Lewati ke konten utama
[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Kembali ke Blog
Blog 08 Oktober 2026 0 kali dilihat

Sebuah studi di Chicago mengkaji cara-cara untuk membawa kembali orang dengan HIV ke dalam layanan perawatan

Cari Topik Serupa
Sebuah studi di Chicago mengkaji cara-cara untuk membawa kembali orang dengan HIV ke dalam layanan perawatan

Sebuah studi di Chicago mengkaji cara-cara untuk membawa kembali orang dengan HIV ke dalam layanan perawatan


Oleh: CATIE News, 8 Oktober 2026

Jika dimulai dan digunakan sesuai petunjuk, pengobatan HIV (terapi antiretroviral, ART) dapat menurunkan kadar HIV di dalam darah. Seiring berjalannya waktu, dengan kepatuhan yang berkelanjutan, kadar HIV dalam darah akan turun hingga ke tingkat yang sangat rendah. Tingkat yang rendah ini sering disebut sebagai "tidak terdeteksi" (undetectable)—artinya kadar HIV sangat rendah sehingga tidak dapat dideteksi melalui tes laboratorium yang umum digunakan.
Menekan jumlah HIV membantu sistem kekebalan tubuh untuk memulihkan diri dan memungkinkan banyak pengguna ART untuk menjalani hidup yang panjang dan sehat. Bahkan, para peneliti memprediksi bahwa kaum muda yang memulai ART saat ini dapat hidup hingga usia lanjut, selama mereka terus menjalani pengobatan dan menjaga kadar HIV tetap tertekan.
Manfaat lain dari penekanan jumlah virus (supresi virus) adalah bahwa orang yang hidup dengan HIV yang memiliki jumlah virus "tidak terdeteksi" tidak dapat menularkan virus tersebut kepada pasangan seksual mereka.

Situasi saat ini
Dalam dunia yang ideal, setiap orang yang hidup dengan HIV akan memiliki akses terhadap perawatan dan pengobatan, serta mampu mencapai dan mempertahankan supresi virus. Namun, estimasi dari Badan Kesehatan Masyarakat Kanada (Public Health Agency of Canada/PHAC) menunjukkan bahwa 70.900 orang yang hidup dengan HIV di Kanada pada tahun 2024 berada pada tahapan berikut dalam rangkaian perawatan HIV:
•    91% mengetahui diagnosis mereka
•    86% dari mereka yang didiagnosis dengan HIV menjalani terapi antiretroviral (ART)
•    96% dari mereka yang menjalani ART mencapai supresi jumlah virus (viral load)
Meskipun Kanada telah mencapai kemajuan yang signifikan, masih banyak upaya yang perlu dilakukan untuk memenuhi target global 95-95-95 terkait diagnosis HIV, pengobatan, dan supresi virus.
Estimasi terbaru dari PHAC yang diterbitkan pada Juli 2026 menunjukkan bahwa terdapat 2.517 infeksi HIV baru pada tahun 2024—meningkat sebesar 22,8% dibandingkan tahun 2022. Kanada juga masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk membendung penyebaran infeksi HIV baru.
Di AS
Pada tahun 2019, AS meluncurkan rencana untuk mengakhiri HIV sebagai masalah kesehatan masyarakat di negara tersebut. Menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, hanya sekitar 66% orang yang hidup dengan HIV mengalami penekanan virus pada tahun 2021. Jika AS ingin mengurangi penyebaran HIV dan meningkatkan hasil kesehatan bagi orang yang hidup dengan HIV, maka lebih banyak orang akan memerlukan dukungan untuk mencapai dan mempertahankan penekanan virus.


