Apakah HIV Berpengaruh pada Perempuan secara Berbeda?
Saat ini, hanya ada sedikit penelitian yang secara khusus membidik pada perempuan dengan HIV. Belum ada bukti bahwa HIV secara klinis lebih buruk pada perempuan. Namun beberapa penelitian memberi kesan bahwa HIV dapat beroengaruh pada perempuan secara berbeda dibandingkan laki-laki.
Perbedaan, jika ada, mungkin disebab- kan perbedaan fisik, sosial atau psikologis. HIV dapat berpengaruh pada:
y hormon
y berat dan bentuk badan
y sistem reproduksi
y haid dan mati haid
y gaya hidup dan keadaan sosial
Sering kali, perempuan HIV-positif harus merawat pasangan dan/atau anak yang terinfeksi HIV, atau mempunyai anak yang tergantung padanya.
Ada bukti bahwa viral load pada perem- puan lebih rendah daripada laki-laki, terutama pada tahun-tahun pertama setelah terinfeksi. Namun tampaknya gerak laju HIV berjalan serupa dengan laki-laki. Pedoman pengobatan untuk laki-laki dapat dipakai untuk perempuan. Perempuan yang terinfeksi HIV tam- paknya mengalami masalah tulang yang lebih berat – lihat LI 557.
Gangguan Haid
Gangguan haid agak umum, tidak memandang status HIV-nya. Jika kita mengalami gangguan haid, penting diingat bahwa HIV atau pengobatan HIV tidak tentu penyebabnya. Sering kali gangguan tersebut diakibatkan perubahan hormon yang terjadi secara alami pada sebagian besar perempuan. Namun HIV dan ART dapat berpengaruh pada siklus haid. Lihat LI 623 untuk informasi lebih lanjut mengenai masalah haid.
Infeksi Oportunistik pada Perempuan
y Perempuan dengan HIV mengalami infeksi vagina, ulkus kelamin, penyakit radang panggul (pelvic inflammatory disease/PID) dan kutil kelamin lebih sering dan lebih berat daripada perem- puan yang tidak terinfeksi HIV.
y Perempuan jarang mengalami sarkoma Kaposi (lihat LI 508).
y Perempuan lebih sering mengalami kandidiasis (lihat LI 516) pada teng- gorokan dan herpes simpleks (lihat LI 519) dibandingkan dengan laki-laki.
y Tipe sel prakanker yang tidak normal terkait dengan kanker leher rahim lebih sering terjadi dan menjadi lebih berat pada perempuan yang terinfeksi HIV (lihat LI 507).
Pengobatan untuk Perempuan
Perempuan sebaiknya ditangani oleh dokter yang mengerti bahwa penyakit HIV dan penatalaksanaannya dapat berbeda pada perempuan. Perempuan dengan HIV yang hamil sebaiknya diobati oleh dokter kandungan yang berpengetahuan mengenai HIV (lihat LI 611).
Perempuan sering mempunyai tugas yang berat di rumah tangga, dan mungkin juga harus mengasuh anak dengan HIV. Hal ini dapat berpengaruh pada kepatuhan (lihat LI 405), dan mungkin perempuan membutuhkan lebih banyak dukungan untuk memastikan mereka memakai obat sesuai jadwal tanpa kelupaan.
Efek Samping ART pada Perempuan
Rata-rata berat badan perempuan lebih ringan dibandingkan laki-laki, dan mungkin juga metabolisme berbeda. Hal ini mungkin memburukkan efek samping ART pada perempuan.
y Perempuan lebih mungkin mengalami ruam dan masalah hati akibat peng- gunaan nevirapine (lihat LI 431).
y Perempuan yang mengalami pening- katan atau kehilangan lemak (lipo- distrofi, lihat LI 553) dapat mengalami pertambahan lemak pada perut dan payudara, dan/atau kehilangan lemak dari lengan, kaki dan bokong.
Apakah Gangguan Haid Dapat Terkait dengan ART?
Banyak perempuan melaporkan peru- bahan pada siklus haid setelah mulai ART. Obat antiretroviral (ARV) termasuk AZT, ddI, dan d4T diketahui menye- babkan gangguan haid pada beberapa perempuan.
Penelitian baru menunjukkan bahwa gangguan haid, terutama perdarahan di atas normal, mungkin adalah efek samping dari beberapa protease inhibitor, misalnya ritonavir. Adalah penting untuk menangani perdarahan yang luar biasa, karena ini dapat menyebabkan anemia (lihat LI 552).
Masalah Khusus terkait KB
Perempuan dengan HIV sering me- makai pil KB untuk mengatur siklus haid atau waktu masuk masa mati haid. Banyak ARV dapat berinteraksi dengan sebagian besar jenis pil KB. Jika dipakai sekaligus, keefektifan pil KB dapat berkurang. Tanyakan pada dokter apakah perlu mengubah dosis pil KB-nya waktu mulai ART, atau menggantikannya dengan cara KB lain, misalnya kondom.
Garis Dasar
HIV berpengaruh pada perempuan se- cara berbeda dengan laki-laki. Ini karena beberapa perbedaan antara perempuan dan laki-laki, baik fisik, sosial dan mental. Perempuan dengan HIV sebaiknya ditangani oleh dokter yang berpenge- tahuan dan berpengalaman dengan HIV pada perempuan.
Perempuan dengan HIV sering meng- alami gangguan haid. Bila ini terjadi, coba membahas dengan dokter.
Infeksi oportunistik yang dialami oleh perempuan dapat lain daripada yang dialami laki-laki. Juga ada perbedaan dalam prevalensi dan beratnya efek samping obat, termasuk ARV.
Ditinjau 9 Desember 2014 berdasarkan FS 610 The AIDS InfoNet 30 November 2014 dan beberapa sumber lain
Diterbitkan oleh Yayasan Spiritia, Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Jakarta 10560. Tel: (021) 422-5163/8 E-mail: [email protected].id Situs web: http://spiritia.or.id/
Semua informasi ini sekadar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sebelum melaksanakan suatu pengobatan sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter. Seri Lembaran Informasi ini berdasarkan terbitan The AIDS InfoNet. Lihat http:// www.aidsinfonet.org