Regimen lini pertama alternatif untuk HIV membatasi penambahan berat badan berlebih.
Regimen lini pertama alternatif untuk HIV membatasi penambahan berat badan berlebih.
Oleh: Keith Alcorn, 1 Agustus 2026
Dr. Joana Woods di AIDS 2026. Foto oleh Roger Pebody.
Memulai pengobatan dengan rejimen yang mengandung doravirine dan tenofovir disoproxil (TDF) menghasilkan kenaikan berat badan yang lebih sedikit dibandingkan memulai pengobatan dengan rejimen yang mengandung dolutegravir dan tenofovir alafenamide (TAF); demikian dilaporkan dalam sebuah studi dari Afrika Selatan minggu ini pada Konferensi AIDS Internasional ke-26 (AIDS 2026) di Rio de Janeiro, Brasil.
Bukti yang ada menunjukkan bahwa kenaikan berat badan dapat terjadi setelah memulai pengobatan antiretroviral, terlepas dari jenis obat yang digunakan dalam rejimen tersebut. Berbagai studi secara konsisten menunjukkan bahwa kenaikan berat badan lebih besar terjadi pada perempuan dan populasi kulit hitam, terutama saat mengonsumsi TAF yang dikombinasikan dengan penghambat integrase (integrase inhibitor), seperti dolutegravir atau bictegravir.
Upaya untuk mengatasi kenaikan berat badan dengan cara mengganti obat-obatan tersebut sebagian besar tidak berhasil. Namun, mencegah kenaikan berat badan yang signifikan saat memulai pengobatan HIV mungkin lebih dapat dicapai dibandingkan membalikkan kondisi tersebut setelah kenaikan berat badan terjadi.
Para peneliti dari Afrika Selatan meneliti apakah memulai pengobatan dengan rejimen yang tidak menyertakan TAF atau penghambat integrase akan menghasilkan tingkat supresi virus yang setara namun dengan kenaikan berat badan yang lebih sedikit.
Dr. Joana Woods membahas upaya mengurangi kenaikan berat badan saat memulai pengobatan HIV dalam konferensi AIDS 2026.
Uji klinis OptiDOR dilaksanakan di Afrika Selatan. Studi ini melibatkan 600 orang dewasa yang belum pernah menjalani pengobatan sebelumnya, memiliki berat badan lebih dari 35 kg, dan tidak memiliki resistensi tingkat tinggi terhadap doravirine. Studi ini mengecualikan perempuan hamil atau menyusui, orang dengan tuberkulosis aktif, serta orang dengan gangguan fungsi ginjal atau penyakit hati. Para peserta secara acak dibagi ke dalam salah satu dari dua rejimen pengobatan. Satu rejimen mencakup doravirine, TDF, dan lamivudine; sementara rejimen lainnya mencakup dolutegravir, TAF, dan emtricitabine.
Populasi studi memiliki usia median 34 tahun, dan 69% di antaranya adalah perempuan.
Nilai median jumlah CD4 adalah 322, dan lebih dari seperempat peserta memiliki jumlah CD4 di bawah 200, yang merupakan indikator HIV stadium lanjut. Jumlah CD4 yang rendah pada saat dimulainya pengobatan terbukti meningkatkan risiko kenaikan berat badan.
Berat badan median di antara para peserta adalah 75 kg, dan sekitar satu dari tiga peserta memiliki berat badan yang dikategorikan sebagai obesitas secara klinis (>30 kg/m²).
Luaran utama penelitian ini adalah proporsi peserta pada setiap kelompok studi yang memiliki viral load di bawah 50 kopi/ml pada minggu ke-48, dengan margin non-inferioritas sebesar -10%. Supresi virologis pada kelompok doravirine/TDF/lamivudine terbukti non-inferior dibandingkan dengan kelompok dolutegravir/TAF/emtricitabine (89% vs 90,7%; selisih -1,7%; interval kepercayaan 95% -6,6% hingga 3,1%).
Lima belas peserta mengalami kegagalan virologis selama masa pemantauan, yang didefinisikan sebagai dua pengukuran viral load berturut-turut di atas 1.000 kopi/ml mulai minggu ke-24 atau dua pengukuran viral load berturut-turut di atas 200 kopi/ml pada minggu ke-48.
Sembilan kasus kegagalan virologis terjadi pada kelompok yang menerima doravirine; pada tujuh kasus di antaranya, resistansi tingkat tinggi terhadap doravirine muncul akibat ketidakpatuhan pengobatan. Pada enam dari tujuh kasus tersebut, penekanan virus kembali (resuppression) tercapai setelah pengobatan dialihkan ke dolutegravir, TDF, dan lamivudine. Satu peserta yang mengalami resistansi tingkat tinggi terhadap doravirine tidak dapat dipantau lebih lanjut (lost to follow-up). Seluruh kasus kegagalan virologis pada kelompok doravirine terjadi pada individu dengan HIV stadium lanjut dan viral load tinggi (median jumlah CD4 34 sel, median viral load 4,9 log10 kopi/ml).
Tidak ada satu pun peserta pada kelompok dolutegravir yang mengalami kegagalan virologis mengembangkan resistansi terhadap obat apa pun dalam rejimen mereka.
Luaran sekunder penelitian ini meliputi perubahan berat badan dan komposisi tubuh yang diukur melalui pemindaian DEXA, serta perubahan kadar lipid, massa tulang, dan fungsi ginjal.
Regimen yang mengandung doravirine dikaitkan dengan kenaikan berat badan yang secara signifikan lebih rendah pada minggu ke-48 (-1,92 kg; IK 95% -2,78 hingga -1,07; p25kg/m2 in a randomised phase 3b non-inferiority study. 26th International AIDS Conference, Rio de Janeiro, abstract OAB3406LB, 2026.
Woods J et al. Initial HIV Therapy for Adults and Treatment-Associated Weight Gain: The Opti-DOR Randomized Clinical Trial. JAMA, online ahead of print, 31 July 2026.
doi: 10.1001/jama.2026.14762
Artikel asli: Alternative first-line HIV regimen limits excess weight gain
Tautan asli: https://www.aidsmap.com/news/aug-2026/alternative-first-line-hiv-regimen-limits-excess-weight-gain