Lewati ke konten utama
[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Kembali ke Blog
Blog 06 Juli 2026 3 kali dilihat

Pakistan Menghadapi Wabah HIV Baru di Kalangan Anak-Anak

Cari Topik Serupa
Pakistan Menghadapi Wabah HIV Baru di Kalangan Anak-Anak

Pakistan Menghadapi Wabah HIV Baru di Kalangan Anak-Anak


Oleh: Samaan Lateef, 6 Juli 2026, https://www.telegraph.co.uk/

 

Seorang tenaga kesehatan di Pakistan mengambil sampel darah dari seorang bayi untuk pemeriksaan HIV di rumah sakit pemerintah di Ratodero, Distrik Larkana. Kredit: RIZWAN TABASSUM/AFP via Getty Images
Pemerintah Pakistan memulai penyelidikan setelah puluhan anak diketahui hidup dengan HIV dan pernah memperoleh perawatan di sebuah rumah sakit pemerintah. Kasus ini memunculkan dugaan bahwa jarum suntik yang telah terkontaminasi digunakan kembali saat memberikan pelayanan kesehatan.
Saeed Ghani, Menteri Tenaga Kerja Provinsi Sindh, mengatakan sedikitnya 78 anak yang pernah dirawat di Rumah Sakit Kulsoom Bai Valika diketahui hidup dengan HIV.
Ia berjanji bahwa tindakan tegas akan diambil terhadap siapa pun yang terbukti bertanggung jawab.
“Kami meyakinkan keluarga anak-anak yang terdampak bahwa Pemerintah Sindh tidak akan membiarkan mereka menghadapi cobaan ini sendirian,” kata Ghani.
“Kami akan memastikan mereka memperoleh perawatan medis secara menyeluruh dan memberikan semua dukungan yang memungkinkan. Pasti telah terjadi kelalaian dari seseorang.”


Keluarga Menuntut Penyelidikan Independen
Wabah tersebut pertama kali dilaporkan pada November 2025. Namun, keluarga anak-anak yang terdampak mengatakan bahwa selama berbulan-bulan mereka tidak memperoleh kejelasan mengenai penyebab infeksi maupun pihak yang bertanggung jawab.
Keluarga awalnya meminta pemerintah melakukan penyelidikan independen. Karena merasa tidak ada tindakan yang memadai, mereka kemudian mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Sindh.
Pengadilan memberi pemerintah waktu dua minggu untuk menyerahkan laporan yang menjelaskan penyebab wabah tersebut.
Dalam keterangannya, pengadilan menegaskan bahwa rumah sakit memiliki kewajiban hukum untuk menyediakan pelayanan kesehatan yang aman.
Pada Minggu, puluhan keluarga berkumpul di luar Karachi Press Club. Mereka menuntut agar pejabat yang bertanggung jawab diproses dan anak-anak yang terdampak memperoleh perawatan seumur hidup.
“Kami telah berjuang keras untuk mendapatkan keadilan, tetapi pemerintah tidak memberikan harapan kepada kami,” kata Tariq Mansoor, salah satu penggugat dalam perkara tersebut.

Jumlah Anak yang Terdampak Diduga Lebih Besar
Unit pediatri di Larkana, Sindh, yang didirikan pada 2019 untuk merawat anak-anak yang hidup dengan HIV. Kredit: Saiyna Bashir
Mansoor menyerahkan daftar berisi nama 200 anak yang menurutnya hidup dengan HIV setelah diduga terpapar jarum suntik yang terkontaminasi di rumah sakit tersebut.
Keluarga yang melakukan protes juga mengklaim bahwa jumlah anak yang terinfeksi telah melampaui 200 orang dan sedikitnya sembilan anak telah meninggal.
Angka tersebut merupakan klaim keluarga terdampak dan belum sama dengan angka resmi pemerintah, yang menyebut sedikitnya 78 anak.
Dalam petisinya, Mansoor menilai pihak berwenang telah gagal memenuhi kewajiban hukum dan konstitusional mereka. Kegagalan tersebut, menurutnya, mencakup tidak dilakukannya penyelidikan independen, tidak adanya proses hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab, serta belum tersedianya pemeriksaan dan pengobatan menyeluruh bagi anak-anak yang terdampak.
Ia juga menyebut penggunaan kembali jarum suntik sekali pakai sebagai bentuk kelalaian kriminal yang membahayakan kesehatan masyarakat.

