Studi Mendukung Penggunaan Lenacapavir sebagai PrEP Terarah bagi Ibu Hamil dan Menyusui
Studi Mendukung Penggunaan Lenacapavir sebagai PrEP Terarah bagi Ibu Hamil dan Menyusui
Oleh: Edith Magak, 6 Juli 2026
Gambar oleh USAID | Afrika Selatan. CC BY-NC 2.0.
Pemberian lenacapavir dua kali setahun sebagai obat pencegahan HIV atau PrEP kepada perempuan hamil dan menyusui tanpa HIV dapat membantu mengurangi penularan HIV kepada ibu dan bayi.
Namun, sebuah studi pemodelan menunjukkan bahwa pemberian lenacapavir akan lebih efisien apabila diprioritaskan di wilayah dengan angka infeksi HIV tinggi, dibandingkan diberikan secara universal kepada seluruh perempuan hamil dan menyusui di Afrika sub-Sahara.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of the International AIDS Society tersebut menemukan bahwa penggunaan lenacapavir secara terarah dapat mencegah banyak infeksi HIV dengan biaya yang jauh lebih rendah.
Para peneliti menekankan bahwa lenacapavir tidak boleh dianggap sebagai pengganti program yang sudah ada untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Obat tersebut sebaiknya menjadi lapisan perlindungan tambahan, terutama bagi perempuan tanpa HIV yang memiliki risiko tinggi tertular selama kehamilan atau menyusui.
Mengapa Kehamilan dan Menyusui Menjadi Masa yang Penting?
Pada 2024, diperkirakan sekitar 98.000 bayi di Afrika sub-Sahara tertular HIV.
Sebagian besar penularan pada anak terjadi karena ibu yang telah hidup dengan HIV belum mendapatkan pengobatan antiretroviral atau tidak dapat mempertahankan pengobatan selama kehamilan dan menyusui.
Kesenjangan akses terhadap terapi antiretroviral atau ART diperkirakan menyebabkan hampir setengah dari seluruh penularan HIV pada anak. Sementara itu, penghentian pengobatan selama kehamilan atau menyusui menyumbang sekitar 20 persen dari penularan.
Namun, sekitar 25 persen penularan pada anak berasal dari perempuan yang baru tertular HIV ketika sedang hamil atau menyusui.
Risiko ini bahkan lebih besar di beberapa negara. Di Afrika Selatan, infeksi HIV baru pada ibu selama kehamilan atau menyusui diperkirakan menyebabkan hampir 60 persen penularan pada anak. Di Zambia, angkanya mendekati 50 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa pemeriksaan HIV pada awal kehamilan saja belum cukup. Perempuan yang hasil tes HIV-nya negatif tetap dapat tertular selama masa kehamilan atau menyusui dan kemudian menularkan virus kepada bayi.
Apa Itu Lenacapavir?
Lenacapavir adalah obat antiretroviral kerja panjang yang dapat diberikan melalui suntikan setiap enam bulan.
Untuk pencegahan HIV, lenacapavir digunakan sebagai profilaksis prapajanan atau PrEP bagi orang yang belum hidup dengan HIV, tetapi memiliki risiko tertular.
PrEP oral yang tersedia saat ini umumnya harus diminum setiap hari. Walaupun sangat efektif apabila digunakan dengan benar, sebagian orang kesulitan mempertahankan konsumsi pil harian.
Hambatan tersebut dapat berupa:
- lupa minum obat;
- kekhawatiran terhadap stigma;
- kesulitan menyimpan obat secara pribadi;
- jadwal kehidupan yang tidak teratur;
- efek samping;
- akses yang terbatas ke fasilitas kesehatan; atau
- kesulitan mendapatkan obat secara berkelanjutan.
Karena hanya diberikan dua kali setahun, lenacapavir dapat mengurangi beban mengonsumsi pil setiap hari.
Obat ini telah menunjukkan tingkat perlindungan yang sangat tinggi dalam uji klinis dan dinilai berpotensi menjadi pilihan penting bagi perempuan yang memiliki risiko tertular HIV selama kehamilan dan menyusui.
Studi Menggunakan Pemodelan Matematika
Anna Yakusik dari UNAIDS dan rekan-rekannya melakukan studi pemodelan untuk memperkirakan dampak dan biaya penggunaan lenacapavir pada perempuan hamil dan menyusui tanpa HIV di Afrika sub-Sahara.
Pemodelan matematika digunakan untuk memperkirakan apa yang mungkin terjadi apabila suatu program diterapkan pada populasi besar.
