Kasus HIV dan AIDS Menurun, tetapi Anak-Anak Masih Sangat Rentan
Kasus HIV dan AIDS Menurun, tetapi Anak-Anak Masih Sangat Rentan
Oleh: ucanews.com, 14 Juli 2026
Berbagai kemajuan telah dicapai dalam menurunkan angka infeksi HIV dan kematian terkait AIDS. Namun, anak-anak masih menjadi salah satu kelompok yang paling rentan dan belum memperoleh manfaat layanan HIV secara merata.
Hal tersebut disampaikan oleh Monsinyur Marco Formica, Kuasa Usaha Sementara Misi Pengamat Tetap Takhta Suci untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, dalam pidatonya pada 10 Juli 2026.
“Jumlah infeksi HIV baru telah menurun di sebagian besar wilayah sejak 2010, dengan penurunan terbesar terjadi di Afrika sub-Sahara,” kata Monsinyur Formica.
Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam rangka Pertemuan Tingkat Tinggi PBB tentang HIV dan AIDS 2026 yang mengangkat tema “Bersatu untuk Mengakhiri AIDS.”
Pertemuan tingkat tinggi tersebut telah diselenggarakan setiap lima tahun sejak 2001 di markas besar PBB di New York. Pertemuan ini menjadi salah satu forum penting untuk menilai perkembangan respons global terhadap HIV, memperkuat komitmen politik, dan memastikan negara-negara memenuhi target yang telah disepakati.
Pertemuan utama tahun ini berlangsung pada 22–23 Juni 2026, dengan sesi tambahan pada 10 Juli ketika Monsinyur Formica menyampaikan pidatonya.
Infeksi HIV Baru Turun 65 Persen Sejak 1995
Dalam pidatonya, Monsinyur Formica mengatakan bahwa Takhta Suci mengakui kemajuan besar yang telah dicapai dalam pencegahan dan pengobatan HIV dan AIDS selama lima tahun terakhir.
Kemajuan tersebut juga terlihat jika dibandingkan dengan situasi sejak pertemuan tingkat tinggi pertama pada 2001.
Menurut data UNAIDS, infeksi HIV baru telah menurun sebesar 65 persen sejak 1995. Pada tahun tersebut, rata-rata sekitar 3,5 juta orang terinfeksi HIV setiap tahunnya.
Perkembangan pengobatan antiretroviral juga telah mengubah kehidupan orang yang hidup dengan HIV.
“Dengan akses dan kepatuhan terhadap pengobatan antiretroviral, orang yang hidup dengan HIV dapat hidup lebih lama dan menjalani kehidupan yang lebih sehat,” kata Monsinyur Formica.
Pengobatan antiretroviral atau ARV bekerja dengan menekan jumlah virus HIV di dalam tubuh. Apabila dikonsumsi secara teratur, pengobatan ini dapat menjaga sistem kekebalan tubuh, mencegah perkembangan AIDS, dan mengurangi risiko penularan HIV.
Hampir 41 Juta Orang Hidup dengan HIV
Walaupun terjadi kemajuan, jumlah orang yang hidup dengan HIV di seluruh dunia masih sangat besar.
Pada 2025, diperkirakan hampir 41 juta orang hidup dengan HIV. Sebanyak 51 persen di antaranya merupakan perempuan dan anak perempuan. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,3 juta merupakan anak-anak berusia 14 tahun ke bawah.
Monsinyur Formica menggambarkan anak-anak sebagai kelompok yang “sangat rentan terhadap HIV.” Menurutnya, masih terdapat kesenjangan besar dalam diagnosis dan pengobatan HIV pada anak.
Ia mengutip laporan Sekretaris Jenderal PBB yang menyebutkan bahwa anak-anak hanya mencakup sekitar 3 persen dari seluruh orang yang hidup dengan HIV. Namun, mereka menyumbang sekitar 12 persen dari seluruh kematian terkait HIV.
Angka tersebut menunjukkan bahwa anak-anak dengan HIV memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.
Mengapa Anak-Anak Masih Tertinggal?
Anak-anak menghadapi berbagai hambatan dalam memperoleh diagnosis dan pengobatan HIV.
Sebagian bayi dan anak tidak didiagnosis sejak dini. Ada pula yang terlambat memulai pengobatan karena keterbatasan layanan pemeriksaan, kurangnya tenaga kesehatan terlatih, jarak menuju fasilitas kesehatan, atau masalah biaya.
Ketersediaan obat HIV dalam bentuk yang sesuai untuk anak juga masih terbatas di sejumlah negara. Anak-anak membutuhkan obat dengan dosis, bentuk, dan rasa yang sesuai dengan usia serta berat badannya.