Rumah Sakit Lain Juga Melaporkan Peningkatan Pasien Anak
Pada April 2026, tiga rumah sakit di Karachi melaporkan peningkatan tajam jumlah anak dengan HIV yang dirawat dalam sembilan bulan sebelumnya.
Di Sindh Institute of Infectious Diseases and Research Centre atau SIDH&RC, jumlah anak dengan HIV yang dirawat meningkat dari 10 orang pada 2024 menjadi 70 orang pada 2025.
Sebanyak 30 anak lainnya telah dirawat sejak awal 2026. Sebagian besar dari mereka sebelumnya pernah menerima pelayanan di Rumah Sakit Valika.
Data Kementerian Kesehatan Provinsi Sindh menunjukkan bahwa dari 894 kasus HIV yang terdaftar di seluruh provinsi tersebut antara Januari dan Maret 2026, sebanyak 329 kasus terjadi pada anak-anak.
Angka tersebut berarti lebih dari sepertiga kasus HIV yang terdaftar selama periode itu terjadi pada kelompok anak.
Sejumlah perempuan Pakistan menggendong anak-anak mereka yang hidup dengan HIV saat berkumpul di sebuah rumah di Desa Wasayo, Ratodero, Distrik Larkana, Provinsi Sindh. Kredit: RIZWAN TABASSUM/AFP via Getty Images

Organisasi Dokter Menyebutnya sebagai Kegagalan Besar
Pada April, Pakistan Medical Association atau PMA memperingatkan bahwa meningkatnya infeksi HIV pada anak-anak di Sindh menunjukkan adanya “kegagalan besar” dalam pengendalian infeksi dan pengawasan pelayanan kesehatan.
PMA menyoroti masih berlangsungnya berbagai praktik tidak aman, termasuk penggunaan kembali jarum suntik di klinik yang tidak memiliki izin.
Organisasi tersebut memperingatkan bahwa kasus yang telah terdeteksi mungkin baru merupakan “puncak gunung es”. Dengan kata lain, jumlah kasus sebenarnya dapat jauh lebih besar karena pemeriksaan HIV masih terbatas.
Penggunaan kembali jarum suntik sangat berbahaya karena darah yang tertinggal pada alat tersebut dapat menularkan HIV dan infeksi lain dari satu pasien kepada pasien berikutnya.
Jarum suntik sekali pakai seharusnya hanya digunakan untuk satu pasien dan segera dibuang melalui prosedur limbah medis yang aman.

Bukan Wabah HIV Pertama pada Anak di Sindh
Pakistan telah beberapa kali melaporkan wabah HIV yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan yang tidak aman.
Wabah terbesar terjadi pada April 2019 di Ratodero, Provinsi Sindh. Saat itu, penggunaan kembali jarum suntik dan alat medis di sejumlah klinik swasta diduga menyebarkan HIV kepada anak-anak yang menerima cairan infus atau suntikan untuk penyakit yang sebenarnya umum.
Pada Juni 2019, lebih dari 800 anak dinyatakan positif HIV di kota yang berpenduduk sekitar 300.000 orang tersebut.
Kasus itu kemudian tidak lagi banyak diberitakan secara internasional ketika dunia mulai menghadapi pandemi COVID-19. Namun, kasus HIV baru di wilayah tersebut terus ditemukan.
Penyelidikan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO kemudian menyimpulkan bahwa penggunaan berulang jarum suntik yang terkontaminasi menjadi pendorong utama wabah.

Praktik Pelayanan Tidak Aman Juga Ditemukan di Punjab
Masalah tersebut tidak hanya terjadi di Sindh.
Pada akhir 2024, sebuah rumah sakit pemerintah di Taunsa, Provinsi Punjab, juga melaporkan peningkatan kasus HIV pada anak-anak.
Investigasi BBC kemudian menemukan bahwa praktik pelayanan kesehatan yang tidak aman masih berlangsung selama berbulan-bulan setelah rumah sakit tersebut pertama kali dikaitkan dengan wabah.
Sedikitnya 331 anak dilaporkan dinyatakan positif HIV antara November 2024 dan Oktober 2025.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa masalah keselamatan pasien dan pengendalian infeksi belum hanya terjadi pada satu rumah sakit atau satu wilayah.

