[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

TIPRANAVIR

30 September 2014 Terapi Antiretroviral

Apa Tipranavir Itu?

Tipranavir  adalah obat yang dipakai sebagai bagian dari terapi antiretroviral (ART).  Obat ini juga dikenal  sebagai Aptivus. Tipranavir  dibuat oleh Boehringer Ingelheim. Tipranavir belum tersedia  dalam  versi generik.  Saat ini tipranavir belum tersedia secara umum di Indonesia.

Tipranavir  adalah protease  inhibitor. Obat golongan  ini mencegah  pekerjaan enzim protease. Protease HIV bertindak seperti gunting kimia. Enzim ini memotong bahan baku HIV menjadi potongan khusus yang dibutuhkan untuk membangun  virus baru. Protease  inhibitor merusak gunting ini.

Siapa Sebaiknya Memakai Tipranavir?

Tipranavir  disetujui di AS pada 2005 sebagai obat antiretroviral (ARV) untuk orang terinfeksi  HIV yang pernah memakai ART sebelumnya. Tipranavir belum diteliti pada orang yang baru mulai ART. Tipranavir  yang dikuatkan  dengan ritonavir seharusnya  tidak dipakai sebagai bagian dari rejimen ART pertama.

Tidak ada pedoman tetap tentang kapan sebaiknya mulai memakai ART. Kita dan dokter harus mempertimbangkan  jumlah CD4, viral load, gejala yang kita alami, dan sikap kita terhadap penggunaan ART. Lembaran  Informasi  (LI) 404 memberi informasi lebih lanjut tentang pedoman penggunaan ART.

Jika kita memakai  tipranavir  dengan ARV lain, kita dapat mengurangi  viral load kita sampai  tingkat  yang  sangat rendah dan meningkatkan  jumlah CD4 kita. Hal ini seharusnya berarti kita lebih sehat untuk waktu lebih lama.

Bagaimana dengan Resistansi terhadap Obat?

Waktu HIV menggandakan diri, sebagian dari bibit HIV baru menjadi sedikit berbeda dengan aslinya. Jenis berbeda ini disebut mutan. Kebanyakan mutan langsung mati, tetapi beberapa di antaranya terus menggandakan diri, walaupun kita tetap memakai ART – mutan tersebut ternyata kebal terhadap obat. Jika ini terjadi, obat tidak bekerja  lagi.  Hal  ini disebut  sebagai ‘mengembangkan resistansi’ terhadap obat tersebut.  Lihat LI 126 untuk informasi lebih lanjut tentang resistansi.

Kadang kala, jika virus kita mengembangkan resistansi terhadap satu macam obat, virus juga menjadi resistan terhadap ARV lain. Ini disebut ‘resistansi silang’ atau ‘cross resistance’ terhadap obat atau golongan obat lain.

Resistansi dapat segera berkembang. Sangat penting memakai ARV sesuai dengan  petunjuk  dan jadwal,  serta tidak melewati atau mengurangi dosis. Tipranavir dikembangkan secara khusus untuk mengendalikan  HIV yang sudah resistan terhadap protease inhibitor lain. Oleh karena itu, kemungkinan tipranavir akan  menunjukkan  resistansi  silang dengan  protease  inhibitor  lain adalah rendah.

Bagaimana Tipranavir Dipakai?

Tipranavir dipakai sebagai kapsul lunak. Takaran normal untuk orang dewasa adalah 500mg plus ritonavir 200mg dengan  dosis  dua kali sehari.  Kapsul mengandung 250mg, jadi kita harus memakai dua tablet tipranavir  plus dua kapsul  ritonavir  dua kali sehari.  Pada 2008, tipranavir dalam bentuk sirop disetujui di AS untuk orang dewasa dan anak berusia di atas dua tahun.

Tipranavir  harus dipakai dengan ma- kanan. Dengan cara ini, tingkat tiprana- vir dalam darah menjadi  cukup tinggi. Makanan yang kaya lemak dapat meningkatkan tingkat tipranavir dalam darah.

Sebelum dibuka, botol tipranavir harus disimpan  dalam kulkas. Setelah botol dibuka,  kapsul  dapat  disimpan  pada suhu ruang selama sampai 60 hari.

