Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap tahun, tepatnya pada 24 Maret, diperingati sebagai World Tuberculosis Day atau Hari Tuberkulosis Sedunia. Peringatan ini mengingatkan momen yang terjadi pada 1882, saat Dr. Robert Koch mengumumkan temuan bakteri penyebab tuberkulosis (TBC/TB), yang hingga kini masih jadi salah satu penyakit infeksi paling membunuh di seluruh dunia. Sebagaimana dikutip dari laman Badan Kesehatan Dunia (WHO), tiap hari hampir 4ribu orang meninggal akibat TBC dan nyaris 28ribu orang terpapar bakteri penyebab TBC. Tahun ini, Hari Tuberkulosis Sedunia mengambil tema "The Clock is Ticking" (waktu terus berjalan). Tema ini menyiratkan dunia yang seolah kehabisan waktu menindaklanjuti TBC. Dalam konteks masa pandemi, ada risiko perang melawan TBC jadi loyo. Apa yang bisa kita lakukan? Salah satunya adalah memperkaya pengetahuan akan TBC sehingga tumbuh kesadaran akan bahaya TBC. Kemudian membongkar mitos-mitos TBC berikut sehingga tidak lagi ada misinformasi yang merebak di masyarakat.
"TB ini bukan penyakit keturunan tapi ketularan," ujar Arief Bakhtiar, dokter spesialis paru sekaligus pengajar di Universitas Airlangga (UNAIR), saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (23/3). Selama ini orang menganggap TBC merupakan penyakit yang diturunkan dari keluarga yang pernah terinfeksi. Padahal, kata Arief, TBC ini penyakit infeksi yang ditularkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis) dan sama sekali tidak berhubungan dengan genetik seseorang. Anggapan bahwa TBC merupakan penyakit keturunan seringkali akibat pasien TBC memiliki anggota keluarga yang pernah terkena TBC. Arief menjelaskan, penularan TBC tidak sesederhana penularan Covid-19. Ada tiga kunci yang menentukan paparan bakteri M. tuberculosis akan berujung pada infeksi yakni, jumlah paparan virus, daya tahan tubuh seseorang dan frekuensi interaksi seseorang yang pasien TBC. Keluarga pasien TBC merupakan pihak yang melakukan kontak erat dan sering sehingga tidak heran mereka rentan tertular dan terinfeksi TBC.
Dokter spesialis paru dan pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Alfian Nur Rosyid, menegaskan penyakit TB bisa menyerang siapapun. Orang yang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, maupun kaum 'high class' bisa saja tertular TB. "Stigmanya TBC ini hanya menyerang kalangan ekonomi lemah, padahal high class juga ada. Bahkan tenaga kesehatan ada yang sakit TB karena merawat pasien TBC. TBC tidak pandang usia, jabatan," kata Alfian saat dihubungi terpisah. Arief menambahkan ada kemungkinan stigma ini muncul akibat penularan TBC begitu tinggi di lingkungan pemukiman padat. Penularan TB sangat tinggi didukung sistem sirkulasi udara dan sanitasi buruk. Tidak heran prevalensi TBC tinggi di negara-negara berkembang. Dia menjelaskan penyakit infeksi tidak lepas dari segitiga penyakit yakni, host (inang bakteri/virus/kuman yakni manusia), agent (penyebab penyakit) dan lingkungan. Ketiganya tidak bisa dipisahkan. "Contohnya dari sisi host, kitanya, manusianya. Kita sudah dalam kondisi sehat lingkungan mendukung termasuk makanan. Tapi ternyata kekuatan kuman atau virulensi atau daya jahatnya tinggi, lalu bisa kena. Sebaliknya, kumannya biasa saja dari segi virulensi tapi dari sisi imun kita lemah, ya kena [infeksi] juga," jelasnya
Alfian masih menemukan ada orang yang menganggap TB adalah penyakit akibat guna-guna, santet atau ilmu hitam. Anggapan ini muncul karena gejala berupa batuk yang tidak kunjung sembuh meski sudah mengonsumsi beragam obat. "Batuk darah terus mikir, jangan-jangan disantet. Batuk kok enggak sembuh-sembuh, dipikir-pikir apa keluar paku, keluar benda asing lain. Padahal TBC ini penyakit infeksi akibat bakteri," ujarnya.
TBC adalah penyakit yang menyerang paru. Anggapan ini sebenarnya tidak salah. Alfian menuturkan sebanyak 70 persen kasus TB global merupakan TBC paru. Namun perlu diketahui bahwa manifestasi TB tak hanya di paru tapi juga seluruh organ tubuh manusia. "Manifestasi di luar paru (TB ekstra paru) kerap tidak terlihat dan dirasakan sendiri oleh pasien. Wajar masyarakat tahunya TB paru karena TB paru kan ada batuk, jadi gejalanya kelihatan," imbuhnya. TB ekstra paru bisa menyerang kelenjar, ginjal, liver, sistem pencernaan termasuk usus, esofagus, payudara dan indung telur pada perempuan, bahkan skrotum pada laki-laki.
Baik Alfian dan Arief menegaskan TBC bisa sembuh dengan syarat pasien patuh akan regimen pengobatan. Kementerian Kesehatan mengangkat kampanye TOSS, Temukan Obati Sampai Sembuh. Pasien minimal menjalani 6 bulan pengobatan dengan mengikuti saran dokter.
Lama pengobatan TB bisa bervariasi tergantung organ yang terinfeksi. Umumnya, pengobatan minimal berlangsung selama 6 bulan. Namun, kata Alfian, pasien kerap berhenti mengonsumsi obat di bulan keempat karena tubuh sudah lebih nyaman dan gejala tidak timbul lagi. Padahal ini bisa menimbulkan masalah baru sebab ada risiko bakteri penyebab TB belum mati sepenuhnya. "Meski kecil, bakteri ada kemampuan bermutasi jadi lebih ganas. Yang paling ditakutkan ini kalau MDR, multi drugs resistance atau kemudian menjadi extended drug resistance (XDR)," katanya. Seperti tertulis di laman TB Indonesia, pasien dinyatakan TB MDR saat kebal terhadap dua jenis obat pokok TB (INH dan Rifampisin) dari total empat jenis obat atau kebal terhadap obat lini pertama lainnya. Sedangkan TB XDR saat pasien mengalami TB MDR disertai kekebalan terhadap obat anti TB lini kedua (golongan fluorokuinolon dan satu obat anti TB lini kedua berupa suntikan seperti kanamisin, amikasin atau kapreomisin). Dia menjelaskan saat pasien mengalami kekebalan maka pengobatan akan berlangsung lebih lama dan jumlah obat yang dikonsumsi akan jauh lebih banyak dari sebelumnya. Sangat disarankan pasien mengikuti langkah pengobatan yang sudah diberikan dokter. Kemudian hanya dokter yang berhak menyatakan pasien sudah boleh berhenti minum obat dan sembuh dari TB.
Meski harapan untuk sembuh sangat besar apalagi sudah terdapat obat-obatan penunjang, tidak jarang pasien menyerah di tengah jalan akibat efek samping obat. Beberapa pasien kerap mengeluh mengonsumsi obat dan menghadapi efek samping seperti mual, muntah, persendian linu, mata kuning, gatal-gatal. "Tidak semua pasien mengalami efek samping. Dari awal kami menjelaskan ke pasien, kalau ada efek samping, segera cek supaya diberikan obat untuk mengurangi efek samping," kata Arief.