Harapan Baru Hepatitis B: Bepirovirsen Berhasil Menghilangkan HBsAg pada Sebagian Pasien
Harapan Baru Hepatitis B: Bepirovirsen Berhasil Menghilangkan HBsAg pada Sebagian Pasien
Oleh Liz Highleyman, 1 Juni 2026
Image: Jarun Ontakrai/Shutterstock.com
Kabar menggembirakan datang dari penelitian terbaru mengenai hepatitis B. Dalam dua uji klinis fase III, sekitar 1 dari 5 orang dengan hepatitis B kronis berhasil mencapai kesembuhan fungsional (functional cure) setelah mendapatkan terapi investigasional bepirovirsen.
Hasil penelitian ini dipresentasikan pada Kongres Asosiasi Eropa untuk Studi Hati (EASL) 2026 di Barcelona dan dipublikasikan dalam The New England Journal of Medicine.
Apa Itu Kesembuhan Fungsional?
Saat ini, sebagian besar orang dengan hepatitis B kronis perlu mengonsumsi obat antivirus seperti tenofovir atau entecavir setiap hari dalam jangka panjang untuk menekan replikasi virus.
Namun, pengobatan tersebut jarang menghasilkan kesembuhan fungsional, yaitu kondisi ketika:
- DNA virus hepatitis B tetap tertekan,
- antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) menghilang,
- dan kondisi tersebut bertahan setidaknya enam bulan setelah pengobatan dihentikan.
Mencapai kesembuhan fungsional dapat secara signifikan menurunkan risiko komplikasi jangka panjang seperti sirosis, kanker hati, dan kematian terkait penyakit hati.
Bagaimana Cara Kerja Bepirovirsen?
Bepirovirsen adalah obat yang sedang dikembangkan oleh GSK dan termasuk dalam kelompok antisense oligonucleotide.
Obat ini bekerja dengan cara:
- menghambat produksi materi genetik virus hepatitis B,
- mengurangi jumlah protein virus,
- serta membantu sistem imun mengenali dan mengendalikan infeksi.
Meskipun demikian, bepirovirsen tidak menghilangkan seluruh materi genetik virus yang tersembunyi di dalam sel hati. Karena itu, hasil yang dicapai disebut kesembuhan fungsional, bukan penyembuhan total atau sterilizing cure.
Hasil Studi Fase III
Penelitian terdiri dari dua studi besar, yaitu B-Well 1 dan B-Well 2, yang melibatkan lebih dari 1.800 orang dengan hepatitis B kronis dari 29 negara.
Seluruh peserta:
- telah menjalani terapi antivirus yang stabil,
- memiliki viral load yang sudah tertekan,
- tidak mengalami sirosis hati,
- dan memiliki kadar HBsAg maksimal 3.000 IU/mL.
Peserta menerima suntikan bepirovirsen atau plasebo setiap minggu selama 24 minggu sambil tetap melanjutkan terapi antivirus mereka.
Pada minggu ke-72, hasilnya menunjukkan bahwa:
- 20% peserta pada studi B-Well 1
- 19% peserta pada studi B-Well 2
- berhasil mencapai kesembuhan fungsional.
Sebaliknya, tidak ada peserta pada kelompok plasebo yang mencapai kesembuhan fungsional setelah menghentikan seluruh pengobatan.
Siapa yang Paling Berpeluang Sembuh?
Keberhasilan terapi lebih tinggi pada peserta dengan kadar HBsAg yang lebih rendah sebelum memulai pengobatan.
HBsAg < 1.000 IU/mL → tingkat kesembuhan sekitar 26%
HBsAg 1.000–3.000 IU/mL → tingkat kesembuhan hanya 5–10%
Peneliti juga menemukan bahwa peserta yang mengalami peningkatan sementara enzim hati ALT selama terapi cenderung memiliki peluang lebih besar untuk mencapai kesembuhan fungsional. Hal ini diduga mencerminkan aktivasi sistem imun terhadap virus.
Bagaimana dengan Keamanannya?
Secara umum, bepirovirsen dinilai aman dan dapat ditoleransi dengan baik.
Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah:
- reaksi di lokasi suntikan,
- peningkatan kadar ALT,
- serta keluhan ringan lainnya.
- Efek samping berat terjadi pada:
- 16% peserta yang menerima bepirovirsen,
- dibandingkan 3% pada kelompok plasebo.
Meski demikian, hanya sekitar 3% peserta yang menghentikan pengobatan karena efek samping.
Langkah Besar Menuju Penyembuhan Hepatitis B
Para ahli menilai hasil ini sebagai salah satu kemajuan paling penting dalam upaya menemukan terapi kuratif untuk hepatitis B.
Sebagai perbandingan:
- terapi antivirus jangka panjang menghasilkan kesembuhan fungsional pada sekitar 3% pasien setelah 10 tahun,
- sedangkan interferon pegilasi menghasilkan sekitar 10% kesembuhan fungsional setelah 3 tahun.
Dengan bepirovirsen, hampir 20% pasien mencapai kesembuhan fungsional hanya dalam waktu sekitar 18 bulan pengamatan.
Meski hasilnya sangat menjanjikan, para peneliti menekankan bahwa tindak lanjut jangka panjang masih diperlukan untuk memastikan apakah kesembuhan tersebut dapat bertahan selama bertahun-tahun. Selain itu, terapi lain masih dibutuhkan untuk kelompok yang belum diteliti dalam studi ini, seperti pasien dengan sirosis atau kadar HBsAg yang sangat tinggi.
Saat ini, bepirovirsen sedang dalam proses peninjauan oleh regulator di Eropa dan Amerika Serikat.
Jika disetujui, obat ini berpotensi menjadi salah satu terapi pertama yang secara nyata meningkatkan peluang kesembuhan fungsional bagi jutaan orang yang hidup dengan hepatitis B kronis di seluruh dunia.
Artikel asli: Bepirovirsen leads to functional cure in one fifth of people with long-term hepatitis B
Tautan asli: https://www.aidsmap.com/news/jun-2026/bepirovirsen-leads-functional-cure-one-fifth-people-long-term-hepatitis-b
Referensi
Hou J, dkk. Phase 3 Results of Bepirovirsen Treatment for Chronic Hepatitis B Virus Infection. NEJM, 2026.
Hou J, dkk. B-Well Phase 3 Trials. EASL Congress 2026.
Lok AS. A Major Step Toward a Cure for Hepatitis B Infection. NEJM Editorial, 2026.