[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

LOPINAVIR/RITONAVIR

04 Februari 2014 Terapi Antiretroviral

Apa Lopinavir/ritonavir Itu?

Lopinavir adalah obat yang dipakai sebagai bagian dari terapi antiretroviral (ART). Obat ini dibuat oleh Abbott Laboratories. Lopinavir adalah protease inhibitor. Tingkat lopinavir dalam darah lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama bila dipakai bersama dengan ritonavir, sebuah protease inhibitor lain. Lihat Lembaran Informasi (LI) 442 untuk informasi lebih lanjut mengenai ritonavir. Saat ini lopinavir hanya dipakai dalam kombinasi dengan ritonavir. Kombinasi ini biasa disebut sebagai lopinavir/r atau LPV/r. Kaletra adalah nama pasaran kombinasi tersebut dalam satu pil. Ada versi Kaletra  yang dipasarkan  di negara ber- kembang sebagai Aluvia.

Obat golongan ini mencegah pekerjaan enzim protease. Protease HIV bertindak seperti gunting kimia. Enzim ini memotong bahan baku HIV menjadi potongan khusus yang dibutuhkan untuk membentuk virus baru. Protease inhibitor merusak gunting ini.

Siapa Sebaiknya Memakai Lopinavir/r?

Lopinavir/r (Kaletra) disetujui di AS pada 2000 sebagai  obat antiretroviral  (ARV) untuk orang terinfeksi HIV. Obat ini diujicobakan pada orang dewasa dan anak. Pada 2008, obat ini disetujui untuk dipakai oleh anak berusia 14 hari ke atas.

Tidak ada pedoman tetap tentang kapan sebaiknya mulai memakai ART. Kita dan dokter harus mempertimbangkan  jumlah CD4, viral load, gejala yang kita alami, dan sikap kita terhadap penggunaan ART. Lembaran Informasi (LI) 404 memberi informasi lebih lanjut tentang pedoman penggunaan ART. Catatan: Pedoman Nasional ART mengusulkan  penggunaan  Aluvia sebagai salah satu obat dalam rejimen lini kedua di Indonesia.

Jika kita memakai lopinavir/r dengan ARV lain, kita dapat mengurangi viral load kita pada tingkat yang sangat rendah dan meningkatkan  jumlah CD4 kita. Hal ini seharusnya berarti kita lebih sehat untuk waktu lebih lama.

Bagaimana dengan Resistansi terhadap Obat?

Waktu HIV menggandakan diri, sebagian dari bibit HIV baru menjadi sedikit berbeda dengan aslinya. Jenis berbeda ini disebut mutan. Kebanyakan mutan langsung mati, tetapi beberapa di antaranya terus menggandakan diri, walaupun kita tetap memakai ART – mutan tersebut ternyata kebal terhadap obat. Jika ini terjadi, obat tidak bekerja  lagi.  Hal  ini  disebut  sebagai ‘mengembangkan resistansi’ terhadap obat tersebut. Lihat LI 126 untuk informasi lebih lanjut tentang resistansi.

Kadang kala, jika virus kita mengem- bangkan resistansi terhadap satu macam obat, virus juga menjadi resistan terhadap ARV lain. Ini disebut ‘resistansi silang’ atau ‘cross  resistance’  terhadap  obat  atau  golongan obat lain.

Lopinavir/r  menimbulkan  tingkat obat dalam darah yang cukup tinggi untuk mengendalikan  HIV yang sudah menjadi resistan terhadap protease inhibitor lain.

Resistansi dapat segera berkembang. Sangat  penting  memakai ARV sesuai dengan petunjuk dan jadwal, serta tidak melupakan atau mengurangi dosis.

Bagaimana Lopinavir/r Dipakai?

Tablet Kaletra/Aluvia yang dilapisi disetujui pada Oktober 2005 untuk mengganti bentuk kapsul sebelumnya. Tablet ini berisi 200mg lopinavir dan 50mg ritonavir. Dosis normal adalah dua tablet dua kali sehari, atau empat tablet sekali sehari untuk Odha dengan HIV yang tidak menjadi resistan secara bermakna pada lopinavir/r. Tablet Kaletra dapat dipakai dengan atau tanpa makan.

Pada November 2007, FDA AS menyetujui tablet dosis separuh untuk anak. Tablet ini berisi 100mg lopinavir dan 25mg ritonavir. Takaran Kaletra untuk anak tergantung pada berat badan anak. Tablet Kaletra tidak boleh dihancurkan,  dipatah atau dikunyah. Hal ini dapat menyebabkan tingkat obat yang rendah dalam darah.

