info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

TUBERKULOSIS (TB)

04 Januari 2024 Infeksi Oportunistik

TUBERKULOSIS (TB)

Diperbarui 4 Januari 2024

 

Apa TB Itu?

Tuberkulosis (TB) adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (M.Tb). Biasanya, bakteri tersebut memengaruhi paru-paru, tetapi dapat memengaruhi bagian tubuh lainnya, termasuk perut, tulang, dan sistem saraf. TB adalah penyakit yang berat namun dapat disembuhkan.

TB merupakan penyebab utama penyakit dan kematian pada orang dengan HIV di seluruh dunia. Di Inggris, ini adalah salah satu penyakit yang paling umum terkait AIDS. Meskipun jumlah kasus TB secara keseluruhan di Eropa telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, kasus baru pada orang yang hidup dengan HIV meningkat antara tahun 2011 dan 2015. Menurut WHO, TB adalah penyebab kematian yang besar untuk orang dengan HIV di seluruh dunia.

Sistem kekebalan tubuh yang sehat biasanya dapat mencegah penyakit aktif. 

Nama tuberkulosis berasal dari tuberkel. Tuberkel adalah tonjolan kecil dan keras yang terbentuk sewaktu sistem kekebalan membangun tembok mengelilingi bakteri TB dalam paru. Infeksi ini disebut TB paru. Infeksi dapat menyebar dari paru ke ginjal, tulang belakang dan otak. Infeksi ini disebut TB luar paru. TB luar paru ditemukan pada orang yang sudah terinfeksi TB tetapi belum diobati. Orang dengan HIV yang tinggal di daerah rawan TB dapat mengembangkan TB luar paru.

 

Gejala TB

TB biasanya mempengaruhi paru-paru, menyebabkan gejala seperti:

  • Batuk berlangsung lebih dari tiga minggu (seringkali dengan dahak, yang mungkin mengandung darah)

  • Hilangnya nafsu makan

  • Penurunan berat badan

  • Kelelahan

  • Keringat malam

  • Demam

  • Pembengkakan di leher

  • Kesulitan bernapas yang memburuk dari waktu ke waktu.

Bakteri TB dapat menyebar ke bagian tubuh lain, menyebabkan gejala termasuk sakit kepala yang persisten, nyeri dan kaku pada sendi, kelenjar bengkak dalam waktu lama, kebingungan, dan nyeri perut. TB di luar paru lebih umum terjadi pada orang dengan jumlah sel CD4 rendah.

Tanpa pengobatan, TB adalah kondisi yang berpotensi mengancam jiwa.

TB aktif dapat menyebabkan peningkatan besar pada beban virus HIV pada orang yang tidak menjalani pengobatan HIV, yang biasanya menurun lagi setelah TB diobati dengan benar.

 

Penularan dan Pencegahan TB

Untuk orang yang tidak terinfeksi HIV, terdapat vaksin hidup untuk TB yang dikenal sebagai vaksin BCG. Vaksin ini hanya diberikan kepada orang di bawah usia 35 tahun, karena tidak efektif pada orang dewasa. 

TB menular melalui udara. Waktu seseorang dengan TB aktif pada paru batuk, bersin atau bicara, bakteri dapat keluar dari tubuh seseorang dan masuk ke saluran pernapasan orang lain. Sinar ultraviolet dalam cahaya matahari dapat mematikan TB. Ventilasi yang baik mengurangi risiko infeksi TB. Namun orang yang tinggal dekat dengan orang dengan TB aktif mudah terinfeksi. Hal ini terutama mungkin bila kita pada tahap infeksi HIV lanjut. Kita dapat terinfeksi TB pada jumlah CD4 berapa pun.

