[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Meskipun tidak terdeteksi = tidak menularkan, kekhawatiran tentang membagikan status HIV masih bertahan di kalangan lansia

25 September 2025, 225 kali dilihat Sahabat Senandika

Meskipun tidak terdeteksi = tidak menularkan, kekhawatiran tentang membagikan status HIV masih bertahan di kalangan lansia


Oleh: Zekerie Redzheb, 22 September 2025


Meskipun sudah satu dekade kampanye luas “Undetectable equals Untransmissible” (Indonesia: TDTM: Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan) dan kemajuan dalam pencegahan HIV, stigma nyaris tidak bergeser di kalangan orang lanjut usia yang hidup dengan HIV di Amsterdam. Kekhawatiran soal disclosure (membagikan status HIV) hanya menurun sedikit dalam sepuluh tahun, sementara citra diri negatif tidak berubah, demikian dilaporkan Dr Kevin Moody dan rekan dalam Journal of Acquired Immune

Deficiency Syndromes.
Menariknya, semakin lama seseorang hidup dengan HIV tampaknya berkaitan dengan berkurangnya kekhawatiran tentang mengungkapkan status dan citra diri negatif, sementara—seperti yang bisa diperkirakan—depresi justru berkorelasi dengan meningkatnya kekhawatiran. Tinggal di rumah tangga besar, menjadi perempuan, dan menjadi biseksual juga dikaitkan dengan skor stigma yang lebih buruk, tetapi hasil ini mungkin tidak dapat diandalkan karena jumlah partisipan dengan kriteria tersebut terlalu sedikit.
Stigma bersifat berlapis-lapis dan dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan, sehingga membuat hidup sehat dengan HIV menjadi lebih sulit daripada yang seharusnya. Stigma bisa berupa “enacted”, ketika seseorang dengan HIV mengalami prasangka dan diskriminasi karena diagnosisnya, atau “anticipated”, ketika orang tersebut menghindari orang, acara, dan situasi karena mereka mengantisipasi akan dihakimi. Mungkin bentuk stigma yang paling berat adalah ketika seseorang menerima semua keyakinan negatif tersebut dan menginternalisasinya.
Bahkan dengan kemajuan ilmiah besar seperti tersedianya pengobatan efektif, TDTM (artinya seseorang dengan viral load tidak terdeteksi tidak dapat menularkan HIV secara seksual), dan PrEP, stigma sering kali tetap lebih sulit diatasi dibanding HIV itu sendiri. Kemajuan biomedis tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan sosial, dan sikap masyarakat bisa sangat lambat untuk bergeser.


Penelitian
Para peneliti mengumpulkan data dari 116 partisipan dalam AGEhIV Cohort Study di Amsterdam. Para partisipan harus melengkapi survei terkait stigma yang berfokus pada kekhawatiran mengungkapkan status dan citra diri negatif pada periode 2012–2014 dan 2022–2024. Studi ini pada dasarnya mencocokkan skor awal setiap partisipan dengan skor mereka sepuluh tahun kemudian untuk melihat evolusi pengalaman stigma.
Usia median partisipan saat survei pertama adalah 56 tahun dan 93% adalah laki-laki, sebagian besar gay. Hampir semua partisipan berkulit putih dengan median waktu sejak diagnosis 14,5 tahun. Separuh memiliki setidaknya gelar perguruan tinggi dan hampir semua memiliki viral load di bawah 200 kopi, artinya mereka berhasil mencapai supresi virus.
Antara 2012 dan 2014, para partisipan melengkapi Berger HIV Stigma Scale, kuesioner yang mengukur berbagai aspek stigma, termasuk kekhawatiran disclosure dan citra diri negatif.
Domain kekhawatiran pengungkapan status mencerminkan sejauh mana kenyamanan seseorang dengan HIV dalam membagikan statusnya, termasuk soal menyimpan rahasia HIV dan berhati-hati dalam memberitahu orang lain.
Domain citra diri negatif menangkap stigma internalisasi, dengan pertanyaan seputar rasa bersalah karena memiliki HIV, perasaan menjadi orang jahat karena diagnosis, dan harga diri yang berkurang akibat sikap orang lain terhadap HIV.
Setiap pertanyaan memiliki opsi: sangat tidak setuju (1 poin), tidak setuju (2 poin), setuju (3 poin), dan sangat setuju (4 poin). Skor lebih tinggi mencerminkan tingkat stigma lebih besar. Misalnya, menyetujui pernyataan “Memberitahu seseorang bahwa saya punya HIV itu berisiko” bernilai 3 poin. Dalam versi singkat kuesioner yang digunakan, tiap domain berisi 3 pertanyaan dengan skor minimum 3 dan maksimum 12 poin.