Penelitian ini tidak secara langsung memberikan lenacapavir kepada peserta. Sebaliknya, para peneliti menggunakan berbagai data yang sudah tersedia untuk menghitung:
- berapa banyak perempuan yang dapat dijangkau;
- berapa banyak infeksi HIV pada ibu yang dapat dicegah;
- berapa banyak infeksi HIV pada bayi yang dapat dicegah;
- berapa besar biaya program; dan
- berapa biaya bersih untuk setiap infeksi HIV yang berhasil dicegah.
Para peneliti mengikuti satu kelompok perempuan secara teori selama 2,2 tahun, mulai dari kunjungan antenatal pertama hingga rata-rata berakhirnya masa menyusui.
Asumsi yang Digunakan dalam Penelitian
Dalam skenario dasar, para peneliti memperkirakan bahwa 65 persen perempuan yang memenuhi syarat akan bersedia menggunakan lenacapavir.
Dari perempuan yang memulai PrEP, sebanyak 70 persen diperkirakan akan tetap menggunakan layanan selama 2,2 tahun.
Perhitungan biaya didasarkan pada beberapa asumsi:
- harga lenacapavir generik sebesar US$40 per orang per tahun;
- tambahan US$17 untuk tablet lenacapavir yang diberikan pada awal penggunaan; dan
- biaya pelayanan sebesar US$50 per orang per tahun.
Biaya pelayanan mencakup kebutuhan seperti tenaga kesehatan, penyimpanan obat, pemberian suntikan, konseling, pemeriksaan, dan tindak lanjut.
Para peneliti juga membuat skenario terbaik, yaitu seluruh perempuan yang memenuhi syarat menerima lenacapavir dan semuanya tetap mengikuti program hingga selesai.
Dua Pendekatan yang Dibandingkan
Para peneliti membandingkan dua pendekatan utama.
Pendekatan pertama adalah peluncuran universal, yaitu menawarkan lenacapavir kepada seluruh perempuan hamil dan menyusui berusia 15 hingga 49 tahun yang tidak hidup dengan HIV di Afrika sub-Sahara.
Pendekatan kedua adalah peluncuran terarah, yaitu hanya menawarkan lenacapavir di distrik dengan angka infeksi HIV paling tinggi pada perempuan.
Untuk peluncuran terarah, wilayah dibagi menjadi tiga tingkat prioritas:
- distrik prioritas tinggi, dengan sedikitnya 7 infeksi HIV baru per 1.000 perempuan setiap tahun;
- distrik prioritas menengah, dengan sedikitnya 5 infeksi per 1.000 perempuan; dan
- distrik prioritas yang diperluas, dengan sedikitnya 3 infeksi per 1.000 perempuan.
Semakin rendah batas yang digunakan, semakin banyak distrik dan perempuan yang masuk ke dalam program.
Peluncuran Universal Memberikan Dampak Terbesar
Dalam skenario dasar, peluncuran universal diperkirakan dapat menjangkau sekitar 25,5 juta perempuan hamil dan menyusui.
Pendekatan ini diperkirakan dapat mencegah sekitar 56.000 infeksi HIV selama 2,2 tahun, yang terdiri dari:
- sekitar 44.500 infeksi pada perempuan; dan
- sekitar 11.600 infeksi pada bayi.
Total biaya program diperkirakan mencapai US$5 miliar.
Dalam skenario terbaik, ketika seluruh perempuan yang memenuhi syarat menerima lenacapavir dan tetap mengikuti program, cakupan meningkat menjadi sekitar 39 juta perempuan.
Jumlah infeksi yang dapat dicegah diperkirakan mencapai 123.000, terdiri dari:
- sekitar 98.000 infeksi pada perempuan; dan
- sekitar 25.500 infeksi pada bayi.
Namun, total biaya program meningkat menjadi sekitar US$9 miliar.
Setelah memperhitungkan penghematan dari biaya pengobatan HIV seumur hidup, biaya bersih untuk setiap infeksi yang dicegah diperkirakan sebesar:
- US$85.000 dalam skenario dasar; dan
- US$68.000 dalam skenario terbaik.
Penargetan Wilayah Jauh Lebih Efisien
Hasil yang berbeda ditemukan ketika lenacapavir hanya diberikan di distrik dengan tingkat infeksi HIV tertinggi.
Distrik prioritas tertinggi terutama berada di Afrika Selatan, Mozambik, Zambia, dan Eswatini.
Dalam skenario dasar, strategi ini diperkirakan menjangkau sekitar 626.000 perempuan dan mencegah sekitar 8.500 infeksi HIV, terdiri dari:
- sekitar 6.700 infeksi pada perempuan; dan
- sekitar 1.750 infeksi pada bayi.
Total biaya program diperkirakan sekitar US$126 juta.
Dalam skenario terbaik, biaya program meningkat menjadi sekitar US$226 juta.
Setelah memperhitungkan penghematan biaya ART seumur hidup, biaya bersih untuk setiap infeksi yang berhasil dicegah diperkirakan sebesar:
- US$8.500 dalam skenario dasar; dan
- US$5.750 dalam skenario terbaik.