Penting untuk menghindari kontak dekat dengan orang yang memiliki TB aktif hingga mereka tidak menularkan. Jika Anda menganggap diri Anda telah terpajan TB, segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) dapat diberikan sebagai bagian dari upaya mencegah terjadinya TB aktif pada orang dengan HIV. Pada 2020, WHO merekomendasikan beberapa pilihan kombinasi untuk mencegah TB pada orang dengan HIV. Berikut adalah pilihan kombinasi yang dapat digunakan:

  • Isoniazid selama 6-9 bulan, atau

  • Rifampisin selama 4 bulan, atau

  • Rifampisin + Isoniazid selama 3 bulan, atau

  • Rifapentin+ Isoniazid selama 3 bulan (digunakan setiap minggu), atau

  • Rifapentin+ Isoniazid selama 1 bulan (digunakan setiap hari)

 

TB dan HIV: Pasangan yang Buruk

Banyak jenis virus dan bakteri hidup di tubuh kita. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat mengendalikan kuman ini agar mereka tidak menyebabkan penyakit. Jika HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh, kuman ini dapat mengakibatkan infeksi oportunistik (IO).

Angka TB pada orang dengan HIV lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi HIV. Angka TB di seluruh dunia juga meningkat karena HIV.

TB dapat merangsang HIV agar lebih cepat menggandakan diri, mengurangi jumlah CD4 dan memburukkan infeksi HIV. Karena itu, penting agar orang dengan HIV mencegah dan mengobati TB.

 

Bagaimana TB Didiagnosis pada orang dengan HIV?

Menurut Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Tuberkulosis (Kemenkes RI, 2020) penegakan diagnosis TBC pada orang dengan HIV perlu mempertimbangkan beberapa hal berikut:

 

1. Gambaran klinis

Pada orang dengan HIV adanya demam dan penurunan berat badan merupakan gejala yang penting dapat disertai dengan keluhan batuk berapapun lamanya. Tuberkulosis di luar paru perlu diwaspadai karena kejadiannya lebih sering dibandingkan TBC pada orang HIV negatif. Adanya tuberkulosis di luar paru pada orang dengan HIV merupakan tanda bahwa penyakitnya sudah lanjut.

2. Pemeriksaan sputum untuk batang tahan asam (BTA) dan tes cepat molekuler TB

Penegakan diagnosis TB pada pasien HIV secara klinis sulit dan pemeriksaan sputum untuk melihat adanya batang tahan asam lebih sering negatif sehingga diperlukan pemeriksaan dengan menggunakan tes cepat molekuler TB. Saat ini, diagnosis utama yang digunakan untuk penegakan diagnosis TBC adalah dengan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM).

3. Pemeriksaan bakteriologis dan uji kepekaan obat anti TB (OAT)

Jika fasilitas pelayanan kesehatan mengalami kendala mengakses layanan TCM berupa kesulitan transportasi, jarak dan kendala geografis maka penegakan diagnosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan lain. Pemeriksaan bakteriologis merujuk pada pemeriksaan apusan dari sediaan biologis (dahak atau spesimen lain), pemeriksaan mikroskopis dan identifikasi M. tuberkulosis atau metode diagnostik cepat yang telah mendapat rekomendasi WHO. Metode pemeriksaan mikroskopis memiliki sensitivitas yang rendah dan tidak mampu dalam menentukan kepekaan obat. 

Saat ini di Indonesia sudah tersedia Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan Xpert MTB/RIF yang dapat mengidentifikasi keberadaan bakteri TB  dan resistansi terhadap rifampisin secara simultan, sehingga inisiasi dini terapi yang akurat dapat diberikan dan dapat mengurangi insiden TB secara umum. Hasil penelitian skala besar menunjukkan bahwa pemeriksaan TCM dengan Xpert MTB/RIF memiliki sensitivitas dan spesifisitas untuk diagnosis TB yang jauh lebih baik dibandingkan pemeriksaan mikroskopis serta mendekati kualitas diagnosis dengan pemeriksaan biakan.

4. Foto toraks

Gambaran foto toraks TB pada pasien HIV stadium awal dapat menyerupai gambaran foto toraks TB pada umumnya, namun pada HIV lanjut gambaran foto toraks sangat tidak spesifik dan dapat ditemukan gambaran TB milier. Pemeriksaan foto toraks pada ODHIV merupakan pemeriksaan rutin untuk deteksi dini TB. Pada orang dengan HIV terduga TBC, pemeriksaan foto toraks dilakukan sejak awal bersamaan dengan pemeriksaan TCM TB.