Khawatir Mengungkapkan Status
Selama sepuluh tahun, skor rata-rata kekhawatiran mengungkapkan status bergeser dari 8,37 ke 7,97 poin—penurunan 3%. Dengan semua perkembangan ilmiah dan sosial dalam dekade terakhir, penurunan ini terasa tidak signifikan. Satu-satunya faktor yang tampaknya berkorelasi dengan penurunan skor adalah lamanya waktu sejak diagnosis. Setiap tambahan satu dekade sejak diagnosis diperkirakan menurunkan skor sekitar 1,10 poin (≈12%). Sebaliknya, tinggal di rumah tangga besar justru dikaitkan dengan kenaikan skor dalam besaran yang sama.


Citra Diri Negatif
Selama satu dekade, skor citra diri negatif hampir tidak berubah, hanya bergeser dari 5,17 ke 5,07. Skor perempuan semakin buruk, tetapi temuan ini diragukan karena hanya ada delapan perempuan dalam analisis. Sama seperti kekhawatiran pengungkapan status, setiap tambahan satu dekade sejak diagnosis dikaitkan dengan penurunan citra diri negatif sebesar 0,72 poin. Sebaliknya, menjadi biseksual dan mengalami depresi sama-sama berkorelasi dengan citra diri yang lebih buruk (naik 1,86 poin); namun jumlah partisipan biseksual terlalu sedikit untuk menarik kesimpulan kuat.


Pemikiran Akhir
Mengecewakan bahwa kekhawatiran pengungkapan status dan citra diri negatif tidak membaik di kota kosmopolitan seperti Amsterdam yang memiliki komunitas besar dan berpendidikan dari orang yang hidup dengan HIV, terutama dengan adanya TDTM dan penggunaan luas PrEP. Namun, temuan ini mungkin tidak berlaku untuk semua orang yang hidup dengan HIV dan bisa jadi hanya pengamatan lokal karena studi hanya berfokus pada 116 partisipan di Amsterdam. Hasil ini juga mungkin mencerminkan karakteristik kohort yang lebih tua, banyak di antaranya melewati periode sulit pandemi HIV, ketika pengalaman negatif dan sikap sosial meninggalkan dampak psikologis jangka panjang.


Namun, temuan positif dari penelitian ini adalah berkurangnya kekhawatiran mengungkapkan status dan citra diri negatif seiring semakin lamanya orang hidup dengan HIV. Hal ini mungkin mencerminkan ketangguhan dan kemampuan beradaptasi yang berkembang pada orang dengan HIV dari waktu ke waktu.

Referensi
Moody K dkk. Stigma-related disclosure concerns and negative self-image have not improved over a decade in older people with HIV. Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes, terbit online sebelum cetak, 28 Juli 2025 (akses terbuka).
DOI: 10.1097/QAI.0000000000003732

Artikel asli: Despite U=U, concerns about sharing HIV status persist among older people
Tautan asli: https://www.aidsmap.com/news/sep-2025/despite-uu-concerns-about-sharing-hiv-status-persist-among-older-people