIV dalam waduk. Diharapkan ini akan mengeluar- kannya agar terjangkau oleh ARV yang ada, sehingga dapat dibersihkan. Namun ada ketakutan bahwa pendekatan ini dapat meningkatkan beberapa jenis kanker.
Kebanyakan vaksin diberikan untuk mencegah infeksi. Vaksin terapeutik diberikan untuk meningkatkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi yang sudah ada. Sejauh ini, penelitian vaksin terapeutik untuk HIV belum menunjukkan hasil yang kuat. Salah satu risiko yang mungkin adalah bahwa vaksinasi terapeutik akan meningkatkan kegiatan kekebalan tubuh dan peradangan. Membuat sel kebal terhadap HIV
Dalam pendekatan ini, sel CD4 diambil dari pasien. Sel tersebut diubah agar menjadi kebal terhadap HIV. Kemudian sel ini ditransfusi kembali ke pasien. Harapan- nya adalah bahwa sel yang diubah ini akan berkembang biak dalam pasien.
Pendekatan ini mengharuskan pasien dihubungkan ke mesin selama beberapa jam sambil sel CD4 dikeluarkan dari darah. Ketika sel yang diubah ditransfusi kembali ke pasien. Tindakan ini dapat menyebab- kan menggigil, demam, sakit kepala, berkeringat, pusing dan kelelahan.
Sebuah pendekatan baru termasuk menekan sistem kekebalan tubuh untuk “membuat ruang” untuk sel yang baru diubah. Cara ini dapat meningkatkan jumlah sel yang diubah dalam tubuh. Namun, selama tindakan, pasien mungkin lebih rentan terhadap infeksi berat.
Pasien Berlin menerima pencangkokan sel punca yang kebal terhadap infeksi HIV. Sel punca dapat tumbuh menjadi berbagai jenis sel dalam tubuh, dan dalam beberapa kasus, bertindak sebagai sistem perbaikan. Ada risiko yang bermakna dalam pende- katan ini. Jika sel punca tidak diubah secara benar, sel ini dapat menyebabkan penyakit berat. Terapi sel punca juga mungkin memerlukan sebagian atau seluruh sistem
kekebalan tubuh pasien dihancurkan.
Pendekatan ini hanya mungkin masuk akal untuk orang dengan HIV yang harus mele- mahkan sistem kekebalan tubuhnya sebagai bagian dari pengobatan untuk kanker.
Banyak studi penelitian mengenai penyembuh mengharuskan agar pasien berhenti ART-nya. Hal ini memungkinkan peneliti untuk melihat apakah pengobatan yang diteliti ternyata membantu sistem kekebalan tubuh melawan HIV. Terapi berdenyut (LI 406) dapat berisiko. Peng- hentian dalam studi ini saat ini tidak melebihi 12 minggu.
Ada pasang surut dalam mencari pe- nyembuh untuk HIV. Sejauh ini, tampak- nya bahwa semua pendekatan membawa beberapa risiko. Lagi pula, manfaatnya belum jelas.
Namun, ada semakin banyak minat dalam penelitian penyembuh. Minat akan terus berlanjut, dan mungkin meningkat, pada tahun-tahun mendatang.
Diperbarui 1 September 2014 berdasarkan FS 485
The AIDS InfoNet 23 Juli 2014
Diterbitkan oleh Yayasan Spiritia, Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Jakarta 10560. Tel: (021) 422-5163/8 E-mail: [email protected] Situs web: http://spiritia.or.id/
Semua informasi ini sekadar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sebelum melaksanakan suatu pengobatan sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.
Seri Lembaran Informasi ini berdasarkan terbitan The AIDS InfoNet. Lihat http:// www.aidsinfonet.org