Interleukin-2 (IL-2) adalah protein yang dibuat oleh tubuh kita. Sel CD4, semacam sel darah putih, membuat IL-2 saat dirangsang oleh infeksi. IL-2 mendorong penggandaan dan pema- tangan sel yang melawan infeksi itu. Pasien yang memakai IL-2 mengalami peningkatan yang bermakna pada jumlah sel CD4. IL-2 disebut sebagai immune modulator.
IL-2 sudah disetujui oleh FDA di AS untuk dipakai untuk mengobati beberapa jenis kanker, tetapi tidak disetujui untuk dipakai untuk penyakit HIV. Berdasarkan hasil negatif dari dua uji coba klinis internasional yang besar, penelitian mengenai penggunaan IL-2 terhadap pasien dengan HIV dihentikan.
Versi IL-2 sintetis dibuat oleh Chiron Corporation dengan rekayasa gen. Versi ini dikenal sebagai Proleukin, sekarang dibuat oleh Novartis. Obat ini dipakai untuk mengobati beberapa jenis kanker. Siapa Sebaiknya Memakai IL-2?
IL-2 merangsang sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan jumlah sel CD4. Orang yang mulai dengan jumlah CD4 lebih tinggi mendapatkan peningkatan yang lebih besar pada jumlah CD4.
Para ilmuwan tidak bersepakat menge- nai kegunaan sel CD4 baru yang diben- tuk oleh IL-2. Pada 2009, dua penelitian internasional yang besar diakhiri. Pene- litian ini menunjukkan bahwa jumlah CD4 berdasarkan penggunaan IL-2 tidak sama baik dengan jumlah CD4 berdasar- kan terapi antiretroviral (ART) yang berhasil. Perbedaan terkait dengan berapa jenis sel CD4 yang kita miliki.
Sebelum HIV melawan sistem keke- balan tubuh, kita memiliki jutaan jenis sel CD4. Jenis ini dapat diibaratkan dengan huruf dalam abjad. Masing- masing huruf dibentuk untuk menanggapi jenis infeksi yang berbeda. Dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat, kita memiliki banyak tiruan masing-masing huruf. Sebagaimana jumlah CD4 kita menurun, kita memiliki semakin sedikit tiruan masing-masing huruf, dan kemung- kinan kita akan kehabisan beberapa huruf. Seumpamanya, kita ingin membuat kata “zebra” untuk melawan suatu infeksi tertentu. Bila kita kehabisan huruf ‘z’, kita tidak mampu membuat kata “zebra”, sehingga kita dapat menimbulkan penya- kit akibat infeksi tersebut.
IL-2 membuat lebih banyak tiruan “huruf” (jenis sel CD4) yang masih ada. Tetapi IL-2 tidak mampu membangkit- kan lagi “huruf” yang hilang. Mungkin tetap ada celah dalam pertahanan keke- balan. Penelitian besar terhadap IL-2 menunjukkan bahwa jumlah CD4 me- ningkat secara bermakna. Namun pening- katan ini tidak menghasilkan perbaikan dalam kesehatan.
Para peneliti juga memakai IL-2 untuk mencoba mengeluarkan sel CD4 yang beristirahat dalam darah. Penelitian ini tidak berhasil.
IL-2 dipakai sebagai infus intravena (dalam pembuluh darah) atau suntikan subkutan (di bawah kulit) dua kali sehari. Penelitian awal menunjukkan bahwa peningkatan terbesar dalam jumlah CD4 terjadi bila IL-2 dipakai setiap hari untuk lima hari, dengan siklus delapan minggu. Bila jumlah CD4 meningkat cukup tinggi setelah beberapa siklus pertama, siklus berikut dapat dilakukan dengan frekuensi yang lebih lama.
Takaran IL-2 yang terbaik belum ditentukan. Takaran diukur dalam “jutaan satuan internasional” atau MIU (millions of international units). Beberapa pasien yang memakai IL-2 sudah dipantau selama enam tahun atau lebih. Setelah memakai IL-2 setiap dua bulan pada awal, mereka meningkatkan jangka waktu antara siklus menjadi sampai tiga tahun. Mereka tetap mempunyai jumlah CD4 yang lebih tinggi.
Tanpa ART, IL-2 dapat meningkatkan viral load HIV menjadi hingga enam kali lipat jumlah sebelum terapi. Peningkatan ini hilang dengan sendirinya dalam satu bulan. ART dapat mengendalikan pening- katan sementara ini. Kita sebaiknya tidak memakai IL-2 kecuali kita sudah mema- kai ART. Namun, berdasarkan penelitian baru-baru ini, penggunaan IL-2 oleh Odha tidak mempunyai dasar bukti. Bila IL-2 diberikan sebagai infus intravena, efek samping yang paling umum disebut sebagai sindrom kebo- coran kapiler (capillary leak syndrome). Sindrom ini menyebabkan peningkatan pada berat badan, tekanan darah rendah, dan masalah lain.
Dengan takaran yang lebih rendah, orang yang memakai IL-2 mengalami gejala seperti flu, termasuk demam, panas-dingin, dan pegal. Oleh karena IL-2 merangsang sistem kekebalan tubuh, obat ini dapat memburukkan beberapa penyakit imun, termasuk artritis (radang sendi), psoriasis dan diabetes. IL-2 juga dapat mengurangi jumlah neutrofil, semacam sel darah putih yang melawan infeksi, dan dapat menyebabkan tingkat tiroid yang rendah.
Bila IL-2 diberikan dengan suntikan subkutan, efek samping biasanya lebih ringan dibandingkan dengan infus. Namun dapat terjadi rasa gatal di tempat suntikan. Efek samping biasanya mulai dialami dua hingga enam jam setelah suntikan IL-2, dan hilang segera setelah akhir siklus.
IL-2 dapat menyebabkan perubahan pada suasana hati termasuk sifat lekas marah, insomnia (sulit tidur), kebingung- an, atau depresi. Gejala ini dapat dialami selama beberapa hari setelah IL-2 dihentikan.
Tubuh kita membuat IL-2 secara alami. Tidak ditemukan interaksi berat dengan obat antiretroviral (ARV). Lagi pula, tampaknya tubuh tidak membentuk resistansi terhadap IL-2 bila diberikan dalam siklus.
IL-2 merangsang sistem kekebalan tubuh dan dapat menyebabkan pening- katan besar dalam jumlah sel CD4. Sayangnya, peningkatan ini tidak meng- hasilkan perbaikan dalam kesehatan pada Odha.
Berdasarkan hasil penelitian besar, tidak alasan untuk memakai IL-2 sebagai cara untuk mendukung ART.
Ditinjau 3 Januari 2015 berdasarkan FS 482 The
AIDS InfoNet 19 Mei 2014
Diterbitkan oleh Yayasan Spiritia, Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Jakarta 10560. Tel: (021) 422-5163/8 E-mail: [email protected] Situs web: http://spiritia.or.id/
Semua informasi ini sekadar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sebelum melaksanakan suatu pengobatan sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.
Seri Lembaran Informasi ini berdasarkan terbitan The AIDS InfoNet. Lihat http:// www.aidsinfonet.org