Banyak anak HIV-positif yang memakai terapi antiretroviral (ART) kehilangan antibodi terhadap tipe vaksin untuk penyakit seperti cacar dan gondong, termasuk juga antibodi untuk virus tipe liar seperti varisela zoster dan virus sitomegalo. Peneliti dari Belanda melaporkan hal ini pada Jurnal Pediatrics edisi Agustus 2006.
Dr. Taco W. Kuijpers dan rekan dari Pusat Pendidikan Rumah Sakit Anak di Amsterdam mencatat bahwa setelah pemberian vaksin campak, gondong dan rubela (measles, mumps, rubella/MMR) kekebalan tubuh seumur hidup dapat dipertahankan pada anak yang sehat.
Anak HIV-positif cenderung mempunyai tanggapan yang lebih lemah dan berdampak lebih sementara. Tidak jelas apakah ART dapat menghentikan atau mengembalikan kehilangan antibodi spesifik.
Untuk menyelidikinya, para peneliti menyelidiki 59 anak divaksinasi terhadap MMR sebelum memulai ART. Namun demikian, pada awalnya hanya 24 (43 persen) yang memiliki antibodi terhadap ketiga patogen tersebut.
Lebih lanjut, selama memakai ART, antibodi terhadap campak hilang pada 40 persen anak yang HIV-positif pada awal. Dan juga, 38 persen anak kehilangan antibodi terhadap gondong dan 11 persen anak kehilangan antibodi terhadap rubela.
Tidak satu pun dari 53 anak dengan virus kapsidantigen Epstein-Barr menunjukkan perubahan. Akan tetapi, terjadi kehilangan imunoglobulin G virus varisela zoster pada 7 dari 34 anak (21 persen) dan imonuglobulin G virus sitomegalo pada 3 dari 45 (7 persen).
Para peneliti mencatat bahwa beberapa anak divaksinasi ulang terhadap MMR.
Walaupun tidak diketahui apakah kehilangan antibodi spesifik menunjukkan ancaman nyata, para peneliti menyimpulkan bahwa “pemeriksaan rutin untuk kehilangan antibodi spesifik pada anak HIV-positif sepertinya merupakan kewajiban.”
Ringkasan: Childhood Disease Immunity Impaired in Children With HIV
Sumber: Pediatrics2006; 118: e315-e322