Lewati ke konten utama
[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Kembali ke Blog
Berita 30 Agustus 2023 1.894 kali dilihat

Penggunaan analog nukleosida dikaitkan dengan diabetes

Cari Topik Serupa
Penggunaan analog nukleosida dikaitkan dengan diabetes

Data mengenai terjadinya diabetes pada Odha telah bertentangan; sebagian menemukan tingkat kejadian diabetes yang lebih tinggi pada Odha, mungkin terkait dengan penggunaan terapi antiretroviral (ART), khususnya protease inhibitor (PI).

Di Kongres Internasional tentang Terapi Infeksi HIV ke-8 di Glasgow, Inggris pada November 2006, para peneliti melaporkan mengenai hasil penelitian D:A:D (Data Collection on Adverse Effects of Antiretroviral Drugs), sebuah penelitian prospektif internasional yang mengamati komplikasi ART setelah beberapa waktu. Penelitian ini melibatkan 33.389 peserta.

Para peneliti mengumpulkan data kasus diabetes melitus yang baru terjadi dan sudah terjadi, dan memakai metode Poisson regression untuk menilai keterkaitan diabetes dengan penggunaan ART, setelah disesuaikan terhadap risiko diabetes yang diketahui atau potensial, termasuk usia pasien, jenis kelamin, ras, indeks massa tubuh, merokok, lipodistrofi, tingkat lemak dalam darah, dan jumlah CD4.

Diabetes didefinisikan sebagai kadar gula dalam darah setelah puasa di atas 7,0 mmol/L pada sedikitnya dua peristiwa secara berturut-turut, atau penggunaan terapi antidiabetes apabila pengukuran kadar gula tidak tersedia.

Hasil

  • Sembilan ratus lima puluh dua pasien (2,7 persen) menderita diabetes melitus pada awal penelitian.
  • Selama enam tahun pemantauan 745 dari 32,437 peserta yang masih terlibat, mengembangkan diabetes baru, dengan kejadian rata-rata 5,72 kasus per 1000 orang-tahun.
  • Risiko pengembangan diabetes meningkat 6 persen setiap tahun penggunaan ART dan menjadi stabil kurang lebih tiga tahun kemudian.
  • Kejadian diabetes (per 1000 orang-tahun) meningkat dari sekitar 4 pada pasien yang tidak memakai d4T menjadi lebih dari 8 pada pasien yang memakai d4T.
  • Peningkatan risiko terkait penggunaan d4T adalah 19 persen per tahun.
  • Setelah disesuaikan terhadap faktor risiko lain, keterkaitan penggunaan d4T dengan diabetes tetap bermakna.
  • Penggunaan ddI dan AZT terkait secara bermakna dengan risiko yang lebih tinggi terhadap diabetes, mengingkatkan risiko ini 6 persen per tahun.
  • Secara keseluruhan, penggunaan PI tidak terkait dengan peningkatan risiko terhadap diabetes, dan ritonavir terkait dengan penurunan risiko yang sedikit namun bermakna.
  • Penggunaan nevirapine terkait dengan risiko diabetes yang lebih rendah, menurunkan risiko sebesar 11 persen per tahun.
  • Peristiwa diabetes yang baru terkait secara bermakna dengan peningkatan tingkat kolesterol dan trigliserid, penurunan pada HDL (“kolesterol yang baik”), dan lipodistrofi.

Kesimpulan

Para peneliti menyimpulkan bahwa tiga analog nukleosida – d4T, ddI, dan AZT – terkait dengan tingkat diabetes melitus yang lebih tinggi.

Walaupun pada penelitian lain, PI terkait dengan komplikasi metabolik dan dianggap menyebabkan perkembangan resistansi terhadap insulin (masalah awal diabetes), keterkaitan ini tidak diamati pada analisis D:A:D. Para peneliti berpendapat bahwa hal ini mungkin karena dampak lipodistrofi terkait nukleosida melampaui dampak dari penggunaan PI sebagai faktor risiko terhadap diabetes, atau karena para peneliti tidak mengukur tingkat resistansi insulin atau toleransi glukosa secara langsung.

Ringkasan: Nucleoside Analog Use Associated with Diabetes in D:A:D Study

Sumber: S De Wit, C A Sabin, R Weber, and others. Relationship between use of stavudine and diabetes mellitus. 8th International Congress on Drug Therapy in HIV Infection. Glasgow. November 12-16, 2006. Abstract PL9.5.