[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

Mengenal ARV, Obat yang Dapat Turunkan Kematian pada ODHA

27 Juli 2021 Referensi

KOMPAS.com - Penyakit AIDS yang diakibatkan oleh virus HIV merupakan gangguan kesehatan yang menjadi momok bagi siapa pun. Sejak muncul pertama kali di Indonesia pada 1987, epidemi infeksi HIV terus meningkat. Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan virus HIV tersebut. Untuk membantu memperlambat perkembangan virus di dalam tubuh hingga menjadi AIDS, penderita HIV biasa menggunakan terapi antiretroviral (ART). Dengan terapi tersebut, pengidap virus dapat bertahan hidup lebih lama dan beraktivitas normal seperti orang sehat pada umumnya. Terapi ART merupakan kombinasi beberapa obat antiretroviral untuk memberlambat HIV berkembang dan menyebar dalam tubuh.

HIV merupakan retrovirus, maka dari itu diobati dengan mengkombinasikan beberapa obat. Obat ini biasanya disebut sebagai obat antiretroviral (ARV). Hadirnya ARV menurunkan angka kematian akibat HIV/AIDS.

Masuk Indonesia

ARV masuk ke Indonesia sejak 1997. Kendati demikian, pemerintah mulai menyediakan obat ARV secara gratis di akhir tahun 2014. Sebelum ada ARV, Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang terinfeksi oportunistik atau HIV berat umumnya hanya mampu bertahan hidup selama 6 bulan hingga 2 tahun.

Manfaat ARV terhadap penderita HIV mulai terlihat.

ODHA yang mendapatkan terapi ARV dalam keadaan sehat, produktif, hingga berkeluarga. Dilansir dari WHO, seorang pengidap HIV yang mengonsumsi ART secara efektif, risiko penularan ke padangan seksual yang tidak teinfeksi dapat berkurang hingga 96 persen. WHO pun merekomendasikan, seorang yang hidup dengan HIV di tubuhnya, harus mendapatkan ART agar memperpanjang harapan hidup dan secara signifikan mengurangi penularan HIV.

Mengenal HIV

Virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan melemahkan sistem pertahanan manusia terhadap infeksi dan beberapa jenis kaner. Saat virus merusak fungsi kekebalan, orang yang terinfeksi secara bertahap menjadi imunodefisiensi.

Jika tidak diobati, infeksi HIV akan berlanjut menjadi AIDS dalam rentang waktu 2-15 tahun, tergantung individu yang terinfeksi. Gejalanya beragam, seperti flu, demam, sakit kepala, ruam, atau sakit tenggorokan. Saat infeksi semakin melemahkan sistem kekebalan tubuh, gejala lain yang muncul seperti pembengkakan kelenjar getah bening, penurunan berat badan, demam, diare, dan batuk. Dalam kondisi parah, biasanya berkembang menjadi tuberkulosis, meningitis, kanker limfoma, dan sarkoma Kaposi.

 

Penulis Mela Arnani | Editor Sari Hardiyanto