Artinya, biaya untuk mencegah satu infeksi melalui strategi terarah sekitar sepuluh kali lebih rendah dibandingkan peluncuran universal dalam skenario dasar.
Memperluas Wilayah Meningkatkan Dampak, tetapi Juga Biaya
Apabila program diperluas ke distrik prioritas menengah, jumlah perempuan yang dijangkau meningkat menjadi lebih dari satu juta orang.
Strategi ini diperkirakan dapat mencegah sekitar 10.400 infeksi HIV.
Pada tingkat perluasan paling luas, program dapat menjangkau sekitar dua juta perempuan dan mencegah sekitar 11.600 infeksi.
Dengan demikian, semakin luas wilayah yang dicakup, semakin banyak infeksi yang dapat dicegah.
Namun, biaya program juga meningkat dan efisiensi untuk setiap infeksi yang dicegah menjadi lebih rendah. Hal ini terjadi karena program mulai menjangkau wilayah dengan tingkat penularan HIV yang lebih rendah.
Strategi yang paling selektif, yaitu hanya menyasar distrik prioritas tertinggi, secara konsisten menghasilkan biaya paling rendah untuk setiap infeksi yang dicegah.
Sementara itu, peluncuran universal tetap menghasilkan jumlah pencegahan infeksi terbesar secara keseluruhan, tetapi membutuhkan anggaran yang sangat besar.
Retensi Menjadi Faktor Terpenting
Para peneliti juga menguji bagaimana hasilnya berubah apabila asumsi mengenai penggunaan, keberlanjutan layanan, dan biaya pelayanan berbeda.
Faktor yang paling memengaruhi efektivitas biaya adalah retensi dalam perawatan.
Retensi berarti perempuan tetap mengikuti program, kembali sesuai jadwal, dan menerima suntikan berikutnya selama masa kehamilan dan menyusui.
Dalam strategi prioritas tertinggi, biaya bersih per infeksi yang dicegah berkisar antara:
- sekitar US$4.800 dalam kondisi paling menguntungkan, dengan retensi 90 persen dan biaya pelayanan US$35 per orang; hingga
- sekitar US$15.100 dalam kondisi paling tidak menguntungkan, dengan retensi 50 persen dan biaya pelayanan US$75 per orang.
Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada obat yang efektif.
Program juga harus memastikan perempuan dapat tetap terhubung dengan layanan kesehatan, hadir untuk suntikan berikutnya, dan mendapatkan dukungan selama kehamilan serta menyusui.
Biaya Pelayanan Juga Berpengaruh
Biaya penyediaan layanan menjadi faktor penting kedua.
Semakin tinggi biaya untuk memberikan suntikan, melakukan pemeriksaan, menyediakan tenaga kesehatan, dan memantau pasien, semakin rendah tingkat efisiensi program.
Sebaliknya, tingkat penerimaan awal tidak terlalu memengaruhi biaya per infeksi yang dicegah.
Hal ini karena ketika lebih banyak perempuan bersedia menggunakan lenacapavir, jumlah orang yang terlindungi dan total biaya program meningkat secara seimbang.
Namun, tingkat penerimaan tetap penting karena menentukan seberapa besar dampak program secara keseluruhan.
Lenacapavir Tidak Menggantikan Pengobatan bagi Ibu dengan HIV
Para peneliti menekankan bahwa lenacapavir sebagai PrEP hanya ditujukan bagi perempuan yang belum hidup dengan HIV.
Obat ini tidak menggantikan terapi antiretroviral bagi perempuan yang telah didiagnosis HIV.
Kesenjangan dalam pemeriksaan HIV, memulai ART, dan mempertahankan pengobatan pada perempuan dengan HIV masih menjadi penyebab utama penularan kepada anak.
Karena itu, prioritas terpenting tetap meliputi:
- memastikan semua ibu hamil mendapatkan tes HIV;
- mengulang tes selama kehamilan dan menyusui apabila diperlukan;
- segera memulai ART bagi perempuan yang didiagnosis HIV;
- menjaga ketersediaan obat tanpa terputus;
- mendukung ibu agar tetap menjalani pengobatan;
- memantau viral load; dan
- memberikan pemeriksaan serta pengobatan dini kepada bayi.
Lenacapavir dapat menambah perlindungan bagi perempuan yang hasil tes HIV-nya negatif, tetapi tetap memiliki risiko tertular.
Pentingnya Pemeriksaan HIV Berulang
Seorang perempuan dapat memperoleh hasil tes HIV negatif pada kunjungan antenatal pertama, tetapi kemudian tertular selama kehamilan atau menyusui.