Sebuah studi di Chicago
Menurut tim peneliti di Ruth M. Rothstein CORE Center di Chicago, “Cook County di Illinois adalah 1 dari 48 kabupaten dengan beban penularan HIV tertinggi di AS.” Tim tersebut menyatakan bahwa membantu orang “yang hidup dengan HIV tetapi tidak dirawat […] adalah kunci untuk [mencegah] infeksi baru.” Mereka mencatat bahwa faktor-faktor berikut menempatkan orang yang hidup dengan HIV pada risiko untuk tidak terlibat dan tetap dirawat:
•     kemiskinan
 ketidakamanan perumahan
•     hilangnya asuransi [kesehatan] atau akses terhadap layanan kesehatan primer
•     gangguan penggunaan narkoba
•     penyakit mental
Tim di CORE Center menyatakan bahwa klinik mereka “memiliki model perawatan dengan hambatan rendah dengan banyak orang yang hidup dengan HIV [yang mencari perawatan dengan datang ke klinik] tanpa janji temu yang telah ditentukan sebelumnya.”
Para peneliti mencari peserta dewasa yang tidak sedang hamil untuk studi di Chicago ini, yang berupaya mengajak individu untuk kembali terlibat dalam perawatan HIV melalui beberapa cara, antara lain:
•    pemasangan iklan di ruang pemeriksaan
•    penyebaran informasi dari mulut ke mulut
•    rujukan dari peserta lain
Tujuan studi ini adalah agar para peserta kembali terlibat dalam perawatan sehingga mereka dapat segera melanjutkan pengobatan dan mencapai kesehatan yang lebih baik melalui penekanan jumlah virus (supresi virus). Peserta yang bergabung dalam studi ini ditawari untuk segera melanjutkan pengobatan dengan Biktarvy, sebuah pil yang mengandung obat-obatan berikut:
•    biktegravir
•    TAF (tenofovir alafenamide)
•    FTC (emtricitabine)
Biktarvy dikonsumsi satu kali sehari, baik dengan maupun tanpa makanan. Obat ini umumnya dapat ditoleransi dengan baik dan telah terbukti sangat efektif dalam berbagai uji klinis selama satu dekade terakhir.

Detail studi
Setelah direkrut, para peserta menjalani wawancara mendalam, serta riwayat medis dan riwayat HIV mereka ditinjau kembali. Peneliti juga membantu peserta mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin memengaruhi kesehatan dan pengobatan mereka. Selain memeriksa faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya—yang dapat memengaruhi keterlibatan dalam perawatan—peneliti juga menelaah aspek lain, seperti:
•    kerawanan pangan
•    rendahnya literasi kesehatan
•    stigma yang terinternalisasi dan kekhawatiran mengenai pengungkapan status HIV
•    kebutuhan akan layanan kesehatan mental
Para peserta menjalani pemeriksaan medis, serta pengambilan sampel darah dan urine untuk dianalisis. Mereka juga menerima sejumlah uang (antara $25(452,000 rupiah) hingga $50(905,000 rupaih) setiap kali berkunjung ke klinik studi pada waktu-waktu tertentu selama satu tahun masa penelitian.
Para peneliti berhasil mengikutsertakan 100 peserta dengan profil rata-rata sebagai berikut:
•    usia – 37 tahun
•    jenis kelamin: laki-laki cisgender – 68, perempuan cisgender – 24, perempuan transgender – 6, laki-laki transgender atau non-biner – 2
•    durasi tanpa ART (terapi antiretroviral) – lima bulan
•    jumlah virus (viral load) – 11.084 kopi/mL
•    jumlah sel CD4+ – 310 sel/mm3 (berkisar antara 6 hingga 1.624 sel/mm3)
Para peserta menghadapi berbagai prioritas mendesak lainnya dalam hidup mereka; 46% mengalami ketidakpastian tempat tinggal, dan 35% mengalami kerawanan pangan. Selain itu, 33% peserta mengungkapkan kekhawatiran mengenai kemampuan mereka untuk mengonsumsi ART setiap hari. Sebanyak 22% peserta melaporkan penggunaan zat tertentu, dan 23% meminta layanan kesehatan mental.
 

Hasil
Seiring berjalannya waktu, beberapa peserta mengundurkan diri dari penelitian. Staf peneliti berupaya untuk tetap menjalin kontak dengan para peserta melalui pesan singkat dan panggilan telepon. Namun, selama penelitian berlangsung, beberapa peserta berhenti merespons pesan maupun panggilan, dan sejumlah nomor telepon tidak lagi aktif.
Tingkat partisipasi dalam penelitian dari waktu ke waktu adalah sebagai berikut:
•    minggu ke-1 – 100%
•    minggu ke-4 – 86%
•    minggu ke-12 – 64%
•    minggu ke-24 – 70%
•    minggu ke-48 – 66%
Pada minggu ke-48, 54 dari 66 peserta yang tersisa mencapai kondisi supresi virus (jumlah virus dalam darah sangat rendah).
Biktarvy dapat ditoleransi dengan baik, dan sebagian besar efek samping yang muncul tergolong ringan atau sedang. Tidak ada peserta yang mengundurkan diri dari penelitian akibat efek samping yang berkaitan dengan Biktarvy. Selain itu, tidak ada peserta yang mengalami perkembangan HIV yang resisten terhadap obat-obatan yang terkandung dalam Biktarvy.
Pada akhir penelitian, rata-rata jumlah sel CD4+ meningkat menjadi 474 sel/mm3. Para peneliti menemukan bahwa peserta yang mengungkapkan kekhawatiran mengenai kepatuhan pada awal studi jauh lebih mungkin mengalami kesulitan dalam menekan HIV.

