[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Pelatihan Berbasis Gender untuk Penyedia Layanan HIV Menurunkan Stigma, tetapi Implementasinya Tidak Mudah

05 Januari 2026, 139 kali dilihat Blog

Pelatihan Berbasis Gender untuk Penyedia Layanan HIV Menurunkan Stigma, tetapi Implementasinya Tidak Mudah


Oleh: Edith Magak, 5 Januari 2026


“Anda harus meluangkan waktu bersama pasien, mendengarkan mereka—semua cerita dan beban mereka… Saya rasa kami tidak punya lingkungan seperti itu di sini. Saat antrean klien panjang, Anda tidak mungkin memberi setiap orang waktu 30 menit sampai 1 jam untuk mendengarkan semua masalah dan tantangan mereka.”
Sebuah studi percontohan yang diterbitkan di PLOS Global Public Health menunjukkan bahwa program pelatihan sensitivitas gender bagi penyedia layanan HIV di Uganda dapat menurunkan stigma yang dialami klien, tetapi tidak meningkatkan kepatuhan pengobatan maupun kepuasan terhadap layanan.
Pelatihan ini meningkatkan pemahaman penyedia layanan tentang bagaimana norma gender memengaruhi layanan HIV dan membantu mereka mengenali bias terhadap kelompok tertentu—termasuk pekerja seks, laki-laki yang mengonsumsi alkohol, dan perempuan muda. Setelah enam bulan, penyedia layanan yang mengikuti pelatihan melaporkan peningkatan kompetensi dalam memberikan layanan yang sensitif gender. Namun, pada 12 bulan, peningkatan ini menghilang. Bahkan, klien di klinik intervensi melaporkan kualitas komunikasi yang lebih buruk dan kepuasan yang lebih rendah dibandingkan klien di klinik kontrol. Satu-satunya manfaat yang tampak bertahan adalah penurunan stigma HIV yang “diantisipasi” (anticipated stigma)—yaitu stigma yang klien perkirakan akan mereka terima dari orang lain—di lokasi intervensi.


Latar Belakang
Norma gender—yakni harapan sosial tentang bagaimana laki-laki dan perempuan “seharusnya” berperilaku—merupakan pendorong penting penularan HIV sekaligus penghambat akses dan keberlanjutan perawatan HIV di Uganda dan wilayah Afrika sub-Sahara.
Bagi perempuan, ketidaksetaraan gender dapat membatasi otonomi dalam keputusan pencegahan dan pengobatan HIV, menciptakan ketergantungan ekonomi pada laki-laki, serta meningkatkan paparan kekerasan berbasis gender—yang semuanya dapat meningkatkan kerentanan terhadap HIV. Bagi laki-laki, norma maskulinitas terkait kekuatan, kemandirian, dan “harga diri” dapat berpadu dengan stigma HIV sehingga menghambat tes HIV dan keterlibatan dalam layanan.
Program berbasis komunitas yang menantang norma gender yang merugikan telah menunjukkan keberhasilan meningkatkan luaran HIV. Namun, pelatihan bagi penyedia layanan kesehatan untuk memberikan layanan yang responsif terhadap gender masih relatif kurang mendapat perhatian. Ini merupakan kesenjangan penting karena penyedia layanan kesehatan sering menjadi titik kontak pertama bagi orang yang memulai terapi antiretroviral (ART).
Tim peneliti yang dipimpin Dr. Katelyn Sileo (Universitas Texas, San Antonio) melakukan uji coba pelatihan sensitivitas gender bagi penyedia layanan HIV dan staf klinik di Uganda. Tujuan pelatihan adalah meningkatkan kesadaran tentang dampak norma gender terhadap keterlibatan klien dalam layanan HIV, mengurangi bias gender dan bias lainnya, memperkuat keterampilan komunikasi yang berpusat pada klien, serta meningkatkan kemampuan menerapkan pendekatan konseling yang spesifik gender dan transformatif gender untuk laki-laki maupun perempuan.


