Keropos tulang ditemukan pada beberapa perempuan HIV-positif, bahkan sebelum mati haid
Tulang yang semakin tipis biasanya dianggap sebagai masalah yang dapat terjadi di antara perempuan yang sudah mati haid. Akan tetapi penipisan tulang juga terjadi pada Odha laki-laki dan perempuan, bahkan sebelum mati haid. Penipisan tulang yang belum parah disebut osteopenia, dan penipisan tulang yang parah disebut osteoporosis. Secara umum, tulang yang lebih tipis meningkatkan risiko patah tulang ketika jatuh.
Kebanyakan orang berpikir bahwa tulang adalah bagian tubuh yang jarang berubah. Akan tetapi, tulang sangat dinamis, bagian kecil senantiasa menjadi hilangdan kemudian terbentuk kembali. Ketika proses hilang dan terbentuk kembali ini tidak seimbang maka tulang akan semakin menipis.
Beberapa faktor risiko penipisan tulang yang selama ini dikenal adalah sebagai berikut:
- Lanjut usia
- Perempuan
- Kekurangan estrogen pada perempuan
- Rokok
- Berat badan rendah (dewasa kurang dari 58 kg)
- Kurang konsumsi kalsium dan vitamin D3
- Konsumsi alkohol yang berlebihan
- Kurang olahraga
Perempuan di Amerika Utara dan Eropa Barat lebih berisiko terhadap patah tulang berkaitan dengan osteoporosis. Namun hal ini mungkin berbeda di wilayah dunia lain, barangkali karena perbedaan pola makan, keturunan dan olahraga.
Obat-obatan kadang berperan pada pengeroposan tulang, dalam hal kecepatan penipisan tulang. Di bawah ini adalah contoh obat yang meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis:
- Obat antikanker
- Obat antikejang
- Kortikosteroid
- Obat cangkok organ
- Hormon tiroksin dosis tinggi
- Heparin (untuk mencairkan darah)
Tulang yang tipis pertama dilaporkan di antara laki-laki HIV-positif kurang lebih satu dasawarsa yang lalu. Beberapa penelitian selanjutnya membuktikan penemuan ini pada laki-laki dan perempuan HIV-positif.
Para peneliti belum jelas mengapa terjadi penurunan kepadatan tulang pada beberapa Odha, tetapi ada beberapa teori sebagai berikut:
- HIV merusak usus, mengakibatkan menurunnya kemampuan meresap kalsium dan gizi lain. Karena kalsium diperlukan untuk pembentukan tulang, maka kegagalan penyerapan, terutama yang berlangsung selama bertahun-tahun, dapat memicu penurunan kepadatan tulang secara bertahap.
- HIV mungkin dapat merusak tulang secara langsung.
- Karena infeksi HIV merangsang sistim kekebalan tubuh, kelebihan isyarat zat kimia yang dikeluarkan oleh sel kekebalan ini mungkin mempercepat pengeroposan tulang.
Sebuah tim peneliti di Universitas Harvard yang mempelajari gizi dan metabolisme, terutama pada Odha, telah meneliti kesehatan tulang secara jangka panjang. Temuan mereka menunjukkan bahwa beberapa perempuan lebih berisiko terhadap osteopenia dan osteoporosis.
Rincian penelitian
Penelitian ini tidak melibatkan perempuan pemakai obat-obatan yang mungkin mempengaruhi kesehatan tulang (misalnya steroid atau pil KB, atau mereka dengan masalah yang dapat mempengaruhi kepadatan tulang telah terganggu, misalnya : penggunaan narkoba, kehamilan, kanker, osteoporosis). Namun perempuan pemakai suplemen estrogen sebagai bagian dari terapi pengganti hormon turut disertakan dalam penelitian ini.
Sesaat mereka tergabung dalam penelitian ini, secara rutin mereka diwawancarai dan dites darah, serta juga foto rontgen khusus (DEXA Scan) untuk menilai kepadatan tulang dan komposisi tubuh. Mereka dipantau paling lama dua tahun.
