[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Studi Besar Menilai Kadar Obat pada Terapi ARV Kerja Panjang

01 Desember 2025, 185 kali dilihat Blog

Studi Besar Menilai Kadar Obat pada Terapi ARV Kerja Panjang
 

Oleh: CATIE News, 1 Desember 2025
 

Regimen lengkap pertama untuk pengobatan HIV kerja panjang adalah kombinasi dua obat, cabotegravir dan rilpivirine. Pada awalnya, kedua obat ini dapat diberikan dalam bentuk tablet oral, kemudian setelah beberapa minggu dilanjutkan dengan suntikan. Namun, dalam praktiknya, banyak dokter dan pasien memilih untuk langsung menggunakan formulasi suntikan tanpa melalui fase oral.
Suntikan diberikan jauh ke dalam otot bokong, awalnya setiap bulan, kemudian setiap dua bulan. Di Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan sejumlah negara lain, formulasi kerja panjang ini telah disetujui dan dipasarkan dengan nama Cabenuva.
Dalam uji klinis, kombinasi cabotegravir + rilpivirine kerja panjang terbukti sangat efektif dalam menekan HIV dan umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Beberapa orang mengalami reaksi di tempat suntikan, seperti nyeri, kemerahan, atau pembengkakan, namun keluhan ini biasanya bersifat ringan dan menghilang dalam satu hingga dua hari.
Meskipun Cabenuva merupakan kombinasi kerja panjang pertama yang disetujui untuk pengobatan HIV, perusahaan farmasi terus mengembangkan formulasi serupa lainnya. Sementara itu, penelitian tambahan terkait penggunaan cabotegravir + rilpivirine kerja panjang masih terus dilakukan.
Studi di Prancis
Para peneliti di Prancis melakukan sebuah studi nasional yang melibatkan 736 orang dengan HIV yang menggunakan cabotegravir + rilpivirine kerja panjang. Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis sampel darah untuk mengukur konsentrasi kedua obat tersebut pada berbagai waktu hingga 18 bulan setelah peserta masuk ke dalam studi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks massa tubuh (IMT)—khususnya obesitas—berkaitan dengan kadar obat yang lebih rendah dari yang diharapkan. Kadar obat yang rendah ini selanjutnya berhubungan dengan peningkatan risiko kegagalan virologis, yaitu kondisi ketika HIV tetap terdeteksi dalam darah. Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan obat terapeutik (Therapeutic Drug Monitoring/TDM), terutama pada individu dengan obesitas.
Rincian Studi
Pada tahun 2022, peneliti dari 14 klinik di seluruh Prancis merekrut peserta untuk studi ini. Sebagian besar peserta berjenis kelamin laki-laki saat lahir (79%). Sebelum masuk ke studi, seluruh peserta telah menjalani terapi HIV lain dan sebagian besar telah mencapai penekanan virus.
Profil rata-rata peserta saat awal studi adalah sebagai berikut:
Usia: 41 tahun
Indeks Massa Tubuh (BMI):
54% memiliki BMI normal (rata-rata 24,5 kg/m²)
33% kelebihan berat badan (BMI 25–29,9)
11% obesitas (BMI ≥30)
Lama sejak diagnosis HIV: 11 tahun
Jumlah CD4+ saat masuk studi: 762 sel/mm³
Jumlah CD4+ terendah: 332 sel/mm³
Beban virus tertekan (<50 kopi/mL): 97%
Subtipe HIV: Hampir 60% terinfeksi subtipe B; enam peserta memiliki subtipe A6/A1; data subtipe pada peserta lainnya tidak tersedia
Sebagian besar peserta diikuti selama 12 bulan, sementara sebagian lainnya hingga 18 bulan.
Hasil Utama
Rata-rata, peneliti mengambil tiga sampel darah dari setiap peserta selama masa penelitian.
Pada bulan pertama setelah suntikan, ditemukan bahwa peserta dengan kelebihan berat badan dan obesitas memiliki kadar cabotegravir dalam darah yang lebih rendah dibandingkan peserta dengan BMI normal:
IMT normal: 2.052 ng/mL
IMT kelebihan berat badan: 1.726 ng/mL
IMT obesitas: 1.421 ng/mL
