Lewati ke konten utama
[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

Kembali ke Lembar Informasi
Referensi 14 Juni 2021

Melihat Potensi TBC di Indonesia Mengkhawatirkan, Batan Luncurkan TB SCAN

Cari Topik Ini

PIKIRAN RAKYAT – Sebuah laporan mencatat kasus TBC meningkat menjadi 3,36 juta kasus pada 2018 dari 2,6 juta kasus pada 2015 atau meningkat sekira 20 persen.

Tingkat keberhasilan pengobatan di antara pasien baru TBC yang sensitif terhadap obat juga mengalami peningkatan, yaitu dari 79 persen pada 2014 menjadi 83 persen pada 2017.

Perkiraan laju kematian akibat TBC mengalami penurunan secara stabil dari 758.000 pada 2015 menjadi 658.000 pada 2018.

Tuberculosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis dan dapat menyerang berbagai organ tubuh yang mengakibatkan kematian.

Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mendapatkan izin edar untuk produk radiofarmaka TB SCAN yang efektif digunakan sebagai diagnostik penyakit Tuberculosis (TB) baik di dalam maupun di luar organ paru-paru.

“TB SCAN adalah produk radiofarmaka yang merupakan hasil pengembangan kolaborasi antara Batan dengan berbagai pihak. Dan ini berguna untuk diagnosis TB, baik di paru-paru maupun di luar paru-paru,” kata Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan, dikutip dari laman Antara.

Kit Ethambutol digunakan untuk mendeteksi infeksi yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis di dalam dan di luar paru-paru jika ditandai dengan technetium-99m.

Nomor izin edar untuk TB SCAN diperoleh pada 22 Februari 2021 dari BPOM.

Dengan dikeluarkannya izin edar tersebut, diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi (IPTEK) Nuklir, khususnya di bidang kedokteran.

Kehadiran TB SCAN diharapkan mampu membantu Pemerintah dalam menangani penyakit TB. Diagnosis TB akan menjadi lebih efektif ketika TB SCAN dipergunakan di rumah sakit.

“Tentu ini membuktikan bahwa produk iptek nuklir bisa bermanfaat bagi masyarakat,” ucap Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan.

TB SCAN merupakan produk radiofarmaka keenam yang telah menerima izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Radiofarmaka merupakan senyawa kimia yang mengandung atom radioaktif dalam strukturnya dan digunakan untuk diagnosis atau terapi.

Mengingat, Indonesia merupakan negara ketiga dengan jumlah penderita TB terbanyak di dunia, setelah China, dan India. Maka dari itu, Batan bekerja sama dengan PT Kimia Farma untuk mendistribusikan TB SCAN dalam bentuk produk komersial.

Pengembangan TB SCAN dilakukan melalui sinergi triple helix yang melibatkan akademisi, dunia bisnis, dan pemerintah.

Sebanyak 845.000 penduduk Indonesia menderita TB pada 2018, sementara pada 2018, sebanyak 24.000 penduduk Indonesia sakit TB resistan obat dan sebanyak 93.000 penduduk Indonesia meninggal karena TB.

Sementara itu, keberhasilan pengobatan TB pada 2018 berada di angka 85 persen.

Pakar kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan kemajuan dalam penanganan penyakit Tuberkulosis (TBC) berpotensi mengalami kemunduran akibat pandemi Covid-19.***