Dua dosis vaksin HPV sama efektifnya dengan jadwal tiga dosis yang direkomendasikan untuk perempuan dengan HIV
Oleh: Zekerie Redzheb, aidsmap.com, 13 Juni 2025
Diadaptasi oleh Tim Spiritia: 8 Juli 2025
Menurut sebuah studi oleh Dr. Deborah Konopnicki dan rekan-rekannya yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Infectious Diseases, dua dosis vaksin HPV yang banyak digunakan, Gardasil9, menghasilkan respons imun yang identik dengan rejimen tiga dosis standar pada perempuan dengan HIV yang terkendali dengan baik.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini merekomendasikan jadwal tiga dosis untuk orang yang hidup dengan HIV, berbeda dengan dua dosis untuk populasi umum, karena kekhawatiran terhadap kemungkinan respons imun yang lebih rendah. Namun, studi ini mengeksplorasi apakah dua dosis sudah cukup bagi perempuan dengan HIV yang memiliki fungsi imun yang stabil. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar antibodi — yang umum digunakan sebagai indikator efektivitas vaksin — secara efektif sama antara kelompok dua dosis dan tiga dosis terhadap kesembilan tipe virus yang dilindungi oleh vaksin tersebut.
Human papillomavirus (HPV), seperti halnya HIV, memiliki berbagai genotipe (varian genetik yang berbeda). Beberapa tipe menyebabkan kondisi yang mengganggu namun kurang berdampak berat seperti kutil kelamin, sementara tipe lainnya bersifat onkogenik dan dapat menyebabkan kanker. Infeksi persisten dengan tipe ini dikaitkan dengan kanker serviks, anus, penis, dan tenggorokan. Penularan umumnya terjadi melalui kontak seksual.
Meskipun beberapa orang dapat secara alami membersihkan infeksi HPV, virus ini sering kali berhasil menghindari deteksi oleh sistem imun. Mengandalkan sistem kekebalan saja sangat berisiko, oleh karena itu vaksinasi pencegahan menjadi sangat penting.
Vaksin Gardasil9 memiliki sembilan valensi — dengan kata lain, vaksin ini melindungi terhadap sembilan jenis virus HPV yang berisiko tinggi. Vaksin ini memberikan perlindungan yang sangat baik jika diberikan pada usia yang tepat. Waktu pemberian sangat penting karena vaksin ini bersifat pencegahan, artinya vaksin harus mempersiapkan sistem imun untuk melawan virus sebelum virus tersebut masuk ke dalam tubuh. Vaksinasi direkomendasikan sejak usia sembilan tahun pada anak perempuan, agar kekebalan terhadap virus dapat terbentuk sebelum terjadi kontak seksual pertama.
Salah satu kekurangan dalam program vaksinasi adalah lebih dari separuh negara tidak memasukkan anak laki-laki dalam program tersebut. Pria yang melakukan hubungan seks anal juga berisiko mengalami infeksi HPV anal dan kemungkinan kanker anus jika tidak divaksinasi; 90% kasus kanker anus disebabkan oleh infeksi HPV.
Studi
Di Rumah Sakit Universitas Saint-Pierre di Brussels, para peneliti merekrut 167 perempuan dengan HIV berusia antara 15 hingga 40 tahun, yang sedang menjalani pengobatan HIV dan telah mempertahankan viral load di bawah 400 kopi selama enam bulan terakhir. Dari seluruh peserta yang direkrut, 100 orang diacak ke dalam kelompok dua dosis atau tiga dosis. Dari 67 orang sisanya, 22 menerima dua dosis dan 45 menerima tiga dosis. Namun, karena peserta ini tidak diacak, data mereka hanya digunakan untuk menguatkan tren yang diamati dalam uji coba yang diacak.
Usia median peserta adalah 35 tahun dan sebagian besar berasal dari negara-negara di Afrika. Mereka telah menjalani pengobatan HIV selama rata-rata hampir enam tahun dan memiliki jumlah CD4 yang sehat, yaitu 649 sel. Semua perempuan memiliki viral load di bawah 400 kopi, sementara 92% tidak terdeteksi (undetectable). Pada awal studi, sekitar sepertiga perempuan terdeteksi memiliki tipe HPV berisiko tinggi dalam usapan serviks mereka. Sitologi cair menunjukkan bahwa 72% memiliki sel yang normal, dan tidak ditemukan lesi prakanker pada 30 biopsi yang diambil.
Di kedua kelompok, lebih dari 90% peserta menyelesaikan jadwal vaksinasi mereka. Tidak ada peserta yang sebelumnya pernah menerima vaksinasi HPV.