Dua ratus perempuan tergabung dalam penelitian ini separuh HIV-positif dan separuh HIV-negatif. Kedua kelompok ini serupa dalam usia, berat badan dan ras. Profil dasar para perempuan yang terinfeksi HIV ini adalah sebagai berikut:
- Usia rata-rata: 41 tahun
- 77% masih mengalami haid
- Terinfeksi HIV sekitar delapan tahun
- 81% memakai ART
- 46% memakai ART memiliki jumlah virus di bawah 50
- Jumlah CD4 rata-rata sekitar 400
Hasil
Pada awal penelitian ditemukan tulang para perempuan HIV-positif lebih tipis secara bermakna dibandingkan perempuan HIV-negatif, khususnya pada bagian-bagian berikut ini:
- Tulang belakang bagian bawah
- Pinggul
- Persendian di pinggul
Hasil yang serupa bahkan ditemukan pada perempuan HIV-positif yang belum mati haid atau memakai suplemen estrogen untuk terapi hormon.
Kadar penipisan tulang yang belum parah disebut osteopenia, 41 persen perempuan HIV-positif mengalami. Keropos tulang yang lebih parah disebut osteoporosis, 7 persen perempuan HIV-positif mengalami ini.
Hormon dan zat lain
Tingkat hormon seperti estrogen, LH dan FSH tidak berbeda di antara perempuan HIV-positif atau HIV-negatif. Secara garis besar, asupan kalsium dan vitamin D serta tingkat gizi dalam darah serupa antara perempuan HIV-positif dan HIV-negatif.
Berkaitan dengan analog nukleosida (NRTI)?
Tim peneliti menemukan kadarasam laktik tampaknya lebih tinggi pada perempuan HIV-positif. Ini dapat terjadi di antara mereka yang memakai NRTI. Tim ini juga menemukan kaitan antara jangka waktu penggunaan NRTIdengan penipisan tulang. Semakin lama penggunaan NRTI dikaitkan dengan semakin menipisnya tulang.
Secara tepat belum diketahui bagaimana NRTI mungkin meningkatkan proses penipisan tulang, dan temuan ini harus diselidiki lebih lanjut. Justru para peneliti mengingatkan bahwa perpanjangan masa penggunaan NRTI mungkin merupakan tanda awal kesehatan yang memburuk, yang mungkin mempengaruhi kepadatan tulang.
Peneliti juga mencatat bahwa selama dua tahun mereka memantau peserta ini, pengguna NRTI selama masa itu tidak dikaitkan dengan penipisan tulang, justru selama dua tahun penelitian tidak terjadi penipisan lanjutan.
Kesimpulan:
Hasil penelitian ini mengkhawatirkan sekaligus meyakinkan: Dari kelompok perempuan yang relatif masih muda, serta belum mati haid dan sebagian besar memakai ART, 41 persen mempunyai tulang lebih tipis dari normal. Berita baiknya adalah dalam dua tahun masa penelitian tidak terjadi penipisan lanjutan yang berarti. Perlu diingat bahwa hasil temuan mungkin berbeda pada perempuan yang:
- Lebih tua dan sudah mati haid
- Penyakit HIV-nya yang lebih lanjut
- Kehilangan berat badan yang terkait HIV
Perempuan HIV-positif yang mengalami penipisan tulang mungkin membutuhkan panduan tentang gizi serta suplemen kalsium dan vitamin D. Tambahannya, obat pembentuk tulang juga mungkin bermanfaat.
Ringkasan: Bone loss found in some HIV positive women, even before menopause
Sumber:
1. Thomas J and Doherty SM. HIV infection—a risk factor for osteoporosis. Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes 2003 Jul 1;33(3):281-91.
2. Dolan SE, Kanter JR and Grinspoon S. Longitudinal analysis of bone density in human immunodeficiency virus-infected women. Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism 2006 Aug;91(8):2938-45.