[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Takaran AZT lebih rendah untuk pasien dengan berat badan rendah, efektif sekaligus mengurangi toksisitas

27 Agustus 2023, 1533 kali dilihat Berita

Pengobatan antiherpes setiap hari mengurangi viral load HIV dalam darah dan cairan vagina secara berarti pada perempuan yang tidak memakai terapi antiretroviral (ART). Hal ini diungkapkan pada Konferensi AIDS Internasional ke 16 di Toronto, Kanada pada 15 Agustus 2006. Para peneliti dari Prancis beranggap bahwa hasil penemuan mereka dapat memberikan dampak penting pada pencegahan HIV.

Penelitian epidemiologi dan biologi telah mengusulkan terdapat kaitan antara infeksi kelamin akibat virus herpes simpleks-2 (HSV-2) dengan penularan HIV. Infeksi HSV-2 dapat meningkatkan jumlah virus yang keluar dari vagina dan barangkali akan membuat seseorang koinfeksi HIV dan HSV-2 lebih mungkin menularkan HIV pada pasangan seksualnya. Namun demikian, hubungan sebab akibat ini belum pernah terbukti dalam penelitian pada manusia. Hingga saat ini, tidak pernah dilakukan uji coba klinis secara acak pada Odha yang menggunakan terapi anti-HSV-2.

Oleh karena itu, peneliti dari ANRS melakukan dua uji coba secara acak, percobaan dikontrol plasebo di Burkina Faso untuk membuktikan konsep. Tujuan adalah untuk memastikan apakah pemakaian terapi anti-HSV-2 valasiklovir (prodrug valin ester asiklovir) setiap hari, dapat mengurangi viral load HIV dalam cairan vagina dan darah perempuan Odha. Penelitian pertama, ANRS 1285a, melibatkan perempuan Odha yang tidak membutuhkan ART, sementara perempuan dalam ANRS 1285b memakai ART.

Dalam penelitian ANRS 1285a, sebanyak 140 perempuan yang tidak memerlukan ART dibagi secara diacak untuk menerima 1mg valasiklovir atau plasebo setiap hari selama tiga bulan. Dua kali seminggu cairan vagina mereka diambil untuk mengukur jumlah virus HIV dan HSV-2 yang keluar. Tes darah juga dilakukan untuk memantau viral load HIV. Dari 136 perempuan dengan data yang dapat dianalisis, para peneliti menetapkan bahwa frekuensi dan jumlah virus HIV yang keluar dan viral load HIV menurun kurang lebih 0,510 log dengan terapi valasiklovir. Juga terjadi penurunan yang bermakna pada jumlah virus HSV-2 yang keluar dari vagina sebanyak 65 persen dan ulkus kelamin berkurang 84 persen.

ARNS 1285b mengacak pemberian valasiklovir atau plasebo pada 60 perempuan pemakai ART. Jumlah CD4 rata-rata pada kedua kelompok kira-kira 230 dan jangka waktu penggunaan ART rata-rata 20 minggu. Walaupun tidak ada penurunan secara berarti pada viral load HIV, namun terjadi penurunan virus HIV sebanyak 0,7110 log pada cairan vagina. Selama masa pengobatan, HIV dapat terdeteksi dalam cairan vagina 23,7 persen perempuan dibandingkan dengan 8,6 persen penerima valasiklovir (OR=0,27; 95% CI: 0,1, 1.0; p=0,05). Dengan demikian, perempuan penerima valasiklovir mengalami penurunan sebanyak 73 persen dalam kemungkinan mempunyai HIV terdeteksi dalam cairan vagina dibandingkan dengan penerima plasebo.

Untuk menemukan HSV-2 pada cairan vagina, terdapat kecenderungan yang menunjukkan perbedaan yang berarti di antara kedua kelompok tersebut. Sejumlah 6,6 persen perempuan penerima valasiklovir masih memiliki HSV-2 terdeteksi dibandingkan dengan 9,8 persen perempuan penerima plasebo (p=0.06). Tidak terdapat perbedaan berarti yang diamati dalam jumlah rata-rata virus HSV-2 yang keluar dari vagina di antara kedua kelompok tersebut.

Para peneliti memberi beberapa alasan untuk penemuan mereka. Satu hipotesis adalah bahwa terapi valasiklovir menurunkan jumlah virus HIV yang keluar dengan mengurangi viral load pada perempuan yang tidak memakai ART. Para peneliti menganggap bahwa ini dapat terjadi karena dampak dari valasiklovir pada mekanisme kekebalan tubuh; sebuah dampak dari obat tersebut pada sel yang terinfeksi HIV; atau hambatan pada virus terkait herpes lain. Para peneliti juga menekankan bahwa valasiklovir menekan keluarnya virus HSV-2 dari vagina, sehingga jumlah virus di vagina berkurang. Mereka mengingatkan bahwa data ini tidak secara tegas menunjukkan bahwa valasiklovir cukup untuk mengurangi penularan HIV. Secara bijaksana mereka berpendapat bahwa hipotesis ini perlu ditinjau kembali dengan uji coba klinis yang tengah dilaksanakan, misalnya penelitian yang sedang dilakukan oleh Connie Cellum dan Jaringan Percobaan Pencegahan HIV (The HIV Prevention Trials Network)

Akan tetapi, mereka secara benar menyatakan bahwa ini adalah uji coba secara acak yang pertama kali menunjukkan dampak biologis HSV-2 pada penularan HIV. Demikian halnya, mereka dengan sangat hati-hati menghimbau untuk terus mendorong hubungan seks yang aman pada Odha yang menerima ART, karena ditemukan bahwa sampai dengan dua per tiga perempuan yang menerima ART masih mengeluarkan HIV setelah 20 minggu.

Ringkasan: Anti-herpes therapy reduces genital and plasma HIV viral load in women not taking HIV therapy

Sumber:
Mayaud P et al. Herpes simplex virus type-2 (HSV-2) suppressive therapy to reduce genital and plasma HIV-1 RNA: overview of the ARNS 1285 trials, potential mechanisms for future interventions. Sixteenth International AIDS Conference, Toronto, abstract TUA0501, 2006.
Nagot N et al. Impact of valacyclovir on genital and plasma HIV-1 RNA: a randomised controlled trial among women taking HAART (ARNS 1285b). Sixteenth International AIDS Conference, Toronto, abstract TUPE0402, 2006.