Keberhasilan dengan catatan
Mempertahankan 66% peserta dalam studi ini dan menjaga 54 orang di antaranya mencapai supresi virus merupakan pencapaian yang signifikan. Para peserta studi menghadapi banyak tantangan dalam kehidupan maupun kesehatan mereka. Upaya untuk mendapatkan tempat tinggal yang aman dan kecukupan pangan sehari-hari menyita banyak waktu serta melemahkan semangat; hal ini kemungkinan besar menjadi prioritas dibandingkan dengan mengakses layanan kesehatan.
Para peserta diikutsertakan dalam studi di Chicago antara September 2020 hingga musim panas 2021, saat pandemi COVID-19 masih berlangsung dengan intens. Pandemi ini kemungkinan menghadirkan tantangan tambahan dalam mempertahankan partisipasi mereka dalam studi tersebut.

Terapi Antiretroviral (ART) kerja panjang
Dalam beberapa tahun terakhir, formulasi ART suntik kerja panjang (long-acting) mulai digunakan secara lebih luas di Amerika Serikat. Dalam studi ini, hanya dua peserta yang beralih dari ART oral harian ke ART suntik kerja panjang. Di masa depan, lebih banyak orang yang mengalami kesulitan dalam kepatuhan pengobatan mungkin dapat memperoleh manfaat dari ART kerja panjang. Namun, ART kerja panjang saja tidak dapat mengatasi tantangan yang timbul akibat kurangnya perumahan yang terjangkau, akses pangan yang tidak memadai, atau masalah kesehatan mental yang tidak terdiagnosis, tidak diobati, maupun tidak tertangani dengan baik.
Buletin CATIE News mendatang akan membahas lebih lanjut mengenai penggunaan ART kerja panjang bagi individu yang menghadapi kendala dalam kepatuhan pengobatan.

Memastikan keberlanjutan perawatan
Jika penyebaran HIV ingin diakhiri sebagai masalah kesehatan masyarakat, diperlukan investasi sumber daya yang lebih besar pada klinik HIV dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), agar mereka dapat menyediakan layanan serta dukungan yang benar-benar menjawab kebutuhan pasien. Klinik mungkin juga perlu mempekerjakan tenaga yang disebut oleh para peneliti sebagai "spesialis retensi personal" (personal retention specialists), yang bertugas melakukan pemantauan berkala terhadap pasien serta memastikan mereka tetap terlibat dalam perawatan dan pengobatan.
Penelitian mengenai kebutuhan orang yang hidup dengan HIV yang berisiko putus perawatan—atau yang sudah tidak lagi mendapatkan perawatan—sangatlah penting. Mencapai tingkat supresi virus 100% di kalangan pengguna ART mungkin tampak seperti angan-angan belaka, namun tanpa kemajuan tersebut, upaya untuk meningkatkan kesehatan orang yang hidup dengan HIV serta menghentikan penyebaran virus ini tidak akan mungkin tercapai.
—Sean R. Hosein
 

Resource
Public Health Agency of Canada. Canada's Progress Toward Ending the HIV Epidemic — Report on Key Indicators. 24 July 2026. 
REFERENCE:
Huhn GD, Osborn R, Roden L, et al. The COMEBACK Study: Social determinants of health impact on virologic suppression in a 48-week low-barrier-care study of rapid antiretroviral therapy reinitiation among persons with HIV lost to care. Open Forum Infectious Diseases. 2026 Apr 18;13(5): ofag216.

Artikel asli:
Tautan asli: https://www.catie.ca/catie-news/chicago-study-looks-at-ways-of-bringing-people-with-hiv-back-into-care