Toksisitas metabolik terhadap terapi antiretroviral (ART) sering muncul dan umumnya dengan dampak yang serupa pada laki-laki dan perempuan. Namun demikian asidosis laktik dan reaksi hiperpeka (hypersensitivity reaction) lebih sering terjadi pada perempuan.
Temuan ini berdasarkan penelitian yang menyelidiki faktor perbedaan jenis kelamin terhadap munculnya efek samping metabolik pada sekelompok besar Odha dari berbagai etnis yang baru memulai ART. Penelitian ini melibatkan 245 perempuan dan 723 laki-laki.
Dr. Mohamed-Rachid Boulassel dan rekan dari Pusat Kesehatan Universitas McGill di Montreal, Kanada, melaporkan hasil penemuan mereka dalam The Journal of Medical Virology edisi September 2006.
Setelah menyesuaikan untuk beberapa faktor termasuk usia, CD4, viral load, dan riwayat penyakit terdefinisi AIDS, tidak terdapat perbedaan yang bermakna di antara laki-laki dan perempuan setelah memulai ART. Dalam kejadian keseluruhan hiperglisemia (15% vs 12%), hiperkolesterolemia (37% vs 32%), atau lipodistrofi yang mempengaruhi pengobatan (14% vs 10%).
Sebaliknya, asidosis laktik simptomatik lebih sering muncul pada perempuan dibandingkan laki-laki (5,2% vs 2,2%).
Kejadian keseluruhan reaksi hiperpeka terkait dengan permulaan ART juga lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki (7% vs 4%). Hazard ratio yang disesuaikan dari reaksi hiperpeka pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki adalah 4,4.
Nevirapine terlibat pada sebagian besar kasus reaksi hiperpeka baik pada perempuan maupun pada laki-laki.
Para peneliti menyimpulkan bahwa, “secara keseluruhan, frekuensi masalah metabolisme yang tinggi yang diamati pada perempuan dan laki-laki menekankan pentingnya mengembangkan rejimen ART yang lebih aman. Lagi pula, efek samping tersebut harus ditangani dalam waktu singkat untuk menghindari dampak jangka panjang terhadap kesehatan Odha akibat toksisitas tersebut.”
Ringkasan: Women More Vulnerable Than Men to Certain HAART Toxicities
Sumber: J.Med Virol 2006:78:1158-1163