[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

NARKOBA

01 Juni 2014 Penguatan Sistem Kekebalan

Apa Narkoba Itu?

Istilah ‘narkoba’ adalah kependekan dari ‘narkotik dan obat-obatan berbahaya’. Namun sekarang narkoba umumnya diarti- kan untuk meliputi narkotik, psikotropik dan alkohol. Pihak pemerintah cenderung lebih senang istilah ‘NAPZA (narkotik, alkohol, psikotropik dan zat adiktif)’. Bahan ini termasuk zat ilegal (drugs): heroin (putaw); metamfetamin (sabu); mariyuana (ganja); dan halusinogen (mis. LSD); serta obat resep yang dapat disalah- gunakan, misalnya benzodiazepin, sering disebut sebagai ‘pil BK’.

Ada berbagai dampak dari penggunaan narkoba, termasuk overdosis dan perilaku yang meningkatkan risiko tertular HIV dan infeksi lain. Lembaran Informasi (LI) ini hanya membahas dampak narkoba pada kesehatan orang yang sudah terinfeksi HIV (Odha), serta interaksi antara narkoba dengan obat antiretroviral (ARV) dan obat lain yang dipakai oleh Odha. Untuk informasi lebih lanjut mengenai pen- cegahan infeksi terkait dengan penggunaan narkoba, lihat LI 154.

Karena penggunaan narkoba cenderung ilegal, membuat penelitian terhadapnya secara teliti atau resmi sangat sulit. Jadi jarang ada informasi yang jelas mengenai dampak narkoba. Tentu juga, karena narkoba umumnya dianggap ‘haram’, informasi yang ada sering mencerminkan prasangka orang yang menyediakannya daripada pendekatan yang objektif.

Ada masalah yang lebih rumit lagi. Informasi yang ada berdasarkan bukti berlaku untuk bentuk narkoba yang ‘murni’. Namun narkoba yang dijual di jalan jarang murni; sering kali narkoba tersebut dicampur dengan senyawa lain yang tidak ‘baku’. Senyawa ini juga dapat berpengaruh pada HIV atau berinteraksi dengan obat lain.

Dampak Narkoba pada HIV

Umumnya, narkoba tidak langsung berpengaruh pada infeksi HIV. Namun beberapa pakar menganggap bahwa jumlah sel CD4 orang di Indonesia yang terinfeksi HIV melalui penggunaan narkoba suntikan menurun lebih cepat. Pengguna narkoba suntikan (penasun) dengan HIV itu tam- paknya sampai ke masa AIDS rata-rata lima tahun setelah terinfeksi (biasanya masa ini dianggap rata-rata 7-10 tahun). Hal ini sulit dibuktikan, karena kita jarang mampu menentukan secara tepat kapan kita tertular HIV, dan diagnosis HIV-nya mungkin dilakukan beberapa tahun setelah tertular. Lagi pula, mungkin dampak ini diakibat- kan oleh kehidupan yang semrawut dan kurang sehat (yang sering dialami oleh  penasun).

Satu penelitian menunjukkan bahwa perempuan dengan HIV yang memakai kokain, heroin atau metadon, atau menyun- tikkan narkoba apa pun, mengalami 65% lebih banyak penyakit terkait AIDS selama lima tahun dibandingkan dengan Odha perempuan lain. Namun tidak ditemukan kaitan yang bermakna antara penggunaan narkoba ini dengan jumlah CD4, viral load HIV, atau angka kematian. Kemungkinan pengguna narkoba secara umum lebih rentan terhadap infeksi apa pun, dan pengguna narkoba terinfeksi HIV lebih rentan lagi. Lagi pula, kebanyakan penasun di Indonesia terinfeksi bersamaan dengan virus hepatitis C, dan sulit memastikan dampak dari infeksi bersamaan ini.

Ada anggapan bahwa penggunaan ko- kain meningkatkan viral load HIV. Hal ini dibuktikan oleh penelitian terhadap tikus. Diperkirakan penggunaan kokain ber- pengaruh pada sel CD4, yang memung- kinkan HIV lebih mudah masuk sel tersebut.

Demensia (kerusakan pada otak; lihat LI 504) terkait AIDS juga dapat didorong oleh penggunaan kokain atau metam- fetamin.

Dampak HIV pada Kesehatan Pengguna Narkoba

Sekali lagi, umumnya tidak ada dampak khusus oleh HIV pada kesehatan pengguna narkoba. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kokain oleh Odha berhubungan dengan kerusakan pada pembuluh darah dalam jantung.

