Lewati ke konten utama
[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Kembali ke Blog
Blog 02 September 2026 2 kali dilihat

Bagaimana HIV Memengaruhi Kesehatan Mata pada Orang Dewasa Lanjut Usia

Cari Topik Serupa
Bagaimana HIV Memengaruhi Kesehatan Mata pada Orang Dewasa Lanjut Usia

Bagaimana HIV Memengaruhi Kesehatan Mata pada Orang Dewasa Lanjut Usia
 

Oleh: Tayler Shaw, University of Colorado School of Medicine
Tanggal: 2 September 2026
Disunting oleh: Robert Egan


Sebuah studi baru yang dipimpin oleh peneliti dari Departemen Oftalmologi University of Colorado Anschutz menemukan bahwa orang lanjut usia yang hidup dengan HIV dan memiliki supresi virus yang baik mungkin lebih sering mengalami gangguan mata tertentu—terutama mata kering—dibandingkan orang lanjut usia tanpa HIV.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Viruses ini merupakan penelitian pertama yang secara komprehensif menggambarkan kesehatan mata pada orang dewasa berusia 60 tahun ke atas yang hidup dengan HIV dengan supresi virus stabil. Supresi virus berarti jumlah virus dalam darah sangat rendah atau tidak terdeteksi; dengan kepatuhan pengobatan yang baik, HIV tidak ditularkan melalui hubungan seksual (Undetectable = Untransmittable atau U=U).
Kelompok tersebut dibandingkan dengan orang dewasa seusia yang tidak hidup dengan HIV, jelas Alison Abraham, PhD, MS, MHS, penulis utama studi.


Abraham adalah wakil ketua bidang pendidikan dan profesor di Departemen Epidemiologi, Colorado School of Public Health. Ia juga memiliki penugasan di Departemen Oftalmologi CU Anschutz dan telah meneliti HIV, penuaan sehat, serta penurunan fungsi sensorik selama beberapa dekade.
“Penglihatan adalah salah satu indra utama yang kita andalkan. Banyak gangguan mata yang mengkhawatirkan berkaitan dengan usia, dan perubahan penglihatan dapat berdampak besar terhadap kualitas hidup. Orang yang menua dengan HIV memiliki beban lebih tinggi dari sejumlah penyakit kronis terkait usia, dan beberapa kondisi tersebut dapat muncul lebih awal dibandingkan pada orang tanpa HIV.”
— Alison Abraham


Temuan mengenai mata kering: “Kejutan besar”
Penelitian ini, yang juga disebut HIV Vision Study, merupakan bagian tambahan dari penelitian kolaboratif nasional yang didukung National Institutes of Health (NIH). Tujuannya adalah memahami dan mengurangi dampak penyakit kronis pada orang yang hidup dengan HIV.
Para peneliti membandingkan 74 orang lanjut usia yang hidup dengan HIV dengan 65 orang dewasa tanpa HIV. Antara 2021 dan 2023, seluruh peserta menjalani serangkaian pemeriksaan mata dan penglihatan di Johns Hopkins Wilmer Eye Institute, Maryland.
Hasilnya menunjukkan bahwa 15% peserta dengan HIV mengalami kelainan refraksi yang belum terkoreksi—yaitu kondisi ketika bentuk mata menyebabkan penglihatan tidak jelas—dibandingkan 5% pada kelompok tanpa HIV.
Sekitar separuh peserta dengan HIV memenuhi kriteria diagnosis katarak atau pernah menjalani operasi katarak, dibandingkan 20% peserta tanpa HIV. Katarak adalah kondisi ketika lensa mata menjadi keruh.
Penyakit mata yang berpotensi mengancam penglihatan, seperti degenerasi makula dan retinopati diabetik, jarang ditemukan pada kedua kelompok.
“Secara keseluruhan, orang dewasa yang hidup dengan HIV dan menjalani pengobatan dengan baik memiliki kondisi yang cukup baik dalam banyak aspek, termasuk kesehatan penglihatan. Hal yang sangat mengejutkan bagi kami adalah temuan mengenai mata kering.”
— Alison Abraham
Abraham terkejut melihat tingginya kejadian mata kering pada kedua kelompok. Sekitar 63% peserta yang hidup dengan HIV dan 51% peserta tanpa HIV menunjukkan tanda klinis penyakit mata kering.
Tingkat kekurangan produksi air mata kategori sedang hingga berat hampir sama pada kedua kelompok, yaitu 34% pada kelompok dengan HIV dan 33% pada kelompok tanpa HIV. Namun, perbedaan pada penilaian gabungan mata kering tampaknya sebagian berkaitan dengan tanda lain, termasuk disfungsi kelenjar Meibom, yaitu 20% pada kelompok dengan HIV dibandingkan 8% pada kelompok tanpa HIV.
Kelenjar Meibom menghasilkan lapisan minyak pada air mata yang membantu mencegah air mata menguap terlalu cepat. Gangguan pada kelenjar ini dapat menyebabkan atau memperburuk mata kering.
“Ini sama sekali bukan hal yang kami duga. Temuan ini menimbulkan kemungkinan bahwa HIV atau faktor-faktor yang berkaitan dengan HIV dapat berkontribusi terhadap mata kering. Namun, penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar diperlukan untuk memahami penyebabnya.”
— Alison Abraham
Penyebab pastinya belum diketahui. Namun, Abraham menduga aktivasi sistem kekebalan dan peradangan persisten yang terkait dengan infeksi HIV kronis mungkin berperan.
“HIV dapat memengaruhi jaringan mata, dan aktivasi sistem kekebalan yang persisten dapat terjadi meskipun virus sudah ditekan secara sistemik. Salah satu kemungkinannya adalah proses peradangan lokal berkontribusi terhadap penyakit pada permukaan mata, meskipun penelitian ini tidak dirancang untuk menentukan mekanismenya. Secara keseluruhan, jika terdapat masalah mata pada orang dewasa dengan HIV yang terkontrol dengan baik, masalah tersebut tampaknya adalah mata kering.”
— Alison Abraham


