Lewati ke konten utama
[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Kembali ke Blog
Blog 08 Oktober 2026 1 kali dilihat

Pengobatan pencegahan tuberkulosis menurunkan risiko TB sebesar 61% pada orang yang memulai pengobatan HIV

Cari Topik Serupa
Pengobatan pencegahan tuberkulosis menurunkan risiko TB sebesar 61% pada orang yang memulai pengobatan HIV

Pengobatan pencegahan tuberkulosis menurunkan risiko TB sebesar 61% pada orang yang memulai pengobatan HIV
 

Oleh: Keith Alcorn, aidsmap.com, 8 Oktober 2026
 

Sebuah studi berskala besar yang mencakup enam negara menemukan bahwa pengobatan pencegahan tuberkulosis (TB) mampu menurunkan risiko berkembangnya TB aktif sebesar 61% pada orang yang hidup dengan HIV yang baru memulai pengobatan antiretroviral.


Menurut para peneliti, temuan studi yang diterbitkan bulan ini dalam jurnal The Lancet HIV menunjukkan bahwa pengobatan pencegahan TB tetap menjadi elemen penting dalam perawatan HIV, bahkan di era di mana pengobatan antiretroviral tersedia secara universal.


Tuberkulosis merupakan infeksi oportunistik yang umum terjadi pada orang yang hidup dengan HIV. Sebuah meta-analisis terhadap berbagai studi yang dilakukan di Afrika sub-Sahara antara tahun 2000 dan 2022 mengestimasi bahwa sekitar empat dari setiap seratus orang yang hidup dengan HIV terkena TB setiap tahunnya. Studi tersebut menemukan bahwa terapi antiretroviral memang menurunkan risiko terkena TB, namun tidak menghilangkannya sepenuhnya.
Terapi antiretroviral dapat meningkatkan kekebalan tubuh, tetapi pengobatan pencegahan khusus TB tetap diperlukan untuk memberikan perlindungan terhadap perkembangan penyakit TB.


Pengobatan pencegahan TB (Tuberculosis Preventive Treatment atau TPT) terdiri dari rangkaian pengobatan yang bertujuan untuk membasmi infeksi TB laten. Bakteri tuberkulosis dapat bertahan di dalam tubuh dan dikendalikan oleh sistem kekebalan tubuh selama bertahun-tahun setelah paparan awal. Namun, jika kekebalan tubuh menurun atau terjadi malnutrisi, bakteri tersebut dapat berkembang menjadi tuberkulosis aktif. Orang yang hidup dengan HIV yang pernah terpapar TB dan memiliki infeksi laten sangat rentan terhadap perkembangan TB aktif.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sangat merekomendasikan pemberian isoniazid selama 6 atau 9 bulan, atau kombinasi isoniazid dengan rifapentin atau rifampisin selama 3 bulan, sebagai langkah pencegahan TB bagi semua orang yang hidup dengan HIV. TPT sebaiknya dimulai sesegera mungkin setelah seseorang masuk ke dalam layanan perawatan HIV, setelah dipastikan bahwa ia tidak menderita TB aktif.


Meskipun uji klinis menunjukkan bahwa TPT dapat menurunkan angka kejadian tuberkulosis sebesar 32% hingga 62%—tergantung pada populasi yang diteliti—semua studi tersebut dilakukan sebelum pengobatan HIV universal menjadi standar perawatan. Oleh karena itu, belum diketahui secara pasti seberapa besar TPT dapat menurunkan angka kejadian TB pada orang yang telah menerima pengobatan antiretroviral.


Untuk menjawab pertanyaan ini, sebuah kelompok peneliti internasional merancang studi kohort prospektif yang menyerupai uji klinis. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas TPT jika dimulai dalam waktu delapan minggu setelah dimulainya pengobatan antiretroviral.


Studi ini menggunakan data dari rekam medis elektronik orang yang hidup dengan HIV yang memulai pengobatan antiretroviral di enam negara dengan tingkat insiden tuberkulosis (TB) yang tinggi (Haiti, Kenya, Nigeria, Uganda, Ukraina, dan Zimbabwe). Individu yang memulai pengobatan antara Januari 2018 dan Desember 2021 (hingga Desember 2022 untuk Uganda dan Zimbabwe) memenuhi kriteria untuk diikutsertakan dalam studi ini. Para peserta dipantau selama dua tahun setelah dimulainya terapi pencegahan TB (TPT), atau hingga terjadi kematian atau diagnosis TB aktif.


