RASA NYERI
Diperbarui 23 Agustus 2023
Apa Nyeri Itu?
Nyeri (rasa sakit) adalah suatu gejala yang sangat subjektif. Biasanya agak sulit melihat adanya nyeri kecuali dari keluhan penderita itu sendiri. Nyeri pada orang dengan HIV sering terjadi dan merupakan kelainan penting yang berpengaruh pada mutu hidup Odha. Lebih dari sepertiga Odha pernah diserang oleh rasa nyeri. Nyeri antara lain dapat disebabkan oleh infeksi HIV sendiri, efek samping obat, atau infeksi oportunistik.
Untuk memudahkan pengukuran rasa nyeri, skala ukuran metrik (0 = tidak ada nyeri, 10 = nyeri yang berlebihan) dapat dipakai. Untuk nyeri pada anak, mungkin gambar diperlukan untuk membedakan derajat nyeri (lihat Lembaran Informasi (LI) 618).
Bagaimana Nyeri Ditangani?
Waktu kita sakit, kita mungkin menderita nyeri fisik (rasa sakit di sekujur tubuh), sering kali dua atau tiga jenis nyeri dari berbagai gejala pada waktu yang sama. Kita juga dapat mengalami nyeri mental, dengan kesusahan dan kegelisahan sebagai gejala yang dapat diamati. Nyeri fisik dapat memperburuk nyeri mental, dan rasa nyeri mental dapat menambah rasa nyeri fisik.
Tidak seorangpun betah dengan nyeri yang terus-menerus.
Penatalaksanaan nyeri berarti menentukan jenis nyeri yang dialami, kemudian menentukan jenis pengobatan yang cocok. Ini proses yang seharusnya melibatkan pasien yang menderita nyeri beserta dokter. Jangan merasa malu atau kurang ‘jantan’ karena mengeluhkan nyeri. Nyeri adalah tanda bahwa ada masalah dengan tubuh kita.
Tujuan penatalaksanaan rasa nyeri adalah agar memberdayakan orang untuk menangani nyerinya sendiri. Jika kita dirawat di rumah, ini berarti kita harus dibimbing untuk menyesuaikan obat yang dipakai, atau bagaimana memakai obat beserta terapi tradisional misalnya refleksi atau pijat. Jika kita di rumah sakit, kita harus mampu memberitahukan perawat mengenai jenis rasa nyeri yang dialami, dan tingkat keberhasilan pengobatan agar dapat disesuaikan.
Ambang Rasa Nyeri
Kadang kala kita lebih mudah merasa nyeri, sedangkan ada kalanya juga kita dapat lebih tahan. Ada beberapa faktor yang menaikkan ambang rasa nyeri, sedangkan ada faktor yang menurunkannya. Kita harus mengupayakan agar mendapatkan faktor yang menaikkan ambang rasa nyeri, termasuk: hilangnya keluhan penderita; cukup tidur; dukungan spiritual dan emosional; dan penggunaan obat yang sesuai.
Sebaliknya, kita harus menghindari faktor yang menurunkan ambang rasa nyeri, termasuk: sulit tidur; kelelahan; kegelisahan; marah; depresi; bosan; dan rasa kesepian.
Terapi penunjang, termasuk akupunktur, refleksi, pijat, dan olahraga dapat meningkatkan ambang tersebut.
Pengobatan Nyeri
Upaya pertama adalah untuk mengobati penyakit yang menyebabkan rasa nyeri. Namun sambil mencari alasan atau obat yang cocok, kita sebaiknya juga mengobati gejala dengan obat analgesik (anti nyeri) dan terus mengonsumsi antiretroviral dengan patuh.
Analgesik tersedia dalam berbagai bentuk, seperti obat oral, krim topikal (obat yang dioleskan pada suatu lokasi tertentu saja pada tubuh), dan supositoria (obat yang dikemas atau dipadatkan untuk dimasukkan ke dalam vagina, anus, atau uretra, di mana obat tersebut akan melepaskan zat aktif setelah dimasukkan).
Beberapa jenis analgesik tersedia tanpa resep. Namun, jenis yang lebih kuat hanya tersedia dengan resep dokter, karena jenis ini dapat menimbulkan efek samping. Misalnya ketergantungan, kecanduan, dan gejala putus zat.
