info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

LIPODISTROFI

07 September 2023 Efek Samping

LIPODISTROFI

Diperbarui 7 September 2023

 

Lipodistrofi mengacu pada perubahan abnormal dalam cara lemak didistribusikan ke seluruh tubuh, bersamaan dengan komplikasi metabolisme yang diakibatkannya. Hilangnya lemak di suatu area disebut lipoatrofi, sedangkan penimbunan lemak disebut lipohipertrofi. Pada penderita lipodistrofi, salah satu atau kedua proses ini dapat terjadi.

Komplikasi metabolik dapat mencakup tingginya kadar lemak dan gula dalam darah yang dapat menyebabkan berkembangnya kondisi lain, seperti penyakit jantung dan diabetes.

Lipodistrofi telah terlihat pada orang dengan HIV yang memakai obat antiretroviral yang lebih lama – khususnya stavudine (d4T), zidovudine (AZT), didanosine (ddI) dan indinavir. Obat-obatan ini tidak lagi banyak diresepkan. Di Indonesia sendiri, hanya AZT yang masih tersedia dan digunakan oleh beberapa orang.

Obat yang paling banyak digunakan dalam pengobatan HIV saat ini diperkirakan tidak menyebabkan lipodistrofi. Kasus baru lipodistrofi akibat pengobatan terbaru jarang terjadi.

Berbagai perubahan terlihat pada Odha yang terkena lipodistrofi:

Penumpukan lemak: bertambahnya ukuran pinggang, bertambahnya ukuran payudara, bertambahnya lemak di sekitar leher belakang dan punggung atas, bertambahnya lemak di sekitar leher dan rahang. Lemak juga bisa menumpuk di dalam atau di sekitar organ (seperti hati) dan di otot.

Hilangnya lemak: pengecilan wajah, terutama pada pipi, bokong, dan anggota badan. Hal ini menyebabkan pembuluh darah menonjol di lengan dan kaki karena hilangnya lemak.

Ketika lemak hilang, maka lemak di bawah kulit (lemak subkutan) lah yang terkena dampaknya. Penumpukan lemak perut pada lipodistrofi terdiri dari lemak viseral yang menumpuk di sekitar organ dalam, menyebabkan perut terasa kencang dan terdorong keluar. Hal ini berbeda dengan lemak yang dapat dipegang jika seseorang menambah berat badan karena makan berlebihan atau kurang olahraga, seperti yang terjadi pada obesitas. Dibandingkan dengan orang dengan obesitas umum, terdapat lebih banyak lemak viseral dan lebih sedikit lemak subkutan pada Odha yang menderita lipodistrofi.

 

Apa Penyebab Lipodistrofi?

Lipodistrofi mengacu pada tanda dan gejala yang berbeda pada orang yang hidup dengan HIV dan bukan merupakan satu gejala dengan penyebab tunggal.

Mekanisme yang mendasari perkembangan lipodistrofi pada orang HIV-positif hanya dipahami sebagian. Paparan obat antiretroviral tertentu mungkin penting dalam perkembangan lipodistrofi.

Penelitian menunjukkan bahwa hilangnya lemak khususnya mungkin disebabkan ketika mitokondria – bagian dalam sel yang bertanggung jawab memproduksi energi untuk sel-sel tubuh Anda – rusak atau menurun jumlahnya akibat pengobatan lama, seperti stavudine dan zidovudine. Ini dikenal sebagai toksisitas mitokondria.

Penumpukan lemak belum dipahami dengan baik tetapi sering juga terlihat pada orang yang menjalani pengobatan yang sama. Peningkatan jaringan lemak viseral tampaknya berhubungan dengan gangguan metabolisme.

Faktor lain yang berkaitan dengan kesehatan individu dan khususnya HIV juga mungkin berperan dalam perkembangan lipodistrofi. Hal ini mencakup durasi terapi HIV, durasi infeksi HIV, tingkat kerusakan sistem kekebalan tubuh saat terapi HIV dimulai, jenis kelamin, usia, riwayat keluarga, pola makan, serta massa tubuh dan lemak sebelum pengobatan. Namun, tidak ada satupun yang terbukti menyebabkan lipodistrofi.

 

Efek pada kesehatan secara keseluruhan

Perubahan lemak tubuh mungkin menimbulkan stigma, dan penelitian menunjukkan bahwa perubahan tersebut berpotensi menjadi sumber stres dan kekhawatiran di antara orang yang memakai pengobatan HIV. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup dan kesejahteraan emosional pada penderita lipodistrofi.