Intervensi
Enam klinik di Uganda tengah berpartisipasi dalam studi: tiga menerima pelatihan (klinik intervensi) dan tiga tidak (klinik kontrol).
Pelatihan terdiri dari empat sesi yang diberikan selama beberapa bulan kepada 61 staf di klinik intervensi; sekitar tiga perempat peserta adalah perempuan. Kurang dari setengahnya adalah tenaga kesehatan tersertifikasi (petugas klinis, perawat, konselor, dan sebagainya), sementara sisanya adalah tenaga awam dan staf pendukung lain (pendidik sebaya, fasilitator linkage, dan lain-lain). Rata-rata, peserta telah bekerja dalam peran mereka selama tujuh tahun.
Ringkasan isi sesi:
Sesi 1: Memperkenalkan gender sebagai konsep yang berbeda dari jenis kelamin biologis; menjelaskan bagaimana norma/peran gender menciptakan hambatan layanan HIV dan berkontribusi pada kesenjangan luaran antara laki-laki dan perempuan.
Sesi 2: Fokus pada pengenalan bias dan stereotip—terkait gender, status HIV, dan kelompok terpinggirkan—yang dapat menurunkan kualitas layanan.
Sesi 3: Memperkuat pelatihan Kementerian Kesehatan terkait kekerasan berbasis gender, termasuk peran tenaga kesehatan dalam skrining dan respons.
Sesi 4: Penyegaran praktik: pelatih mengamati interaksi penyedia layanan–klien dan memberi umpan balik individual terkait penerapan materi pelatihan.
Sesi 1–2 dilaksanakan dalam dua hari berturut-turut, sesi 3 diselenggarakan 1–2 minggu setelahnya, dan sesi 4 dilakukan tiga bulan setelah sesi awal.
Untuk menilai dampak pada orang yang hidup dengan HIV, studi ini melibatkan 238 klien (119 di klinik intervensi dan 119 di klinik kontrol). Klien yang memenuhi syarat adalah mereka yang mengalami kesulitan kepatuhan atau baru memulai ART.
Penyedia layanan dan klien mengisi kuesioner pada baseline, 6 bulan, dan 12 bulan. Setelah penilaian akhir, 53 penyedia layanan dari klinik intervensi (hampir 90% dari yang dilatih) ikut dalam diskusi kelompok terarah atau wawancara mendalam.


Hasil
Kompetensi layanan sensitif gender
Pada enam bulan, kelompok intervensi menunjukkan peningkatan kompetensi sebesar 4,5% dibanding baseline, sementara kelompok kontrol turun 2%. Namun pada 12 bulan, skor kelompok intervensi kembali mendekati baseline (naik 1%), mirip dengan kelompok kontrol (naik 2%).
Secara keseluruhan, peningkatan pada kelompok intervensi lebih besar daripada kontrol, dengan perbedaan yang bermakna pada 6 bulan, tetapi tidak pada 12 bulan.
Efek pelatihan terlihat lebih kuat pada penyedia layanan laki-laki dibanding perempuan, serta pada tenaga awam dibanding tenaga kesehatan tersertifikasi. Pada tenaga awam, efeknya masih tampak pada 12 bulan meski berkurang.
Penyedia layanan melaporkan peningkatan pemahaman tentang peran norma gender dalam layanan HIV dan lebih percaya diri dalam merespons kekerasan berbasis gender:
“Dulu orang datang dengan tantangan terkait KBG dan kami tidak banyak membantu. Setelah pelatihan ini, saya sadar saya bisa membantu… Sekarang saya bisa menasihati mereka agar mendapatkan pertolongan.”
Banyak penyedia layanan (terutama perempuan) juga merasa lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan klien laki-laki karena lebih memahami gaya komunikasi laki-laki yang dipengaruhi norma gender. Namun, sebagian penyedia layanan masih mencerminkan standar ganda:
“Saya menasihati sesuai jenis kelamin… kepada perempuan saya bilang harus setia pada satu pasangan… kepada laki-laki saya bilang itu tidak baik, tapi saya tidak memaksanya.”


Komunikasi yang berpusat pada klien
Kepercayaan diri penyedia layanan terhadap komunikasi yang berpusat pada klien meningkat di klinik kontrol, tetapi menurun di klinik intervensi seiring waktu (p keseluruhan = 0,02). Setelah 12 bulan, penyedia layanan di klinik intervensi melaporkan kepercayaan diri yang lebih rendah dibanding awal studi (p = 0,05).
Penilaian klien tentang kualitas komunikasi menunjukkan pola yang sama—lebih menguntungkan klinik kontrol (p keseluruhan < 0,001). Pada 12 bulan, klien di klinik intervensi melaporkan kualitas komunikasi yang jauh lebih buruk (p < 0,001).
Meski demikian, penyedia layanan di klinik intervensi melaporkan peningkatan empati terhadap klien pada enam bulan (p = 0,04). Pada kedua kelompok, klien melaporkan keterlibatan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan pengobatan dari waktu ke waktu (p keseluruhan = 0,02), dengan peningkatan paling besar dilaporkan oleh klien laki-laki di klinik intervensi.
Salah satu penyedia layanan menyoroti pembelajaran tentang komunikasi non-verbal:
“Laki-laki lebih sering merespons secara non-verbal… Anda harus benar-benar memperhatikan dan menggunakan mendengarkan aktif. Setelah penelitian ini, saya paham isyarat non-verbal itu penting.”
Namun, penyedia layanan menekankan bahwa beban kerja tinggi, tekanan waktu, dan kurangnya privasi membuat pendekatan berpusat pada klien sulit diterapkan.