Perbedaan ini bermakna secara statistik.
Untuk rilpivirine, pada bulan pertama kadar obat lebih rendah secara signifikan hanya pada peserta dengan obesitas (39 ng/mL), dibandingkan dengan peserta yang tidak obesitas (50 ng/mL).
Namun, pada bulan ketiga penelitian, perbedaan kadar obat berdasarkan BMI tidak lagi ditemukan.
Pada bulan pertama, faktor-faktor yang secara statistik berkaitan dengan risiko kadar cabotegravir yang lebih rendah dari normal adalah:
berjenis kelamin perempuan
memiliki kelebihan berat badan atau obesitas
Sementara itu, jenis kelamin perempuan dan obesitas merupakan faktor risiko untuk kadar rilpivirine yang suboptimal.
Risiko Kegagalan Virologis
Selama masa studi:
18 peserta (2,5%) mengalami kegagalan virologis (beban virus terus terdeteksi >50 kopi/mL)
31 peserta lainnya mengalami viremia rendah sementara (50–200 kopi/mL)
Rata-rata, kegagalan virologis terjadi sekitar lima bulan setelah memulai terapi kerja panjang.
Uji klinis sebelumnya telah mengidentifikasi faktor-faktor risiko kegagalan virologis, yaitu:
obesitas
subtipe HIV-1 A6/A1
adanya mutasi resistensi rilpivirine sebelumnya
kadar cabotegravir atau rilpivirine yang rendah setelah suntikan pertama
Kehadiran dua atau lebih faktor risiko secara signifikan meningkatkan kemungkinan terjadinya kegagalan virologis.
Dalam studi ini, faktor risiko kegagalan virologis pada bulan keenam meliputi:
adanya setidaknya dua faktor risiko yang telah diketahui sebelumnya
kadar obat dalam darah yang tidak optimal
jumlah CD4+ yang pernah turun di bawah 200 sel/mm³ sebelum memulai terapi HIV
Di antara 18 peserta yang mengalami kegagalan virologis:
67% memiliki kadar cabotegravir atau rilpivirine yang suboptimal pada bulan pertama dan ketiga
28% memiliki kadar kedua obat yang sama-sama suboptimal
Sekitar setengah dari peserta yang mengalami kegagalan virologis memiliki minimal dua faktor risiko, termasuk obesitas atau kadar cabotegravir yang rendah.
Temuan Lain
Sebanyak 96 peserta menghentikan terapi kerja panjang selama studi berlangsung. Namun, hanya 37 orang (sekitar 5%) yang menghentikan pengobatan karena efek samping.
Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah:
nyeri di tempat suntikan (27%)
gangguan neuropsikiatri (27%)
reaksi kulit (16%)
gangguan pencernaan (11%)
Alasan lain penghentian terapi meliputi:
kegagalan virologis
keputusan dokter atau peserta
alasan yang tidak dirinci
kehamilan
peserta tidak kembali untuk kunjungan penelitian
Dua peserta meninggal dunia selama studi, namun penyebab kematian tidak terkait dengan pengobatan HIV.
Catatan dan Implikasi
Studi ini merupakan langkah awal yang penting untuk memahami hubungan antara kadar cabotegravir dan rilpivirine dengan risiko kegagalan virologis. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan, antara lain data subtipe HIV yang tidak lengkap dan desain studi yang bersifat retrospektif.
Para peneliti menyimpulkan bahwa kadar cabotegravir dan/atau rilpivirine yang suboptimal selama tiga bulan pertama pengobatan—terutama pada pasien dengan BMI tinggi—tampaknya meningkatkan risiko kegagalan virologis. Oleh karena itu, dokter didorong untuk mempertimbangkan penggunaan pemantauan obat terapeutik (TDM) pada kelompok pasien tertentu.
Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menentukan kadar obat yang ideal dalam darah, mengingat 20–30% peserta memiliki kadar obat yang suboptimal, namun hanya 2,5% yang akhirnya mengalami kegagalan virologis.
— Sean R. Hosein


Artikel asli: A large study assesses levels of medicines in long-acting HIV treatment
Referensi: Néant N, Lê MP, Bouchet S, et al. Clinical Infectious Diseases. 2025 (in press).