[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

VAKSINASI UNTUK ODHA DEWASA

23 Mei 2014 Hidup dengan HIV

 

 

Apa Itu Vaksinasi?

Vaksinasi, atau imunisasi, adalah jenis pengobatan yang merangsang ketahanan tubuh kita terhadap infeksi tertentu. Sebagian besar orang diimunisasi terhadap beberapa infeksi waktu bayi. Sebagian besar vaksin diberi melalui suntikan, tetapi ada yang dipakai melalui mulut. Dibutuhkan beberapa minggu setelah diberi sehingga sistem keke- balan tubuh bereaksi pada vaksin yang diberikan. Vaksin umumnya sangat aman.

Sebagian besar vaksin dipakai untuk men- cegah infeksi. Tetapi, beberapa yang lain membantu tubuh kita untuk melawan infeksi yang sudah ada. Vaksin ini disebut ‘vaksin terapeutik.’Ada beberapa vaksin terapeutik yang sedang diteliti dan diuji coba terhadap HIV.

Vaksin ‘hidup’ memakai bentuk kuman yang dilemahkan. Vaksin ‘dinonaktifkan’(in- activated) tidak memakai kuman yang hidup. Vaksin dapat menimbulkan efek samping. Dengan vaksin hidup, kita mungkin meng- alami penyakit yang ringan. Dengan vaksin dinonaktifkan, kita mungkin mengalami kesakitan, kemerahan, dan bengkak di tempat yang disuntik. Kita juga mungkin merasa lemas, kelelahan, atau mual selama waktu

yang singkat.

Apa yang Berbeda untuk Odha?

Sistem kekebalan tubuh yang sudah dilemahkan oleh HIV mungkin tidak dapat bereaksi secara baik pada vaksin. Jangka waktu efektivitas vaksin dapat lebih singkat. Bila kita baru saja akan mulai terapi antiretroviral (ART), mungkin tanggapan terhadap vaksin lebih baik bila kita menung- gu sampai jumlah CD4 meningkat.

Hanya sedikit penelitian dilakukan ter- hadap penggunaan vaksin oleh Odha, apalagi sejak ART sudah dipakai. Namun ada beberapa petunjuk penting untuk Odha:

  • Vaksinasi dapat meningkatkan viral load untuk waktu yang singkat. Namun jatuh sakit dengan penyakit yang dicegah oleh vaksin lebih buruk. Jangan mengukur viral load dalam empat minggu setelah vaksinasi apa pun.
  • Vaksinasi terhadap flu lebih ditelitikan dengan Odha dibandingkan vaksinasi yang lain. Vaksin flu dianggap aman dan efektif. Namun Odha tidak boleh memakai vaksin flu semprot hidung “FluMist”.
  • Bila jumlah CD4-nya sangat rendah, vaksin mungkin tidak berhasil. Bila mungkin, menguatkan sistem kekebalan tubuh dengan memakai ART sebelum divaksinisasi.
  • Odha tidak boleh menerima sebagian besar vaksin hidup termasuk vaksin cacar air. Hindari kontak dekat dengan siapa pun yang menerima vaksinasi ‘hidup’ dalam 2-3 minggu terakhir.

Namun vaksin campak, gondong dan rubela dianggap aman asal jumlah CD4-nya di atas 200.

  • Vaksin demam kuning (yellow fever) adalah vaksin hidup yang tidak diusulkan untuk Odha dengan jumlah CD4 di bawah

200. Vaksin ini dapat diberi pada Odha tanpa gejala yang berjalan ke daerah dengan demam kuning, asal jumlah CD4-nya di atas 200 dan mereka dipantau untuk efek samping.

Vaksinasi yang Disarankan

Belum ada pedoman khusus di Indonesia mengenai vaksinasi untuk Odha dewasa. Yang berikut berdasarkan pedoman di AS dan pedoman Indonesia umum untuk orang dewasa. Sebaiknya dibahas dengan dokter sebelum melakukan vaksinasi apa pun.

Penyakit Pneumokokus: Odha, terutama perokok, lebih rentan terhadap penyakit ini, yang dapat menyebabkan radang paru. Odha diusulkan divaksinasi dengan PPV-23. Bila divaksinasi waktu jumlah CD4 di bawah 200, sebaiknya diulang vaksinasi setelah naik di atas

200. Vaksinasi harus diulang satu kali setelah lima tahun.

Hepatitis: Lihat Lembaran Informasi (LI)

505. Hepatitis disebabkan oleh berbagai macam virus. Laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki dan pengguna narkoba suntikan lebih rentan terhadap virus hepatitis A, B dan C. Ada vaksin terhadap hepatitis A dan B. Dua suntikan vaksin hepatitis A melindungi selama 20 tahun. Bila kita pernah terpajan hepatitis B, kita sudah kebal. Bila kita belum terpajan hepatitis B, sebaiknya kita mendapatkan vaksinasi. Seri tiga suntikan vaksinasi hepatitis B yang tuntas seharusnya melindungi kita kurang lebih 20 tahun. Status kekebalan terhadap hepatitis B sebaiknya dinilai secara berkala oleh Odha, terutama bila jumlah CD4-nya rendah.