Tingkat antibodi pelindung terhadap setiap tipe HPV yang dilindungi oleh vaksin diukur pada awal studi (sebelum vaksin pertama) dan satu bulan setelah dosis vaksin terakhir.
Hasil utama yang dicari oleh para peneliti adalah apakah rejimen dua dosis dapat menghasilkan antibodi terhadap kesembilan tipe HPV pada setidaknya 80% peserta, dan apakah konsentrasi antibodi tersebut cukup tinggi jika dibandingkan dengan kelompok tiga dosis. Mereka juga menilai tingkat kejadian efek samping (terutama reaksi di tempat suntikan) di kedua kelompok.
Vaksin diberikan pada awal studi dan enam bulan kemudian untuk kelompok dua dosis, dengan tambahan satu dosis pada bulan kedua untuk kelompok tiga dosis.
Tingkat respons imun terhadap vaksinasi yang tinggi ditemukan pada kedua kelompok
Sebelum vaksinasi, hanya sekitar 10% peserta yang memiliki tingkat antibodi pelindung terhadap salah satu dari sembilan tipe HPV, kecuali terhadap tipe 6, di mana 26% peserta memiliki antibodi.
Pada pengukuran bulan ketujuh — satu bulan setelah dosis terakhir — sebanyak 97,7% peserta dalam kelompok dua dosis yang diacak dan 97,9% dalam kelompok tiga dosis yang diacak menghasilkan antibodi terhadap kesembilan tipe HPV. Hasil ini secara statistik dinyatakan identik.
Terjadi peningkatan yang signifikan dalam konsentrasi antibodi pelindung pada kedua kelompok
Tingkat antibodi pelindung pada masing-masing kelompok meningkat sebesar 17 hingga 259 kali lipat, tergantung pada tipe HPV. Kadar antibodi tersebut sebanding dengan yang terlihat dalam studi sebelumnya pada perempuan tanpa HIV, mencerminkan kondisi fungsi imun peserta yang secara keseluruhan baik.
Lebih banyak efek samping pada kelompok tiga dosis
Secara keseluruhan, tidak ditemukan efek samping serius. Namun, reaksi di tempat suntikan terjadi pada kedua kelompok, dengan frekuensi dan durasi yang lebih tinggi pada kelompok tiga dosis. Peserta yang menerima tiga dosis juga lebih banyak melaporkan kelelahan.
Pemikiran Penutup
Saat ini belum ada pengobatan untuk HPV, dan vaksinasi merupakan cara paling efektif untuk mencegah infeksi virus ini serta kondisi prakanker dan kanker yang mungkin ditimbulkan. Namun, cakupan vaksinasi masih belum optimal di sebagian besar wilayah dunia. Meskipun terdapat kemajuan signifikan dalam program vaksinasi netral gender di sebagian besar negara Eropa Tengah dan Barat serta Amerika Utara, banyak negara masih gagal mencapai tingkat vaksinasi yang memadai bahkan untuk anak perempuan yang justru paling berisiko.
Orang dewasa yang memutuskan untuk menerima vaksin biasanya harus membayar sendiri, dan harganya bisa menjadi tantangan. Jadwal dua dosis memberikan keringanan finansial dan logistik yang berarti. Misalnya, jika dua dosis diberikan dengan jarak enam bulan, ini dapat disesuaikan dengan kunjungan klinik rutin dua kali setahun yang umumnya dilakukan oleh orang dengan HIV, sehingga tidak membebani individu maupun sistem kesehatan dengan biaya dan logistik kunjungan tambahan. Dua dosis juga berpotensi menimbulkan efek samping yang lebih sedikit, atau setidaknya hanya perlu menghadapinya dua kali.
Meskipun studi ini memberikan kabar baik secara keseluruhan, ada satu hal yang belum bisa dijawab: apakah pria akan merespons vaksin dengan cara yang sama. Beberapa studi menunjukkan bahwa respons imun pada pria dengan HIV sedikit lebih lemah, bahkan dengan tiga dosis. Oleh karena itu, diperlukan studi lanjutan yang dirancang dengan baik, seperti studi ini, untuk mengeksplorasi efektivitas dua dosis vaksin HPV sembilan valensi pada pria.
References
Konopnicki D et al. Immunogenicity and safety of two versus three doses of 9-valent vaccine against Human papillomavirus (HPV) in women with HIV: the Papillon randomized trial. Clinical Infectious Diseases, 2025.
DOI: https://doi.org/10.1093/cid/ciaf241
Artikel asli: Two doses of HPV vaccine as effective as the recommended three-dose schedule for women with HIV
Tautan asli:
https://www.aidsmap.com/news/jun-2025/two-doses-hpv-vaccine-effective-recommended-three-dose-schedule-women-hiv