Obat kombinasi terbaru bagi pengobatan HIV, jenis TLD, sudah masuk E-Katalog dengan harga Rp104.970 per botol untuk pengobatan selama 30 hari per pasien. Obat ARV (Anti Retro Viral) ini dengan sediaan kombinasi dosis tetap mengandung Tenofovir, Lamivudine, dan Dolutegravir (TLD).
Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana menyebutkan obat ini paling direkomendasikan WHO saat ini untuk pengobatan lini pertama terapi infeksi HIV. Demikian dinyatakan dalam siaran pers yang diterima PingPoint.co.id (15/6/2021).
Obat ini terbukti klinis memiliki tingkat efektivitas yang tinggi dan yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki efek samping yang sangat rendah. Harganya relatif paling terjangkau dibandingkan dengan obat ARV kombinasi kandungan lainnya.
Obat ARV jenis TLD ini dinanti banyak orang dengan HIV di Indonesia. Karena mereka sudah banyak mendengar berita baik mengenai obat ini dari hasil penelitian di banyak negara.
"Karena orang dengan HIV harus melakukan pengobatan secara rutin, ARV yang ramah pasien kami yakini akan menjadi kunci dalam meningkatkan tingkat kepatuhan dalam pengobatan sehingga dapat menurunkan angka kematian akibat AIDS. Juga dapat menurunkan angka penularan HIV," ujar Aditya.
Dia menambahkan, hadirnya obat ARV ini bisa terjadi karena banyaknya upaya advokasi yang dilakukan komunitas HIV.
Hal ini juga ditanggapi dengan baik oleh para pemegang kepentingan sehingga obat tersebut dapat diakses dengan harga yang tidak berbeda jauh dengan harga internasional.
"Harga internasional adalah US$ 5,50 sehingga tidak berbeda jauh dengan harga yang dibeli oleh pemerintah melalui e-katalog ini apabila di konversikan ke dollar Amerika sekitar $7. Harga beli yang murah dapat mengefektifkan ketersediaan anggaran karena dengan anggaran yang sudah ditetapkan dapat mengobati lebih banyak pasien," terangnya.
Apabila dikonsumsi secara rutin dan sesuai aturan, obat ARV terbukti klinis dapat menekan jumlah virus dalam tubuh sampai pada tingkat tidak terdeteksi. Pada tingkat tersebut, orang dengan HIV tidak akan menularkan HIV kepada pasangannya atau orang lain sehingga menurunkan tingkat penularan dan dapat mengurangi angka kematian akibat AIDS.
Laporan Kementerian Kesehatan terbaru menunjukkan, jumlah kasus HIV yang dilaporkan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2020 mengalami kenaikan tiap tahunnya.
Jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sampai dengan September 2020 sebanyak 409.857 kasus. Sebanyak 139.585 orang saat ini sedang mendapatkan pengobatan.
Sementara jumlah kasus AIDS relatif stabil setiap tahunnya, dengan akumulasi hingga Juni 2020 sebanyak 127.873 kasus. Saat ini kasus HIV/AIDS dilaporkan oleh 484 kabupaten/kota atau 94 persen dari keseluruhan kabupaten/kota di seluruh Indonesia.