Lewati ke konten utama
[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Kembali ke Blog
Blog 07 Agustus 2026 15 kali dilihat

Orang bertubuh ramping dengan HIV tetap bisa mengalami penyakit perlemakan hati

Cari Topik Serupa
Orang bertubuh ramping dengan HIV tetap bisa mengalami penyakit perlemakan hati

Orang bertubuh ramping dengan HIV tetap bisa mengalami penyakit perlemakan hati
 

Oleh: Liz Highleyman, 7 Agustus 2026


Florence Bascombe di AIDS 2026. Foto oleh Roger Pebody.
Orang bertubuh ramping yang tergolong memiliki berat badan normal berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) tetap bisa mengalami penyakit perlemakan hati beserta komplikasinya, dan mereka yang hidup dengan HIV mungkin memiliki risiko lebih tinggi; demikian menurut temuan studi yang dipresentasikan pekan lalu pada Konferensi AIDS Internasional ke-26 (AIDS 2026) di Rio de Janeiro.
"IMT normal tidak menepis kemungkinan adanya penyakit hati yang signifikan secara klinis pada pasien HIV," ujar Florence Bascombe, perawat peneliti senior di University College London.
"Mengandalkan ukuran tubuh semata dapat menyebabkan terlewatnya orang-orang yang berisiko, sehingga menyoroti perlunya penentuan fenotipe yang lebih baik serta penilaian metabolik yang lebih mendalam dalam perawatan HIV."
Penyakit hati steatotik (SLD) adalah istilah yang baru diadopsi untuk menggambarkan penumpukan lemak di hati. Istilah ini mencakup penyakit hati steatotik terkait disfungsi metabolik (MASLD), penyakit hati terkait alkohol (ALD), dan penyakit hati yang disebabkan oleh kombinasi faktor metabolik dan alkohol (MetALD). Seiring berjalannya waktu, penumpukan lemak di hati—atau steatosis hepatik—dapat menyebabkan peradangan, fibrosis, sirosis, dan kanker hati. Kini, karena hepatitis B dapat dicegah dengan vaksin dan hepatitis C dapat disembuhkan dengan terapi antivirus, SLD menjadi penyebab yang semakin signifikan dari penyakit hati stadium lanjut di seluruh dunia.
Terminologi baru ini mengakui bahwa SLD merupakan kondisi metabolik. Kondisi ini sering kali muncul bersamaan dengan obesitas, namun tidak selalu demikian. Studi pada populasi umum menemukan bahwa sekitar 10% orang dengan berat badan normal atau rendah dapat mengidap SLD, dan beberapa penelitian menunjukkan angka ini bisa mencapai 25% pada orang yang hidup dengan HIV. Mengandalkan IMT semata dapat menyebabkan perkiraan prevalensi penyakit perlemakan hati yang terlalu rendah pada orang bertubuh kurus, baik yang hidup dengan HIV maupun tidak. Terlebih lagi, SLD pada orang bertubuh kurus telah dikaitkan dengan peningkatan angka kematian dan kejadian terkait hati, meskipun kelainan metaboliknya lebih sedikit.
Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai penyakit perlemakan hati pada orang yang hidup dengan HIV, Bascombe dan rekan-rekannya membandingkan karakteristik klinis orang yang hidup dengan HIV yang mengidap SLD berdasarkan kategori IMT. Analisis potong-lintang (cross-sectional) ini menggunakan data klinis yang dikumpulkan di sebuah pusat layanan HIV besar di pusat kota London antara tahun 2019 dan 2025.
SLD ditentukan menggunakan transient elastography, atau FibroScan, sebuah metode pencitraan ultrasonografi non-invasif yang memperkirakan tingkat steatosis dan fibrosis (pengukuran kekakuan hati). Peserta diklasifikasikan ke dalam kelompok SLD dengan berat badan normal/kurus (IMT