Perlunya penelitian lebih lanjut
Abraham menjelaskan bahwa pada masa epidemi HIV dan AIDS pada 1980-an hingga awal 1990-an, sebagian besar penelitian mata berfokus pada orang dengan sistem kekebalan yang sangat lemah.
Sebagian orang dengan HIV pada masa itu mengalami retinopati HIV, yaitu gangguan noninfeksi yang dapat merusak retina. Retina merupakan lapisan jaringan di bagian belakang mata yang mendeteksi cahaya dan meneruskan informasi visual ke otak.
Seiring tersedianya pengobatan HIV yang semakin efektif dan semakin banyak orang yang mencapai supresi virus, penelitian mengenai dampak HIV terhadap mata menjadi lebih sedikit.
“Banyak orang dengan HIV dapat hidup panjang dan sehat. Namun, bahkan dengan pengobatan yang baik, mereka masih dapat mengalami peradangan kronis tingkat rendah yang menetap. Peradangan inilah yang diduga berkontribusi terhadap munculnya penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, dan kondisi lainnya pada usia yang lebih muda.”
— Alison Abraham
“Banyak penyakit mata juga memiliki komponen peradangan. Belum banyak peneliti yang mengamati penyakit mata pada era terapi antiretroviral modern, khususnya pada HIV yang terkontrol dengan baik. Hal inilah yang mendorong penelitian ini.”
— Alison Abraham
Berdasarkan hasil studi ini, Abraham menekankan perlunya penelitian lebih lanjut mengenai mata kering, yang ia sebut sebagai sindrom penyakit yang kompleks.
Salah satu tantangan pada mata kering adalah bahwa keluhan yang dirasakan seseorang tidak selalu sejalan dengan tanda klinis yang terlihat saat pemeriksaan.
“Gejalanya dapat berupa rasa gatal atau sensasi kasar seperti amplas pada mata, sehingga membuka mata terasa sulit dan nyeri. Kondisi ini bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Terkadang pasien mengalami gejala tersebut tanpa bukti klinis mata kering, dan sebaliknya.”
— Alison Abraham
“Kami menduga salah satu penyebabnya mungkin berkaitan dengan sensitivitas nyeri pada kornea. Pertanyaan untuk penelitian berikutnya adalah apakah HIV memengaruhi sensitivitas nyeri tersebut, serta apakah peradangan terkait HIV berperan dalam tingginya prevalensi mata kering pada orang dengan HIV. Jika kita dapat memahami apa yang terjadi, kita mungkin dapat mengembangkan pengobatan yang lebih tepat.”
— Alison Abraham
Menuju layanan kesehatan terpadu
Dalam studi tersebut, Abraham dan timnya menekankan bahwa pemeriksaan mata rutin perlu menjadi bagian dari layanan kesehatan terpadu bagi orang dengan HIV, khususnya seiring bertambahnya usia dan munculnya berbagai kebutuhan kesehatan terkait penuaan.
“Baik hidup dengan HIV maupun tidak, kita semua perlu memperhatikan kesehatan penglihatan, karena penglihatan dan kualitas hidup saling berkaitan erat.”
— Alison Abraham
Melalui penelitiannya, Abraham berupaya menemukan cara untuk memperkuat sistem layanan kesehatan agar perawatan mata lebih mudah dijangkau oleh semua orang, termasuk mereka yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan dokter spesialis mata.
Ia menilai pengembangan model layanan terpadu sangat penting, mengingat proyeksi kekurangan tenaga spesialis mata di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia dan kebutuhan layanan mata.
“Hasrat saya adalah membantu orang memperoleh akses terhadap layanan kesehatan. Saya ingin membantu mengembangkan model layanan terpadu berbasis komunitas, sehingga layanan kesehatan mata, HIV, dan layanan terkait penuaan dapat tersedia di satu tempat dengan cara yang mudah diakses dan terjangkau.”
— Alison Abraham


Referensi:
Alison G. Abraham et al. Eye Health and Vision Function in Adults Aging with Well-Controlled HIV. Viruses (2026). DOI: 10.3390/v18040431
Artikel asli: How HIV affects the eyes of aging adults
Tautan asli: Medical Xpress