Apa Efek Samping Tipranavir?

Efek samping yang paling umum yang diakibatkan oleh tipranavir termasuk diare, mual, muntah, sakit perut, kelelahan dan sakit kepala. Perempuan yang memakai pil KB dapat mengalami ruam kulit.

Tipranavir dapat memburukkan  masalah hati. Pasien dengan hepatitis B atau hepatitis  C yang  memakai  tipranavir sebaiknya dipantau dengan hati-hati. Beberapa orang yang memakai tipranavir mengembangkan  hepatitis,  yang dapat menyebabkan kegagalan hati, walau jarang.

Kurang  lebih  10% pasien  mengem- bangkan ruam kulit atau kulit yang peka terhadap cahaya matahari,  kadang kala dengan sakit sendi atau pegal, gatal-gatal, dan sesak pada tenggorok.

Tipranavir dapat menyebabkan peningkatan besar pada tingkat kolesterol  dan trigliserida  (lemak dalam darah). Lihat LI 123 untuk informasi mengenai lemak darah. Hal ini sedikitnya didorong oleh ritonavir yang dipakai bersama dengan tipranavir.  Tingkat  lemak  darah  yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Pastikan tingkat lemak dalam darah diukur sebelum kita mulai pakai tipranavir, dan kemudian secara berkala. Pada 2006 beberapa kasus perdarahan dalam dilaporkan pada pasien yang memakai tipranavir. Beberapa kasus mengakibatkan kematian. Kita harus memberi tahu dokter bila kita mempunyai kelainan perdarahan. Tipranavir adalah obat sulfa. Bila kita alergi terhadap obat sulfa, pastikan hal ini diketahui oleh dokter.

Bagaimana Tipranavir Berinteraksi dengan Obat Lain?

Tipranavir  dapat berinteraksi  dengan obat lain, suplemen atau jamu yang kita pakai – lihat LI 407. Interaksi ini dapat mengubah jumlah masing-masing obat yang masuk ke aliran darah kita dan mengakibatkan  overdosis  atau dosis rendah. Interaksi baru terus-menerus diketahui.

Tipranavir menurunkan tingkat lopinavir (dalam Kaletra/Aluvia – lihat LI 446) dalam darah. Tipranavir tidak boleh dipakai bersamaan dengan Kaletra/Aluvia.

Obat lain yang harus diperhatikan termasuk ARV lain, obat yang dipakai untuk mengobati TB (lihat LI 515), obat untuk disfungsi ereksi (mis. Viagra), obat yang mengendalikan denyut jantung (anti- aritmia), dan obat sakit kepala migran. Interaksi juga dapat terjadi dengan beberapa  antihistamin  (obat antialergi), sedatif, obat untuk mengurangi kolesterol, dan obat antijamur. Pastikan dokter tahu SEMUA obat, suplemen dan jamu yang kita pakai.

Tipranavir meningkatkan tingkat midazolam (sejenis obat sedatif) dalam darah. Obat ini tidak boleh dipakai bersamaan dengan tipranavir kecuali dipantau dengan seksama.

Beberapa pil KB mungkin tidak bekerja bila dipakai bersamaan dengan tipranavir. Membahas cara KB yang terbaik untuk kita dengan dokter.

Tipranavir  menurunkan  tingkat metadon dalam darah. Waspadai tanda sedasi (penenang) berlebihan bila dipakai tipra- navir bersamaan dengan buprenorfin.

Jamu St. John’s Wort (lihat LI 729) menurunkan  tingkat beberapa  protease inhibitor dalam darah. Jangan memakai jamu ini bersamaan dengan tipranavir.

 

Ditinjau 9 Desember 2014 berdasarkan FS 449 The AIDS InfoNet 30 September 2014

Diterbitkan oleh Yayasan Spiritia, Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Jakarta 10560. Tel: (021) 422-5163/8 E-mail: [email protected].id Situs web: http://spiritia.or.id/

Semua informasi ini sekadar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sebelum melaksanakan suatu pengobatan sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter. Seri Lembaran Informasi ini berdasarkan terbitan The AIDS InfoNet. Lihat http:// www.aidsinfonet.org