Komplikasi metabolik yang terkait dengan lipodistrofi mungkin berdampak negatif pada kesehatan. Komplikasi ini termasuk resistensi insulin (ketidakmampuan merespons insulin, yang diperlukan untuk memproses gula), kolesterol tinggi, dan trigliserida (lemak) tinggi. Resistensi insulin dapat menyebabkan diabetes, sedangkan tingginya kadar lemak dalam darah berhubungan dengan penyakit jantung, stroke, dan pankreatitis. Lemak viseral juga dapat muncul di tempat seperti hati, menyebabkan peradangan, penyakit hati berlemak, dan sirosis.

Risiko apa pun kemungkinan besar paling tinggi terjadi pada orang dengan faktor risiko lain seperti tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, merokok, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

Anda akan menjalani tes darah rutin untuk memantau kadar lemak dan gula dalam darah Anda di klinik HIV Anda. Ini membantu pengelolaan komplikasi metabolik. Anda dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan diabetes dengan olahraga, pola makan seimbang, menurunkan berat badan jika kelebihan berat badan, dan berhenti merokok.

 

Perawatan untuk lipodistrofi

Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan lipodistrofi dan penelitian menunjukkan bahwa perubahan distribusi lemak tubuh yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan lama mungkin tidak dapat diubah. Jika Anda masih mengonsumsi salah satu obat yang berhubungan dengan lipodistrofi, beralih ke obat lain akan membantu mencegah lipodistrofi lebih lanjut.

Penatalaksanaan lipodistrofi difokuskan pada penanganan komplikasi metabolik dan pengobatan untuk memperbaiki penampilan kosmetik. Diet dan olahraga merupakan bagian integral dari penatalaksanaan lipodistrofi.

Terapi konvensional, termasuk metformin dan insulin, digunakan untuk mengobati diabetes dan obat penurun lipid (statin) digunakan untuk mengatur kadar lipid guna mencegah penyakit jantung. Beberapa statin dapat berinteraksi dengan beberapa obat HIV, sehingga dokter Anda akan memilih obat Anda dengan hati-hati dan memantau Anda dengan cermat. Olahraga teratur (kombinasi resistensi dan aktivitas kardiovaskular), pola makan seimbang dengan banyak sayuran dan biji-bijian, serta berhenti merokok dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung.

 

Hilangnya lemak di wajah bisa diperbaiki dengan beberapa cara. Teknik yang paling umum digunakan melibatkan suntikan filler (seperti Sculptra atau Radiesse) ke area yang terdampak. Perawatan ini sering kali tersedia di klinik HIV di luar negeri.

Operasi bisa menjadi pilihan untuk menghilangkan penumpukan lemak di sekitar leher. Namun, mungkin ada hasil yang buruk jika menggunakan sedot lemak karena timbunan lemak dapat kembali. Perawatan lain yang mungkin dilakukan untuk penumpukan lemak melibatkan hormon pertumbuhan manusia atau steroid anabolik. Sekali lagi, Anda dapat membicarakan hal ini dengan dokter Anda.

 

Pengaturan sumber daya terbatas

Lipodistrofi terus mempengaruhi banyak orang di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, karena obat antiretroviral yang terkait dengan lipodistrofi, khususnya lipoatrofi, masih digunakan secara luas hingga beberapa tahun yang lalu. Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan untuk menghentikan penggunaan stavudine pada tahun 2010, biaya rendah dan kesederhanaan obat ini menyebabkan negara-negara Afrika membutuhkan waktu beberapa tahun untuk menghentikan penggunaannya.

Hal ini mempunyai implikasi besar terhadap risiko penyakit metabolik, kualitas hidup dan kepatuhan.

Di negara-negara ini, obesitas dan malnutrisi ekstrem mungkin terjadi, sehingga memperburuk dampak lipodistrofi pada orang HIV-positif.

Penatalaksanaan lipodistrofi di rangkaian sumber daya terbatas mencakup modifikasi gaya hidup (diet dan olahraga), menurunkan dosis obat lama, atau idealnya, beralih ke obat antiretroviral yang lebih baru.

 

Sumber asli: Lipodystrophy and HIV treatment

Tautan asli: https://www.aidsmap.com/about-hiv/lipodystrophy-and-hiv-treatment

 

Diperbarui 7 September 2023