Lewati ke konten utama
[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Kembali ke Blog
Berita 30 Agustus 2023 3.517 kali dilihat

Apakah infeksi HIV atau ART terkait dengan keropos tulang?

Cari Topik Serupa
Apakah infeksi HIV atau ART terkait dengan keropos tulang?

Hingga saat ini penelitian memberi informasi yang bertentangan tentang apakah infeksi HIV atau pengobatannya dapat menyebabkan osteopenia (kepadatan massa tulang yang menurun) atau osteoporosis (keropos tulang yang lebih parah).

Sesuai laporan dalam jurnal AIDS edisi 14 November 2006, para peneliti dari Johns Hopkins University dan Abbott Laboratories melakukan penelitian metaanalisis untuk mempelajari masalah ini. Para peneliti mencari artikel di pangkalan data MEDLINE, PubMed dan EMBASE untuk penelitian silang yang diterbitkan dalam bahasa Inggris antara Januari 1966 sampai November 2005. Dari 37 artikel yang didapat, 20 memenuhi kriteria untuk disertakan. Kemudian para peneliti menentukan rasio kemungkinan bersamaan (pooled odds ratio/OR) terhadap penurunan kepadatan massa tulang dan osteoporosis pada kelompok berikut ini:

  • Orang HIV-positif vs HIV-negatif
  • Pasien yang memakai terapi antiretroviral (ART) vsp asien yang memakainya
  • Pasien yang diobati dengan protease inhibitor (PI) vs pasien yang tidak memakai PI

Hasil

  • Dari 884 pasien HIV-positif yang dilibatkan dalam 11penelitian, 67 persen mengalami penurunan kepadatan massa tulang, dengan 15 persen di antaranya mengalami osteoporosis, yang berarti pooled OR 6,4 persen untuk osteopenia dan 3,7 persen untuk osteoporosis.
  • Berdasarkan data dari sepuluh penelitian, 824 pasien pengguna ART mengalami kemungkinan penurunan kepadatan massa tulang rata-rata 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan 202 pasien yang tidak memakai ART.
  • Berdasarkan tujuh penelitian, risiko osteoporosis meningkat serupa dengan pasien pengguna ART.
  • Dibandingkan dengan 410 pasien yang tidak diberi PI dalam 14 penelitian ini, 791 pasien yang diberi PI mengalami peningkatan kemungkinan penurunan kepadatan massa tulang dan osteoporosis.
  • Hanya sedikit penelitian menyesuaikan untuk masalah bersamaan yang penting misalnya beratnya penyakit HIV atau jangka waktu pengobatan.

Kesimpulan

Penulis menyimpulkan, “Prevalensi osteoporosis pada pasien HIV-positif tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol yang HIV-negatif…Pasien yang memakai ART dan PI mengalami prevalensi penurunan kepadatan massa tulang dan osteoporosis yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Pengaruh penyakit lain dan berbagai unsur pengobatan terhadap perkiraan ini tidak dapat ditentukan.”

Dalam diskusinya para penulis mencatat bahwa selain beratnya penyakit HIV dan jangka waktu pengobatan, berbagai unsur lain dapat mempengaruhi keropos tulang misalnya merokok, asupan kalsium, olahraga, usia dan status mati haid (untuk perempuan).

Pada pasien HIV-positif yang tidak memakai ART, para peneliti berpendapat bahwa peradangan kronis akibat infeksi HIV dapat mengakibatkan penyerapan kembali tulang (bone re-absorption), sementara HIV sendiri dapat mempengaruhi kegiatan osteoclast (sel yang menyerapkan kembali tulang).

Para peneliti menulis “Penelitian lebih lanjut mengenai pasien HIV yang baru memulai terapi dibutuhkan untuk memperjelas dampak permulaan ART dan untuk menyediakan informasi mengenai dampak tersendiri dari unsur ARV terhadap kepadatan massa tulang…Penelitian terkontrol lebih lanjut dibutuhkan untuk memperjelas dampak infeksi HIV, penggunaan ART dan PI terhadap pengeroposan dan risiko patah tulang.

Ringkasan: Is Infection or Antiretroviral Therapy Associated with Bone Loss?

Sumber: T T Brown, R B Qaqish. Antiretroviral therapy and the prevalence of osteopenia and osteoporosis: a meta-analytic review. AIDS 20(17): 2165-2174. November 14, 2006.