Infeksi HIV yang baru terjadi biasanya disertai jumlah virus yang sangat tinggi dalam darah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan penularan kepada bayi.
Karena itu, program pencegahan perlu mencakup pemeriksaan HIV berulang, terutama di wilayah dengan angka kejadian HIV tinggi.
Lenacapavir dapat memberikan perlindungan jangka panjang selama masa rentan tersebut. Namun, pemeriksaan tetap dibutuhkan untuk memastikan seorang perempuan tidak telah tertular HIV sebelum menerima dosis berikutnya.
PrEP tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya obat oleh seseorang yang telah hidup dengan HIV karena dapat meningkatkan risiko terbentuknya resistensi.
Penargetan Harus Dilakukan secara Adil
Walaupun strategi terarah dinilai lebih efisien, penerapannya membutuhkan data lokal yang akurat.
Pemerintah perlu mengetahui distrik mana yang memiliki:
- angka infeksi HIV baru tertinggi;
- jumlah penularan pada anak yang tinggi;
- cakupan ART ibu yang rendah;
- tingkat penghentian pengobatan yang tinggi; dan
- akses PrEP yang terbatas.
Penargetan juga perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan stigma terhadap perempuan atau wilayah tertentu.
Perempuan tidak boleh dianggap berisiko hanya berdasarkan tempat tinggalnya. Mereka tetap perlu memperoleh informasi yang jelas, konseling yang tidak menghakimi, dan kebebasan untuk memilih metode pencegahan yang sesuai.
Keberhasilan Bergantung pada Sistem Kesehatan
Pemberian suntikan setiap enam bulan memang lebih jarang dibandingkan pil harian. Namun, program lenacapavir tetap membutuhkan sistem pelayanan yang kuat.
Fasilitas kesehatan harus mampu:
- memastikan ketersediaan obat;
- menyimpan dan mendistribusikan obat dengan aman;
- melatih tenaga kesehatan;
- mengintegrasikan PrEP dengan layanan antenatal dan pascapersalinan;
- mengingatkan jadwal suntikan;
- melakukan tes HIV secara berkala;
- memantau efek samping; dan
- menjaga kerahasiaan pasien.
Tanpa sistem tersebut, perempuan dapat kehilangan tindak lanjut dan tidak menerima perlindungan secara berkelanjutan.
Pilihan Pencegahan Tetap Diperlukan
Lenacapavir tidak harus menjadi pilihan yang sama bagi semua perempuan.
Sebagian perempuan mungkin lebih menyukai pil PrEP harian karena dapat dikonsumsi sendiri. Sebagian lainnya mungkin lebih nyaman dengan suntikan dua kali setahun.
Pilihan juga dapat dipengaruhi oleh ketersediaan layanan, kondisi kesehatan, pengalaman kehamilan, kekhawatiran terhadap suntikan, akses transportasi, dan preferensi pribadi.
Program pencegahan HIV sebaiknya menyediakan berbagai pilihan dan membantu perempuan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lengkap.
Kesimpulan
Studi pemodelan ini menunjukkan bahwa lenacapavir dua kali setahun dapat memberikan manfaat penting bagi perempuan hamil dan menyusui tanpa HIV di Afrika sub-Sahara.
Peluncuran universal dapat mencegah jumlah infeksi paling besar, tetapi membutuhkan biaya miliaran dolar.
Sebaliknya, strategi yang memprioritaskan distrik dengan angka infeksi HIV tertinggi dapat memberikan hasil yang lebih efisien, dengan biaya sekitar US$8.500 per infeksi yang dicegah dalam skenario dasar, dibandingkan US$85.000 pada peluncuran universal.
Namun, lenacapavir bukan solusi tunggal untuk mengakhiri penularan HIV dari ibu ke anak.
Penguatan pemeriksaan HIV, akses ART, pemantauan viral load, retensi ibu dalam pengobatan, dan layanan kesehatan ibu-anak tetap menjadi prioritas utama.
Di wilayah dengan angka infeksi tinggi, lenacapavir dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan yang penting bagi perempuan tanpa HIV selama kehamilan dan menyusui.
References
Yakusik A et al. Drivers of Vertical HIV Transmission in Sub-Saharan Africa and the Impact and Cost-Effectiveness of Targeted and Universal Lenacapavir Pre-Exposure Prophylaxis. Journal of the International AIDS Society, 29: 2026 (open access).
https://doi.org/10.1002/jia2.70127
Full image credit: Image by USAID | Southern Africa. Available on Flickr under a Creative Commons licence CC BY-NC 2.0.
Artikel asli: Modelling study backs targeted, not universal, lenacapavir PrEP for pregnancy and breastfeeding
Tautan asli: https://www.aidsmap.com/news/jul-2026/modelling-study-backs-targeted-not-universal-lenacapavir-prep-pregnancy-and