[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

KEWASPADAAN STANDAR

21 Agustus 2023 Advokasi

Diperbarui: 21 Agustus 2023

Apa Kewaspadaan Standar Itu?

Ada berbagai macam infeksi menular yang terdapat dalam darah dan cairan tubuh lain seseorang, di antaranya hepatitis B dan C - dan HIV. mungkin juga ada infeksi lain yang belum diketahui harus diingat bahwa hepatitis C baru ditemukan pada 1988. Sebagian besar pasien dengan infeksi tersebut belum tahu dirinya terinfeksi.

Dalam semua sarana kesehatan, termasuk Rumah Sakit, Puskesmas dan praktek dokter gigi, tindakan yang dapat mengakibatkan luka atau tumpahan cairan tubuh, atau penggunaan alat medis yang tidak steril, dapat menjadi sumber infeksi penyakit tersebut pada petugas layanan kesehatan dan pasien lain. Jadi seharusnya ada pedoman untuk mencegah kemungkinan penularan terjadi. 

Pedoman ini disebut sebagai kewaspadaan standar (dulu kewaspadaan universal). Harus ditekankan bahwa pedoman tersebut dibutuhkan tidak hanya untuk melindungi terhadap penularan HIV, tetapi yang tidak kalah penting terhadap infeksi lain yang dapat berat dan sebetulnya lebih mudah menular.

Bagaimana Kewaspadaan Standar Diterapkan?

Karena akan sulit untuk mengetahui apakah pasien terinfeksi atau tidak, petugas layanan kesehatan harus menerapkan kewaspadaan standar secara penuh dalam hubungan dengan SEMUA pasien, dengan melakukan tindakan berikut:

 

Apakah Ada Pilihan Lain?

Sebelum kewaspadaan standar pertama dikenalkan di AS pada 1987, semua pasien harus dites untuk semua infeksi tersebut. Bila diketahui terinfeksi, pasien diisolasi dan kewaspadaan khusus lain dilakukan, misalnya waktu bedah. Banyak petugas layanan kesehatan dan pemimpin rumah sakit masih menuntut tes HIV wajib untuk semua pasien yang dianggap anggota "kelompok beresiko tinggi" infeksi HIV, misalnya pengguna narkoba suntikan. Namun tes wajib ini tidak layak, kurang efektif dan bahkan berbahaya untuk beberapa alasan: 

 

Mengapa Kewaspadaan Standar Sering Dilakukan?

Ada banyak alasan mengapa kewaspadaan standar tidak diterapkan, termasuk:

 

Apakah Risiko Jika Kewaspadaan Standar Kurang Diterapkan?

Kewaspadaan standar diciptakan untuk melindungi terhadap kecelakaan yang dapat terjadi. Kecelakaan yang paling umum adalah tertusuk jarum suntik, yaitu jarum suntik yang dipakai pada pasien menusuk kulit seorang petugas layanan kesehatan. Penelitian menunnjukkan bahwa risiko penularan rata-rata dalam kasus pasien yang bersangkutan terinfeksi HIV adalah kurang 0.3%, dibandingkan dengan 3% untuk hepatitis C dan lebih dari 30% untuk hepatitis B. Jika darah dari pasien yang terinfeksi mengenai selaput mukosa/selaput lendir (misalnya masuk mata) petugas layanan kesehatan, risiko penularan HIV adalah kurang 0,1%. Walaupun belum ada data tentang kejadian serupa dengan darah yang tercemar hepatitis B, risiko jelas jauh lebih tinggi.

 

Apa yang Dapat Dillakukan Jika Ada Kecelakaan Kerja?

Fasilitas layanan kesehatan harus mempunyai prosedur tetap yang dipakai bila ada kecelakaan. Satu pilihan untuk mencegah infeksi HIV setelah diselidiki adalah untuk menawarkan profilaksis pascapajanan(PPP-lihat Lembaran Informasi 156).

 

Bagaimana Kita Dapat Mendorong Penerapan Kewaspadaan Standar?

Jelas penerapan kewaspadaan standar yang tidak sesuai dapat menghasilkan bukan hanya risiko pada petugas layanan kesehatan dan pasien lain, tetapi juga peningkatan pada stigma dan diskriminasi yang dihadapi oleh orang dengan HIV. Jadi kita harus mengerti dasar pemikiran kewaspadaan standar dan terus menerus mengadvokasikan untuk penerapannya. Kita harus mengajukan keluhan jika kewaspadaan standar diterapkan secara pilih-pilih ('kewaspadaan Odha') dalam sarana medis. Kita harus protes dan menolak bila ada tes HIV wajib sebelum kita diterima di rumah sakit. Kita mungkin juga harus beradvokasi pada pemerintah daerah agar disediakan dana yang cukup untuk menerapkan kewaspadaan standar dalam sarana medis pemerintah.

 

Kunci pokok pembahasan

Kewaspadaan standar dimaksudkan untuk melindungi petugas layanan kesehatan dan pasien lain terhadap penularan berbagai infeksi dalam darah dan cairan tubuh lain, termasuk HIV. Kewaspadaan tersebut mewajibkan petugas agar melakukan tindakan tertentu seperti memakai sarung tangan jika mereka mungkin akan terkena cairan tubuh pasien.

Karena tidak praktis untuk melakukkan tes pada semua pasien untuk semua infeksi yang mungkin dapat menular, dan tes hanya pasien dari 'kelompok berisiko tinggi' dianggap diskriminatif dan tidak efektif (antara lain karena tes tidak bisa mendeteksi orang yang dalam masa jendela), maka kewaspadaan standar mewajibkan agar SEMUA pasien dianggap memiliki infeksi.

 

Penerapan kewaspadaan standar sering kurang baik. Sebagai orang dengan HIV dan orang yang peduli, kita harus beradvokasi agar kewaspadaan sandar diterapkan secara penuh.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan merujuk pada lembaran WHO mengenai Penerapan Kewaspadaan Standar di fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat diunduh dari: https://www.who.int/docs/default-source/documents/health-topics/standard-precautions-in-health-care.pdf dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 27 tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Ditinjau 21 Agustus 2023