Para peneliti menggunakan metode yang berbeda untuk menentukan populasi studi di setiap negara, bergantung pada sistem pencatatan nasional dan jumlah orang yang hidup dengan HIV yang memulai pengobatan. Di Haiti (n=69.936) dan Ukraina (n=57.851), seluruh individu yang memulai pengobatan diikutsertakan dalam studi, sementara di Nigeria (n=8.053), Uganda (65.936), dan Zimbabwe (24.099), peneliti memilih sampel yang representatif secara nasional. Di Kenya (n=9.549), semua individu yang menerima pengobatan melalui salah satu mitra pelaksana PEPFAR diikutsertakan.
Secara keseluruhan, 56% peserta studi di keenam negara tersebut adalah perempuan, 62% berusia 25–44 tahun, 44% berada pada stadium HIV 1 menurut WHO (asimtomatik), dan 59% menerima pengobatan antiretroviral berbasis dolutegravir. Komposisi demografis populasi studi bervariasi antarnegara, yang mencerminkan perbedaan karakteristik epidemi HIV di masing-masing negara tersebut. Kelompok peserta di Ukraina memiliki proporsi laki-laki yang lebih tinggi dibandingkan negara lain, dan peserta di Ukraina cenderung berusia di atas 35 tahun. Terdapat pula perbedaan dalam rejimen pengobatan HIV antarnegara (peserta di Haiti, Kenya, dan Nigeria lebih mungkin menerima dolutegravir dan lebih jarang menerima efavirenz dibandingkan peserta di negara lain). Sekitar 40% peserta di Uganda dan Ukraina tidak menerima TPT, sementara di Nigeria angka tersebut kurang dari 6%.


Hasil utama yang diamati dalam studi ini adalah insiden tuberkulosis (yang terkonfirmasi melalui laboratorium atau didiagnosis secara klinis) serta kematian akibat penyebab apa pun. Analisis gabungan dari kohort di semua negara yang berpartisipasi menunjukkan bahwa memulai TPT dalam waktu delapan minggu setelah dimulainya terapi antiretroviral dapat menurunkan risiko TB sebesar 61% (rasio hazard yang disesuaikan/aHR 0,39; 0,34–0,43) dan risiko kematian sebesar 45% (aHR 0,55; 0,51–0,58). TPT dikaitkan dengan penurunan risiko TB dan kematian di semua negara, kecuali Nigeria; di negara tersebut, perbedaan hasil yang diperoleh tidak signifikan karena ukuran sampel yang kecil.
Faktor demografis dan faktor yang berkaitan dengan HIV memiliki dampak yang dapat diabaikan terhadap efektivitas TPT (terapi pencegahan tuberkulosis) dalam mencegah TB, kecuali untuk variabel tahun pendaftaran di Kenya.
Memulai TPT dalam waktu dua minggu setelah dimulainya pengobatan antiretroviral memberikan efek perlindungan yang lebih baik dibandingkan dengan memulai dalam waktu delapan minggu; berdasarkan analisis gabungan, langkah ini mengurangi risiko terkena TB sebesar 68%.


Para peneliti mencatat bahwa penggunaan TPT belum meluas hingga PEPFAR berkomitmen untuk menyediakannya bagi semua orang pada tahun 2018. Hingga tahun 2023, 13 juta orang telah menerima TPT melalui program yang didanai oleh PEPFAR. Mengingat pendanaan untuk perawatan HIV kini semakin terbatas, para peneliti menyimpulkan bahwa “pengawasan berkelanjutan terhadap penyediaan TPT bagi orang yang hidup dengan HIV akan sangat penting untuk memastikan pencapaian yang ada tetap terjaga.”


Manajemen rantai pasok, integrasi TPT ke dalam layanan perawatan HIV, peningkatan akses terhadap perangkat diagnostik TB di tempat layanan (seperti tes TB-LAM melalui urine), serta edukasi bagi para profesional dan pemangku kepentingan akan tetap menjadi aspek krusial dalam pelaksanaan program. Selain itu, bukti lebih lanjut mengenai rejimen TPT jangka pendek juga akan mendukung implementasi program tersebut, pungkas para penulis.

Artikel asli: Tuberculosis preventive treatment reduces risk of TB by 61% in people starting HIV treatment
Tautan asli: https://www.aidsmap.com/news/oct-2026/tuberculosis-preventive-treatment-reduces-risk-tb-61-people-starting-hiv-treatment
Referensi:
Shah NS et al. Programmatic effectiveness of tuberculosis preventive treatment for people with HIV in six high-tuberculosis burden countries (PROTECT): a prospective cohort study and meta-analysis. Lancet HIV 13: e723-e734, 2026 (open access).
https://doi.org/10.1016/S2352-3018(26)00140-2
Full image credit: Loyce prepares her weekly pill box of Anti-Retroviral Treatment at her home in Chitungwiza. Morgana Wingard/Global Fund Advocates Network. Image available at the Global Fund under a Creative Commons licence CC BY-NC 4.0.