Dampak Narkoba pada ART

Dampak terbesar oleh penggunaan narkoba pada terapi ARV (ART) adalah pada kepatuhan – lihat LI 405. Walaupun memang ditemukan pengguna narkoba aktif yang terbukti patuh, jelas hidup yang cenderung semrawut dapat berpengaruh pada kepatuhan. Pengguna aktif mem- butuhkan lebih banyak dukungan agar tetap patuh, dan mungkin harus diingatkan terus- menerus agar tidak lupa obatnya. Salah satu solusi adalah terapi pengalihan dengan metadon (lihat LI 541) atau buprenorfin (LI 542). Klien layanan metadon harus la- por ke klinik setiap hari untuk mendapat dosisnya, dan hal ini memungkinkan pemberian ART dengan pengawasan langsung sekali sehari; jelas upaya ini lebih efektif bila dipakai rejimen yang hanya harus diminum sekali sehari.

Banyak Odha dengan latar belakang penggunaan narkoba juga terinfeksi virus hepatitis atau mengalami kerusakan pada hati. Karena kebanyakan ARV diuraikan oleh hati, kerusakan pada hati dapat  berpengaruh pada ART. Ada beberapa ARV yang dapat menimbulkan/meningkatkan kerusakan pada hati. Jadi kesehatan hati harus dipantau secara hati-hati waktu memakai ART.

Penggunaan beberapa narkoba juga dapat meningkatkan kerusakan pada hati. Alko- hol paling berbahaya sebagai pengrusak hati; Odha dengan hepatitis sebaiknya menghindari total penggunaan alkohol.

Alkohol dapat meningkatkan tingkat abacavir (LI 416) dalam darah, walau dampak interaksi ini tidak jelas. Kecuali obat ini, belum ada bukti bahwa alkohol berinteraksi secara bermakna dengan ARV atau obat lain. Jadi untuk yang mempunyai hati yang sehat, tidak ada dampak negatif pada HIV dari penggunaan alkohol, asal tidak dipakai secara berlebihan.

Salah satu protease inhibitor (PI), yaitu ritonavir (lihat LI 442), berinteraksi dengan amfetamin (termasuk MDMA/ekstasi, GHB, dan metamfetamin/sabu), dengan akibat yang dapat menjadi gawat. Oleh karena itu, ritonavir tidak boleh dipakai oleh pengguna amfetamin. Larangan ini termasuk penggunaan ritonavir sebagai penguat untuk PI lain; hampir semua PI sekarang dilengkapi dengan ritonavir. Jangan lupa bahwa Kaletra/Aluvia (LI 446) mengandung ritonavir.

Efavirenz dan nevirapine berinteraksi dengan fenobarbital. Karena interaksi ini dapat gawat, obat ini sebaiknya tidak dipakai bersama.

Efavirenz dan semua PI berinteraksi dengan jenis benzodiazepin. Alprazolam (Xanax), diazepam (Valium), midozolam (Versed), triazolam (Halcion) dan kebanyakan benzo- diazepin lain tidak boleh dipakai bersama dengan efavirenz atau PI.

Tampaknya tidak ada interaksi yang bermakna antara ARV apa pun dengan heroin, kokain, mariyuana, atau alkohol, kecuali ada bukti bahwa ritonavir dapat mengurangi tingkat heroin dalam darah menjadi separuh.

Garis Dasar

Penggunaan narkoba dapat berpengaruh pada kelanjutan penyakit HIV dan peng- gunaan ART. Walaupun sebaiknya kita menghindari penggunaan narkoba bila kita terinfeksi HIV, kita juga harus sadar bahwa ‘katakan tidak saja’ tidak selalu mungkin. Bila kita tetap memakai narkoba, sebaik- nya kita mengerti dampaknya. Lagi pula, ada baik bila kita membahas penggunaan narkoba (dan semua obat lain, termasuk jamu) dengan dokter.

 

Diperbarui 1 Juni 2014 berdasarkan beberapa sumber

 

Diterbitkan oleh Yayasan Spiritia, Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Jakarta 10560. Tel: (021) 422-5163/8 E-mail: [email protected] Situs web: http://spiritia.or.id/

Semua informasi ini sekadar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sebelum melaksanakan suatu pengobatan sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.

Seri Lembaran Informasi ini berdasarkan terbitan The AIDS InfoNet. Lihat http:// www.aidsinfonet.org