Lewati ke konten utama
[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Kembali ke Blog
Blog 17 September 2026 6 kali dilihat

Uji Klinis Menunjukkan Suntikan ARV Lebih Efektif daripada Tablet Harian bagi Remaja dengan HIV

Cari Topik Serupa
Uji Klinis Menunjukkan Suntikan ARV Lebih Efektif daripada Tablet Harian bagi Remaja dengan HIV

Uji Klinis Menunjukkan Suntikan ARV Lebih Efektif daripada Tablet Harian bagi Remaja dengan HIV


Oleh: University College London
Tanggal: 17 September 2026
Disunting oleh: Gaby Clark
Ditinjau oleh: Robert Egan


Hasil uji coba di Afrika yang dipimpin oleh peneliti dari University College London (UCL) menunjukkan bahwa remaja yang hidup dengan HIV dapat menjaga supresi virus dengan lebih baik melalui suntikan antiretroviral kerja panjang setiap delapan minggu, dibandingkan dengan tablet harian.


Dalam makalah yang diterbitkan di The Lancet, tim peneliti menemukan bahwa suntikan kerja panjang lebih efektif dalam mencegah peningkatan kembali jumlah virus (viral rebound) dibandingkan tablet harian. Para peneliti menyerukan upaya agar pilihan pengobatan ini lebih mudah diakses secara global.


HIV memang belum dapat disembuhkan. Namun, terapi antiretroviral dapat membantu orang yang hidup dengan HIV menjalani hidup yang panjang dan sehat, sekaligus mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual ketika jumlah virus tidak terdeteksi. Diperkirakan sekitar 1,6 juta remaja berusia 10–19 tahun hidup dengan HIV di seluruh dunia.
Sarah Pett dari UCL Innovative Clinical Trials Unit, peneliti utama uji coba LATA, menjelaskan bahwa hasil pengobatan antiretroviral pada remaja secara historis kurang optimal dibandingkan pada orang dewasa.


“Remaja yang hidup dengan HIV sering menghadapi perundungan dan stigma karena harus minum obat setiap hari. Suntikan kerja panjang setiap dua bulan dapat membantu mereka menjalani kehidupan yang lebih normal.”
— Sarah Pett, UCL Innovative Clinical Trials Unit
“Manfaat pengobatan ini pada remaja tampak lebih besar dibandingkan pada orang dewasa. Uji coba sebelumnya pada orang dewasa hanya menunjukkan bahwa suntikan memiliki efektivitas yang setara dengan tablet.”
— Sarah Pett
“Hasil penelitian kami mendukung penyediaan suntikan secara lebih luas bagi kelompok seperti remaja, yang mungkin mengalami kesulitan dengan penggunaan tablet harian. Sembilan dari sepuluh remaja yang hidup dengan HIV tinggal di Afrika, tetapi saat ini mereka belum memiliki akses terhadap pengobatan ini.”
— Sarah Pett


Uji coba pengobatan suntik
Uji coba LATA (Long-Acting Treatment in Adolescents) dilakukan di lima klinik di Kenya, Afrika Selatan, Uganda, dan Zimbabwe.
Studi ini melibatkan 476 remaja berusia 12–19 tahun, yang secara acak dibagi menjadi dua kelompok:
Kelompok yang menerima tablet antiretroviral harian sebagai standar perawatan; dan
Kelompok yang menerima suntikan kerja panjang cabotegravir dan rilpivirine setiap delapan minggu.
Seluruh peserta telah menggunakan tablet antiretroviral selama lebih dari satu tahun, memiliki jumlah virus yang tidak terdeteksi, dan belum pernah mengalami kegagalan pengobatan. Hampir seluruh peserta telah hidup dengan HIV sejak lahir.
Setelah 96 minggu atau hampir dua tahun, hanya dua remaja (1%) dalam kelompok suntikan mengalami viral rebound yang terkonfirmasi. Kondisi ini ditetapkan melalui dua pemeriksaan jumlah virus dengan selang minimal tujuh hari.
Sebagai perbandingan, viral rebound terjadi pada 15 remaja (6%) dalam kelompok tablet harian.
Peningkatan kembali jumlah virus dapat membahayakan kesehatan jangka panjang karena dapat menambah jumlah sel yang terinfeksi HIV dalam keadaan tidak aktif. Dalam beberapa keadaan, peningkatan jumlah virus juga dapat meningkatkan risiko penularan HIV kepada pasangan seksual atau dari ibu ke anak.
Hampir seluruh remaja dalam kelompok suntikan kerja panjang—sebanyak 94%—menyatakan bahwa suntikan setiap delapan minggu jauh lebih mudah dibandingkan harus minum obat setiap hari.