Mengenali dan mengurangi bias
Penyedia layanan mengidentifikasi adanya bias terhadap klien yang mengonsumsi alkohol, pekerja seks, perempuan muda yang dianggap “tidak sopan”, laki-laki secara umum, minoritas gender dan seksual, pengguna narkoba, anak muda, serta mereka dengan viral load yang tidak terkontrol.
Salah satu penyedia layanan menggambarkan perubahan sikap:
“Dulu saya tidak punya waktu untuk mereka yang pakai rok mini… saya beri obat dan tidak peduli diminum atau dibuang… Sekarang saya meluangkan waktu untuk berinteraksi… melakukan konseling saat ada masalah.”
Meskipun kesadaran terhadap stereotip meningkat, sebagian prasangka mendasar masih bertahan. Seorang penyedia layanan mengatakan bahwa sebelumnya ia mengaitkan penampilan dengan status pekerja seks, namun setelah pelatihan ia menyadari bahwa cara berpakaian dapat lebih terkait pada kenyamanan personal, bukan profesi.
Luaran klien
Kepatuhan ART meningkat di kedua kelompok selama 12 bulan, tetapi tidak ada perbedaan bermakna antara klinik intervensi dan kontrol (p = 0,28). Kepatuhan serupa pada 6 bulan (p = 0,91) dan tetap serupa pada 12 bulan (p = 0,33).
Kepuasan klien terhadap layanan HIV stabil di klinik kontrol tetapi sedikit menurun di klinik intervensi, terutama antara 6–12 bulan (p keseluruhan < 0,001). Tidak ada perbedaan pada 6 bulan (p = 0,91), tetapi pada 12 bulan klien intervensi melaporkan kepuasan yang jauh lebih rendah (p < 0,001).
Manfaat paling jelas bagi klien adalah penurunan stigma HIV. Pada 6 bulan, tidak ada perbedaan antara kelompok. Namun pada 12 bulan, klien di klinik intervensi melaporkan stigma yang jauh lebih rendah dibanding klien di klinik kontrol (p < 0,001), terutama karena penurunan stigma yang diantisipasi.


Kesimpulan
Uji coba ini menunjukkan bahwa pelatihan sensitivitas gender dapat membantu penyedia layanan mengenali bias, memahami dampak norma gender terhadap layanan HIV, dan meningkatkan empati—terutama terhadap klien laki-laki. Klien melaporkan penurunan stigma, dan penyedia layanan mengembangkan keterampilan konseling yang lebih baik.
Namun, dampak yang tidak bertahan lama serta tantangan implementasi menegaskan perlunya dukungan berkelanjutan dan perubahan di tingkat sistem agar penyedia layanan dapat menerapkan pembelajaran secara konsisten. Para penyedia layanan menekankan bahwa membangun kepercayaan dan memberikan layanan yang benar-benar berpusat pada pasien membutuhkan waktu—sesuatu yang sering tidak memungkinkan dalam struktur layanan klinik saat ini.


Artikel asli: Gender-focused training for HIV providers reduces stigma but implementation proves challenging
Tautan: https://www.aidsmap.com/news/jan-2026/gender-focused-training-hiv-providers-reduces-stigma-implementation-proves
Referensi:
Sileo KM dkk. Mixed methods pilot evaluation of a gender-sensitivity training for HIV care providers in Uganda: Effects on providers and clients. PLOS Global Public Health 5(9): e0004247, 2025 (open access). https://doi.org/10.1371/journal.pgph.0004247
Kredit foto lengkap: Health Education | Family Planning. Photo © Dominic Chavez/The Global Financing Facility. Tersedia di Flickr di bawah lisensi CC BY-NC-ND 2.0.