5. Lipoarabinomannan (LAM)

Lipoarabinomannan (LAM) adalah glikolipid yang terdapat pada dinding sel semua spesies mikobakteri. Pemeriksaan TBC-LAM AG lateral flow assay (LF-LAM) mendeteksi LAM di urin pasien HIV. Pemeriksaan ini direkomendasikan WHO untuk mendiagnosis TBC pada pasien HIV rawat inap dengan kadar CD4 ≤ 100 sel/ml dan pada pasien yang sakit berat.

 

Bagaimana TB Diobati?

Prinsip tata laksana pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV sama seperti pasien TB tanpa HIV. Obat TB pada pasien HIV sama efektifnya dengan pasien TB tanpa HIV. Pada koinfeksi TB-HIV sering ditemukan infeksi hepatitis sehingga mudah terjadi efek samping obat yang bersifat hepatotoksik.

Dosis obat anti TB (OAT) dianjurkan dalam kombinasi dosis tetap (KDT). Prinsip pengobatan pasien TB-HIV mendahulukan pengobatan TB. Pengobatan ARV dimulai sesegera mungkin setelah OAT dapat ditoleransi dalam 2-8 minggu pengobatan fase awal tanpa mempertimbangkan nilai CD4.

Apabila nilai CD4 kurang dari 50 sel/mm3, maka pemberian ARV dapat dimulai pada 2 minggu pertama pemberian OAT fase awal dengan pemantauan, sedangkan pada TB meningitis pemberian ARV diberikan setelah fase intensif selesai. Pada pemberian OAT dan ARV perlu diperhatikan interaksi obat, tumpang tindih efek samping obat, sindrom pulih imun (SPI) atau immune-reconstitution inflammatory syndrome (IRIS) dan masalah kepatuhan pengobatan.

TB aktif diobati dengan kombinasi antibiotik. Pengobatan yang berhasil biasanya memerlukan setidaknya enam bulan terapi, tanpa melewatkan dosis. Seperti pengobatan HIV, sangat penting bahwa pengobatan TB digunakan sesuai anjuran. 

Seseorang yang menggunakan pengobatan TB seharusnya tidak lagi menularkan penyakit setelah dua minggu pengobatan, tetapi penting untuk melanjutkan pengobatan hingga selesai. Pastikan kepatuhan terhadap pengobatan tetap dipertahankan.

Seperti HIV, kuman TB dapat mengembangkan resistensi terhadap obat-obatan, dan beberapa jenis dapat menjadi resistan terhadap beberapa obat yang berbeda. Jenis yang resistan ini dapat menyebabkan penyakit serius yang disebut tuberkulosis resisten multidrug (MDR-TB), dan dapat ditularkan kepada orang lain. MDR-TB biasanya dapat diobati dengan berhasil setelah mengidentifikasi obat-obatan mana yang masih efektif. Beberapa jenis TB resistan tidak hanya terhadap obat lini pertama, tetapi juga terhadap banyak obat lini kedua. Ini disebut tuberkulosis resisten obat secara luas (XDR-TB), dan banyak kasus yang terlihat sejauh ini terjadi pada orang yang hidup dengan HIV. Metode pencegahan umum dapat mengurangi risiko MDR-TB dan XDR-TB.

Diperlukan perawatan ekstra jika menggunakan pengobatan TB dan HIV secara bersamaan.

Pertama, beberapa obat anti-HIV dapat berinteraksi dengan obat anti-TB. Ada pilihan obat anti-HIV yang efektif lainnya yang dapat Anda gunakan sebagai penggantinya.

Dokter kadang-kadang merekomendasikan pengobatan menggunakan sesuatu yang disebut DOTS (singkatan dari Directly Observed Therapy, Short-course) Ini berarti seseorang dapat menjalani pengobatan di rumah sakit atau fasilitas lain di mana tenaga medis dapat memastikan obat Anda diminum pada waktu yang tepat dan untuk seluruh durasi pengobatan. Hal ini membantu memastikan pengobatan bekerja seefektif mungkin.

 

Diperbarui 4 Januari 2024

Sumber:

  1. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Tuberkulosis. Kemenkes, 2020.

  2. Tuberculosis and HIV. https://www.aidsmap.com/about-hiv/tuberculosis-and-hiv