Hambatan akses di Afrika
Penggunaan suntikan kerja panjang di wilayah dengan sumber daya terbatas menghadapi sejumlah tantangan.
Obat suntik ini lebih mahal daripada tablet harian standar karena masih dilindungi paten dan biaya produksinya lebih tinggi. Selain itu, rilpivirine memerlukan penyimpanan dalam suhu dingin selama distribusi dan penyimpanan.
Pemberian suntikan setiap delapan minggu juga memerlukan tenaga kesehatan terlatih dan kunjungan klinik yang lebih sering. Sebaliknya, pengguna tablet harian mungkin hanya perlu kontrol setiap tiga atau enam bulan.
Saat ini belum ada kesepakatan mengenai produksi versi generik dari pengobatan suntik tersebut.
Remaja berusia 12 tahun ke atas dan orang dewasa di Amerika Serikat, Eropa, serta negara berpenghasilan tinggi lainnya telah dapat memperoleh resep pengobatan suntik kerja panjang. Namun, di Afrika—kecuali di beberapa klinik tertentu—pengobatan ini belum tersedia.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini merekomendasikan suntikan cabotegravir dan rilpivirine kerja panjang sebagai pilihan alternatif bagi orang dewasa dan remaja yang telah berhasil menekan jumlah virus dengan tablet harian dan tidak memiliki hepatitis B aktif. Temuan dari uji coba LATA dapat memperkuat pertimbangan penggunaan terapi ini pada remaja.


Risiko melebarnya kesenjangan
Dr. Deborah Ford dari UCL Innovative Clinical Trials Unit, penulis korespondensi studi ini, mengingatkan bahwa keterbatasan akses di Afrika dapat memperlebar kesenjangan dalam layanan HIV.
“Kurangnya ketersediaan pengobatan suntik di Afrika berisiko meningkatkan kesenjangan dalam perawatan HIV. Akibatnya, sebagian besar orang yang hidup dengan HIV tidak dapat mengakses pengobatan yang telah tersedia di wilayah berpenghasilan tinggi.”
— Dr. Deborah Ford
“Kesenjangan ini dapat semakin melebar dengan adanya uji coba suntikan generasi kedua dan ketiga yang mungkin hanya memerlukan pemberian dosis dua kali setahun.”
— Dr. Deborah Ford
Mutsa Bwakura-Dangarembizi, dokter pelaksana uji coba sekaligus peneliti utama di lokasi studi Harare, Zimbabwe, menyambut hasil ini sebagai kabar yang menggembirakan.
“Temuan uji coba LATA menunjukkan bahwa suntikan setiap delapan minggu lebih efektif menjaga jumlah virus tetap tidak terdeteksi, dapat ditoleransi dengan baik, dan sangat disukai oleh remaja.”
— Mutsa Bwakura-Dangarembizi
“Namun, saat ini kita menghadapi masalah besar di Afrika dan wilayah berpenghasilan rendah serta menengah lainnya, yaitu obat suntik kerja panjang ini belum tersedia untuk digunakan. Masalah ini perlu diatasi agar obat tersebut dapat dimanfaatkan oleh kelompok yang paling membutuhkannya, khususnya remaja yang hidup dengan HIV.”
— Mutsa Bwakura-Dangarembizi
Artikel asli: Clinical trial finds HIV injections more effective than tablets for young people
Tautan asli: https://medicalxpress.com/news/2026-09-hiv-tablets-young-people-clinical.html