info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

HERPES ZOSTER

10 Januari 2024 Infeksi Oportunistik

HERPES ZOSTER

Ditinjau kembali 10 Januari 2024

 

Apa Herpes Zoster Itu?

Herpes zoster (Shingles) adalah suatu penyakit yang membuat sangat nyeri (rasa sakit yang amat sangat). Penyakit ini juga disebabkan oleh virus herpes yang juga mengakibatkan cacar air (virus varisela zoster). Seperti virus herpes yang lain, virus varisela zoster mempunyai tahapan penularan awal (cacar air) yang diikuti oleh suatu tahapan tidak aktif. Kemudian, tanpa alasan virus ini jadi aktif kembali, menjadikan penyakit yang disebut sebagai herpes zoster. Kurang lebih 20% orang yang pernah cacar air lambat laun akan mengembangkan herpes zoster. Keaktifan kembali virus ini kemungkinan akan terjadi pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah. Ini termasuk orang terinfeksi HIV, dan orang di atas usia 50 tahun.

Herpes zoster hidup dalam jaringan saraf. Kejangkitan herpes zoster dimulai dengan rasa gatal, mati rasa, kesemutan atau rasa nyeri yang berat pada daerah bentuk tali lebar di dada, punggung, atau hidung dan mata. Walaupun jarang, herpes zoster dapat menular pada saraf wajah dan mata. Ini dapat menyebabkan jangkitan di sekitar mulut, pada wajah, leher dan kulit kepala, dalam dan sekitar telinga, atau pada ujung hidung.

Jangkitan herpes zoster hampir selalu terjadi hanya pada satu sisi tubuh. Setelah beberapa hari, ruam muncul pada daerah kulit yang berhubungan dengan saraf yang meradang. Lepuh kecil terbentuk, dan berisi cairan. Kemudian lepuh pecah dan berkeropang. Jika luka digaruk dan menjadi luka terbuka, maka infeksi kulit mungkin dapat berkembang. Dalam kasus ini, pengobatan dengan antibiotik mungkin diperlukan. Luka yang telah kering dapat menyebabkan bekas luka.

Biasanya, ruam hilang dalam beberapa minggu, tetapi kadang-kadang rasa nyeri yang berat dapat bertahan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Kondisi ini disebut “neuralgia pascaherpes”.

 

Herpes Zoster dan HIV

Herpes zoster bukan salah satu infeksi yang mendefinisikan AIDS. Herpes zoster dapat terjadi pada orang dengan HIV pada awal setelah mereka mulai memakai terapi antiretroviral (ART). Kasus herpes zoster ini mungkin diakibatkan pemulihan pada sistem kekebalan tubuh. Studi terbaru menemukan bahwa jumlah CD4 di bawah 500 dan viral load terdeteksi merupakan faktor risiko untuk herpes zoster pada orang dengan HIV.

HIV meningkatkan risiko kerumitan akibat herpes zoster. Kerumitan ini termasuk rasa nyeri (neuralgia pascaherpes). Juga bila kita mengalami penglihatan yang kabur, langsung lapor ke dokter. Seiring dengan penambahan usia, kita juga semakin mungkin mengembangkan herpes zoster. 

 

Bagaimana Herpes Zoster Menular?

Herpes zoster hanya dapat terjadi setelah kita mengalami cacar air. Jika kita sudah menderita cacar air dan kita berhubungan dengan cairan dari luka herpes zoster, kita tidak dapat ‘tertular’ herpes zoster. Namun, orang yang belum mengalami cacar air dapat terinfeksi herpes zoster dan mengembangkan cacar air. Jadi kita yang belum terinfeksi harus menghindari kontak dengan luka herpes zoster atau dengan permukaan yang mungkin sudah menyentuh ruam atau lepuh herpes zoster.

 

Bagaimana Herpes Zoster Diobati?

Beberapa obat digunakan untuk mengobati herpes zoster. Obat-obatan ini termasuk obat anti-herpes dan beberapa obat untuk mengobati rasa sakit.

Obat antivirus: Pengobatan standar untuk herpes zoster adalah dengan asiklovir, yang dapat diberikan dalam bentuk pil atau secara intravena (infus) untuk kasus yang lebih berat.

Dua obat yang baru telah disetujui untuk pengobatan herpes zoster: famsiklovir dan valasiklovir. Obat ini diminum tiga kali sehari, dibanding dengan asiklovir yang diminum lima kali sehari. Semua obat ini paling berhasil apabila dimulai dalam tiga hari pertama setelah rasa nyeri herpes zoster mulai terasa.

Penghambat saraf (nerve blockers): Dokter sering meresepkan berbagai obat penawar nyeri untuk orang dengan herpes zoster. Karena rasa nyeri herpes zoster dapat begitu hebat, peneliti mencari cara untuk menghambat rasa nyeri tersebut. Suntikan obat bius dan/atau steroid sedang diteliti sebagai penghambat saraf. Obat tersebut dapat disuntikkan pada saraf perifer atau pada sumsum tulang punggung (susunan saraf pusat).

Pengobatan kulit: Beberapa jenis krim, gel dan semprotan sedang diteliti. Obat ini memberi keringanan sementara pada rasa sakit. Capsaicin, senyawa kimia yang membuat rasa pedas pada cabe, tampaknya berhasil baik. Tambahannya, pada 1999, obat bius lidokain dalam bentuk tempelan disetujui di AS. Di Indonesia sendiri juga saat ini sudah tersedia koyo yang mengandung lidokain. Koyo ini dapat meringankan rasa nyeri pada beberapa orang dengan herpes zoster. Karena ditempatkan pada kulit, risiko efek samping obat ini lebih rendah dibanding dengan obat penawar nyeri dengan bentuk pil. Qutenza adalah pengobatan kulit yang baru. Obat ini adalah bentuk capsaicin yang sangat dipekatkan. Obat dioleskan di klinik dokter selama 60 menit, dan dapat meringankan rasa nyeri selama tiga bulan.

Obat penawar nyeri lain: Beberapa obat yang biasanya dipakai untuk mengobati depresi, epilepsi dan rasa sakit yang berat kadang kala dipakai untuk nyeri herpes zoster. Obat tersebut dapat menimbulkan berbagai efek samping. Nortriptilin adalah obat antidepresi yang paling umum dipakai untuk nyeri herpes zoster. Pregabalin adalah obat antiepilepsi yang juga dipakai untuk rasa nyeri setelah herpes zoster.

 

Dapatkah Herpes Zoster Dicegah?

Shingrix (Zoster Vaccine Recombinant or RZV) was FDA approved in 2017 and in 2018 ACIP recommended it over Zostavax. The Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) has not made recommendations for people with HIV due to limited data.

Saat ini, belum ada cara untuk meramalkan jangkitan herpes zoster. Penelitian menunjukkan bahwa memberi vaksinasi pada orang yang lebih tua dengan vaksin cacar air yang lebih kuat daripada yang biasa dipakai untuk anak dapat meningkatkan jenis kekebalan yang dianggap perlu untuk melawan virus.

Di Indonesia sendiri, para ahli menyarankan bahwa memiliki jumlah CD4 di bawah 200 merupakan keadaan kontraindikasi untuk pemberian vaksin zoster. Oleh karenanya penggunaan ARV untuk menekan jumlah virus dan meningkatkan jumlah CD4 disarankan untuk orang dengan HIV.

 

Ditinjau kembali 10 Januari 2024