Penanganan nyeri tergantung dari derajat rasa nyeri serta tanggapan pada obat analgesik. Pemberian dan penggantian obat analgesik dilakukan secara bertahap. Tahapan digambarkan dengan Jenjang Analgesik dengan tiga tahap atau langkah, yaitu:
Analgesik sederhana non-opioid
Analgesik majemuk (compound analgesic)
Analgesik opioid
Analgesik sederhana non-opioid
Analgesik sederhana non-opioid merupakan bentuk analgesik yang paling umum. Kelompok obat ini termasuk asetaminofen dan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti:
Ibuprofen
Aspirin
Naproxen
Natrium naproksen
Diklofenak
Etodolac
Indometasin
Nabumetone
Oksaprozin
Parasetamol
Analgesik majemuk (compound analgesic)
Analgesik majemuk adalah obat analgesic yang mengandung non-opioid bersama dengan opioid berkekuatan rendah seperti kodein.
Contohnya obat golongan ini termasuk:
Co-codamol (kombinasi codeine dan parasetamol)
Co-codaprin (kombinasi codeine dan aspirin)
Co-dydramol (kombinasi dihydrocodeine tartrate dan parasetamol)
Analgesik opioid
Jenis analgesik ini lebih efektif untuk menghilangkan rasa sakit dibandingkan analgesic sederhana non-opioid. Golongan ini biasanya digunakan untuk sakit sedang sampai sakit parah.
Hanya saja, analgesik opioid dapat menimbulkan efek samping yang lebih banyak dibandingkan jenis analgesik lainnya. Salah satunya ketergantungan atau kecanduan. Itulah sebabnya analgesik opioid hanya tersedia dengan resep dan dipantau oleh dokter.
Jika kita mantan atau pengguna narkoba aktif, kita mungkin mempunyai toleransi terhadap narkotik yang dipakai untuk menawar nyeri. Dalam keadaan ini, sebaiknya kita memberi tahu dokter bahwa kita pengguna narkoba, agar derajat penawar nyeri yang dibutuhkan dapat disesuaikan. Ini bukan pilihan yang mudah, tetapi kita dapat berupaya.
Analgesik opioid dapat berupa analgesik alami atau sintetis. Ini adalah jenis analgesik terkuat. Contohnya meliputi:
Kodein
Fentanil
Hidrokodon
Meperidin
Metadon
Morfin
Oxycodone
Tramadol
Obat analgesik juga dapat ditambah dengan adjuvan. Adjuvan adalah obat yang digunakan untuk membantu khasiat obat pokok. Adjuvan dapat termasuk steroid, obat antimual, serta juga terapi penunjang yang dibahas di atas.
Jenis obat analgesik biasanya diberi mulai dari tingkatan yang paling rendah. Jenis obat ini akan dinaikkan ke langkah berikutnya bila tidak ada perbaikan dengan penggunaan takaran yang dianjurkan. Sebaliknya, bila diberi analgesik langkah ketiga dan nyeri mulai hilang, obat diganti dengan obat jenis langkah kedua dulu, terus (bila nyeri masih tetap ringan) dengan obat jenis langkah pertama, terus dihentikan bila masalahnya hilang total.
Neuropati Perifer
Rasa nyeri yang diakibatkan neuropati perifer (mati rasa atau kesemutan pada tangan atau kaki) biasanya ditangani secara khusus – dan sayangnya sulit ditangani. Langkah terbaik untuk neuropati sebagai efek samping obat adalah untuk mencegah terjadinya, dengan mengganti obat penyebab segera setelah gejala pertama (kesemutan) dialami. Lihat LI 555 untuk informasi lebih lanjut.
Kunci pokok pembahasan
Nyeri, atau rasa sangat sakit, sering dialami oleh orang dengan HIV, khususnya pada tahap akhir penyakitnya.
Kita semua berhak menerima pengobatan yang sesuai untuk rasa nyeri. Dokter mungkin meresepkan analgesik sederhana non-opioid, tetapi jika ini tidak berhasil, obat narkotik lemah atau kuat mungkin dibutuhkan.
Namun rasa nyeri juga dapat dikurangi dengan beberapa intervensi lain, termasuk perhatian dari orang lain dan terapi penunjang.
Diperbarui 23 Agustus 2023 dari berbagai sumber.