Jumlah Orang dengan HIV di Pakistan Meningkat Tajam
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan sekitar 310.000 orang hidup dengan HIV di Pakistan pada 2023. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan sekitar 67.000 orang pada 2010.
Namun, cakupan pemeriksaan HIV di negara tersebut masih sangat rendah. Karena itu, jumlah orang yang sebenarnya hidup dengan HIV diperkirakan dapat jauh lebih tinggi daripada data resmi.
Minimnya pemeriksaan juga menyebabkan banyak orang baru mengetahui status HIV setelah mengalami gangguan kesehatan atau ketika penularan telah terjadi kepada orang lain.
Pada anak-anak, diagnosis yang terlambat dapat meningkatkan risiko infeksi berat, gangguan pertumbuhan, kerusakan sistem kekebalan tubuh, dan kematian.

Anak-Anak Membutuhkan Pemeriksaan dan Pengobatan Seumur Hidup
HIV saat ini dapat dikendalikan dengan pengobatan antiretroviral atau ARV. Dengan diagnosis dini dan pengobatan yang diminum secara teratur, anak dengan HIV dapat tumbuh, bersekolah, dan menjalani kehidupan yang sehat.
Namun, pengobatan harus tersedia secara berkelanjutan. Anak-anak juga memerlukan:
pemeriksaan jumlah virus secara rutin;

  • obat ARV dalam dosis dan bentuk yang sesuai usia;
  • pemantauan pertumbuhan dan perkembangan;
  • pemeriksaan penyakit penyerta;
  • dukungan gizi;
  • dukungan kesehatan mental dan psikososial; serta
  • perlindungan dari stigma dan diskriminasi.

Karena infeksi diduga terjadi akibat pelayanan kesehatan yang tidak aman, keluarga menuntut agar negara menanggung seluruh kebutuhan pemeriksaan dan pengobatan anak-anak tersebut sepanjang hidup mereka.

Penyelidikan Harus Menentukan Penyebab dan Tanggung Jawab
Penyelidikan pemerintah perlu memastikan apakah penggunaan kembali jarum suntik benar-benar menjadi sumber penularan.
Pemeriksaan juga perlu mencakup prosedur sterilisasi alat, pengelolaan limbah medis, pencatatan pasien, pengadaan alat sekali pakai, kepatuhan tenaga kesehatan terhadap standar keselamatan, dan pengawasan terhadap rumah sakit serta klinik.
Selain mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab, pemerintah perlu memperluas pemeriksaan kepada semua anak yang pernah menerima pelayanan di fasilitas tersebut.
Pelacakan yang cepat penting agar anak yang hidup dengan HIV dapat segera memulai pengobatan, sementara anak yang tidak terinfeksi dapat memperoleh kepastian dan dukungan yang diperlukan.

Keselamatan Pasien Harus Menjadi Prioritas
Kasus di Pakistan menunjukkan bahwa kemajuan pengobatan HIV tidak akan cukup apabila prosedur dasar keselamatan pasien tidak diterapkan.
Anak-anak datang ke fasilitas kesehatan untuk memperoleh pertolongan. Mereka seharusnya tidak menghadapi risiko tertular infeksi serius akibat alat medis yang digunakan secara tidak aman.
Pencegahan wabah serupa membutuhkan pengawasan yang ketat, ketersediaan alat suntik sekali pakai, pelatihan tenaga kesehatan, pengelolaan limbah medis yang benar, serta penegakan hukum terhadap fasilitas yang melanggar standar.
Pemerintah juga harus memastikan bahwa anak-anak dan keluarga yang terdampak tidak disalahkan atau mengalami stigma.
Tanggung jawab utama saat ini adalah mengungkap penyebab wabah, memberikan keadilan kepada keluarga, menjamin pengobatan seumur hidup, dan memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang.


Artikel asli: Pakistan hit by new mass HIV outbreak among children
Tautan asli: https://www.telegraph.co.uk/global-health/science-and-disease/pakistan-hit-by-another-mass-hiv-outbreak-among-children/