Kaletra juga tersedia dengan bentuk sirop. Takaran biasa untuk dewasa adalah 5ml dua kali sehari. Sirop Kaletra harus dipakai dengan makanan. Takaran  yang  berbeda  dipakai  dalam kombinasi tertentu dengan obat lain. Kita harus yakin kita tahu takaran lopinavir/r yang harus kita pakai, kapan harus dipakai dan aturan lain. Tablet Kaletra/Aluvia dapat disimpan pada suhu ruang. Sirop Kaletra dapat disimpan dalam kulkas atau disimpan pada suhu ruang sampai dengan dua bulan.

Apa Efek Samping Lopinavir/r?

Efek samping paling umum lopinavir/r adalah diare, kelelahan, sakit kepala, dan mual. Ini semua tampaknya  tidak begitu berat. Lopinavir/r dapat meningkatkan tingkat lemak (kolesterol dan trigliserida) dalam darah. Tingkat lemak yang tinggi dalam darah dapat meningkatkan  risiko masalah jantung dan pankreas. Lopinavir/r baru-baru  ini diketahui  mengakibatkan perubahan pada denyut jantung. Pastikan dokter tahu bila kita mengalami masalah apa pun dengan jantung.

Bagaimana Lopinavir/r Berinteraksi dengan Obat Lain?

Lopinavir/r diuraikan oleh hati dan dapat berinteraksi  dengan obat lain yang juga diuraikan  oleh hati. Memakai  obat ini sekaligus dapat mengubah tingkat masing-masing obat dalam aliran darah kita dan mengakibatkan overdosis atau dosis rendah. Interaksi  baru terus-menerus diketahui. Pastikan dokter tahu SEMUA obat, suplemen dan jamu yang kita pakai. Obat yang harus diperhatikan termasuk ARV lain, obat yang dipakai untuk mengobati TB (lihat LI 515), obat untuk disfungsi ereksi  (mis. Viagra),  obat  yang  mengendalikan denyut jantung (antiaritmia), dan obat sakit kepala migran. Interaksi juga dapat terjadi dengan beberapa antihistamin (obat antialergi), sedatif, obat untuk mengurangi kolesterol, obat antijamur, dan obat yang mengubah denyut jantung.

Jika kita memakai lopinavir/r versi sirop bersamaan dengan ddI, kita harus memakai ddI satu jam sebelum atau dua jam setelah memakai lopinavir/r.  Tidak ada masalah memakai Kaletra/Aluvia bentuk tablet dengan ddI.

Bila kita memakai obat antiasam (mis. Mylanta), kita sebaiknya memakai lopina- vir/r satu jam sebelum atau sesudahnya. Lopinavir/r mengurangi tingkat metadon dalam darah. Takaran metadon mungkin harus disesuaikan  jika dipakai  bersama dengan  lopinavir/r.  Lihat  LI 541 untuk informasi lebih lanjut mengenai metadon. Perhatikan gejala sedasi (penenang)  berlebihan bila obat ini dipakai bersama dengan buprenorfin.

Nelfinavir mengurangi tingkat lopinavir/r dalam darah. Takaran lopinavir/r mungkin harus ditingkatkan bila kita juga memakai nelfinavir, terutama bila virus kita sebagian resistan terhadap protease inhibitor. Lihat LI 444 untuk informasi lebih lanjut mengenai nelfinavir.

Beberapa pil KB mungkin tidak bekerja jika kita memakai lopinavir/r. Bahas dengan dokter tentang bagaimana mencegah keha- milan yang tidak direncanakan.

Jamu  St. John’s  Wort  (lihat  LI 729) menurunkan tingkat beberapa jenis protease inhibitor dalam darah.

Lopinavir/r  menurunkan  tingkat lamotrigin dalam darah. Obat ini dipakai untuk mengobati epilepsi dan neuropati. Takaran lamotrigin yang lebih tinggi mungkin dibutuhkan.

Lopinavir/r meningkatkan tingkat midazolam dalam darah. Obat ini tidak boleh dipakai bersamaan tanpa pemantauan ketat.

 

Ditinjau 7 Februari 2014 berdasarkan FS 446 The AIDS InfoNet 4 Februari 2014

Diterbitkan oleh Yayasan Spiritia, Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Jakarta 10560. Tel: (021) 422-5163/8 E-mail: [email protected].id Situs web: http://spiritia.or.id/

Semua informasi ini sekadar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sebelum melaksanakan suatu pengobatan sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.

Seri Lembaran Informasi ini berdasarkan terbitan The AIDS InfoNet. Lihat http:// www.aidsinfonet.org