Human Papilloma Virus (HPV) (lihat LI 507): Tersedia vaksin terhadap empat jenis HPV, yang menyebabkan kutil pada dubur, dan kanker vagina atau dubur. Vaksin ini diusulkan dipakai oleh laki-laki di bawah usia 21 tahun dan perempuan di bawah usia 26 tahun. Vaksin ini paling efektif bila dipakai sebelum menjadi aktif secara seksual.

Flu: Vaksin flu harus diperbarui setiap tahun, berdasarkan tipe flu yang paling aktif saat itu. Flu dapat berkembang menjadi pneumonia. Beberapa vaksin flu dapat menyebabkan reaksi alergi pada orang yang mempunyai alergi terhadap telur. Kemenkes mengusulkan vaksinasi terhadap flu setiap tahun untuk semua orang, terutama untuk jemaah haji.

Tetanus dan Difteri (Td): Tetanus adalah penyakit gawat disebabkan oleh bakteri yang umum. Infeksi tetanus dapat terjadi melalui luka pada kulit. Para penasun lebih berisiko terhadap tetanus. Difteri juga adalah penyakit bakteri. Vaksin terhadap difteri selalu digabungkan dengan vaksin tetanus.

Vaksin Td (bersama dengan vaksin terha- dap pertusis; vaksin gabungan ini disebut Tdap) biasanya diberikan pada anak sebagai seri tiga suntikan. Satu suntikan ulang diberi- kan setiap sepuluh tahun sebagai penguat (booster). Odha sebaiknya jangan divak- sinasi ulang lebih sering, walau boleh lima tahun bila cedera.

Pertusis (batuk rejan): Ini adalah penya- kit bakteri lain yang menyebabkan batuk berkepanjangan. Vaksinasi Tdap harus mengganti booster Td berikutnya. Setelah kita telah terima satu vaksinasi Tdap, kita hanya perlu menerima booster Td di masa depan karena tidak dibutuhkan vaksinasi pertusis berulang-ulang.

Campak, Gondong dan Rubela: Ketiga penyakit ini disebabkan oleh virus. Anak seharusnya divaksinasi terhadap penyakit ini dengan suntikan yang disebut sebagai ‘MMR’. Vaksin ini biasanya memberi perlin- dungan seumur hidup. Bila belum divak- sinasi pada masa kanak-kanak, Odha sebaiknya divaksinasi, asal CD4-nya di atas 200 (MMR adalah vaksin hidup).

Tifoid: Demam tifoid (‘tifus’) disebabkan oleh bakteri. Kemenkes mengusulkan semua orang Indonesia divaksinasi terhadap tifoid setiap tiga tahun. Vaksinasi tidak berisiko untuk Odha asal tidak dipakai vaksin hidup. Vaksin ini jarang menimbulkan efek samping, tetapi kadang kala ada sedikit rasa sakit pada bekas suntikan yang akan segera hilang.

Meningitis meningokokal: Perjangkitan meningitis kian sering, terutama pada kampus. Odha lebih rentan terhadap penyakit ini jika terpajan.

Odha Wisatawan

Odha wisatawan sebaiknya divaksinasi terhadap hepatitis A dan B.

Beberapa negara mengharuskan wisatawan melakukan vaksinasi. Asal vaksin tidak hidup, biasanya ini tidak masalah, kecuali yang dibahas di atas. Sebaiknya hindari vaksin hidup, termasuk untuk demam kuning (lihat di atas).

Sebagai alternatif divaksinasi dengan vaksin hidup, kita sebaiknya minta pernya- taan dokter yang menjelaskan bahwa kita mempunyai alasan medis untuk tidak diberi- kan vaksinasi tersebut. Surat tersebut diterima oleh yang berkuasa di sebagian besar negara.

 

 

Diperbarui 1 Juli 2014 berdasarkan FS 207 The AIDS InfoNet 23 Mei 2014 dan informasi dari Kemenkes RI

 

 

Diterbitkan oleh Yayasan Spiritia, Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Jakarta 10560. Tel: (021) 422-5163/8 E-mail: [email protected] Situs web: http://spiritia.or.id/

Semua informasi ini sekadar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sebelum melaksanakan suatu pengobatan sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.

Seri Lembaran Informasi ini berdasarkan terbitan The AIDS InfoNet. Lihat http:// www.aidsinfonet.org