Obat berbentuk tablet berukuran besar atau memiliki rasa yang tidak nyaman dapat membuat anak sulit mengonsumsinya secara teratur.
Karena itu, Monsinyur Formica menekankan pentingnya memastikan anak-anak dengan HIV memperoleh pemeriksaan sejak dini dan akses berkelanjutan terhadap pengobatan dalam formulasi yang ramah anak.
“Sangat penting untuk memastikan pengujian dini dan akses yang konsisten terhadap pengobatan bagi anak-anak dengan HIV dalam formulasi yang ramah anak,” katanya.
Perempuan Hamil dan Ibu dengan HIV Membutuhkan Layanan Berkualitas
Monsinyur Formica juga menyoroti kurangnya pemeriksaan dan pengobatan HIV bagi perempuan yang berisiko tertular HIV serta perempuan hamil yang hidup dengan HIV.
Tanpa pemeriksaan dan pengobatan yang tepat, HIV dapat ditularkan dari ibu kepada bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Namun, penularan tersebut dapat dicegah melalui pemeriksaan HIV sejak dini, penggunaan obat antiretroviral, pemantauan kesehatan ibu dan bayi, serta layanan persalinan dan menyusui yang sesuai.
Karena itu, ia menyerukan tersedianya layanan kesehatan yang berkualitas bagi perempuan sebelum, selama, dan setelah kehamilan.
Pelayanan tersebut tidak hanya penting untuk menjaga kesehatan ibu, tetapi juga untuk mencegah penularan HIV kepada bayi dan memastikan anak memperoleh pemeriksaan serta pengobatan sesegera mungkin apabila diperlukan.
Respons Global terhadap HIV Berada di Titik Kritis
Laporan Sekretaris Jenderal PBB menegaskan bahwa epidemi AIDS belum berakhir. Respons global terhadap HIV saat ini bahkan disebut berada pada titik kritis.
Sejumlah tantangan dapat menghambat kemajuan yang telah dicapai, termasuk:
- berkurangnya pendanaan untuk program HIV;
- meningkatnya beban utang di negara-negara yang paling terdampak;
- bertambahnya krisis kemanusiaan;
- konflik dan perpindahan penduduk;
- kesenjangan akses terhadap layanan kesehatan; serta
- kemunduran dalam perlindungan hak asasi manusia.
Berkurangnya pendanaan dapat berdampak langsung pada ketersediaan tes HIV, obat antiretroviral, tenaga kesehatan, layanan pencegahan, dan program pendampingan masyarakat.
Gangguan layanan dapat meningkatkan risiko orang menghentikan pengobatan, terlambat didiagnosis, atau tidak memperoleh pencegahan yang mereka perlukan.
Dampaknya sering kali paling berat dirasakan oleh kelompok yang sudah berada dalam situasi rentan, termasuk anak-anak, perempuan, masyarakat berpenghasilan rendah, dan orang yang tinggal di negara berkembang.
Masih Banyak Orang Belum Mendapatkan Pengobatan
Monsinyur Formica mengatakan bahwa kerja sama antara pemerintah, lembaga internasional, tenaga kesehatan, organisasi berbasis masyarakat, dan lembaga keagamaan telah membantu membuat layanan HIV menjadi lebih tersedia dan terjangkau.
Namun, banyak orang masih belum dapat mengakses pengobatan HIV dan AIDS. Sebagian besar dari mereka tinggal di negara-negara berkembang.
Kesenjangan tersebut dapat disebabkan oleh harga obat, keterbatasan fasilitas kesehatan, kurangnya tenaga medis, stigma, diskriminasi, atau kebijakan yang menghambat seseorang memperoleh layanan.
Oleh karena itu, ia menyerukan penguatan sistem kesehatan dan peningkatan penelitian di negara-negara berkembang.
Negara-negara tersebut membutuhkan fasilitas pemeriksaan yang memadai, rantai pasok obat yang stabil, tenaga kesehatan terlatih, serta sistem rujukan yang memastikan pasien tidak terputus dari layanan.
Layanan HIV Harus Menghormati Martabat Manusia
Dalam pidatonya, Monsinyur Formica mengutip ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas:
“Kita tidak dapat membayangkan masyarakat yang melaju dengan kecepatan penuh sambil berpegang teguh pada mitos palsu tentang kesejahteraan, sementara pada saat yang sama mengabaikan begitu banyak situasi kemiskinan dan kerentanan.”
Pesan tersebut menekankan bahwa kemajuan dalam bidang kesehatan tidak boleh hanya dinikmati oleh negara atau kelompok masyarakat tertentu.
Setiap orang yang hidup dengan HIV, termasuk mereka yang miskin, terpinggirkan, atau tinggal di wilayah dengan sumber daya terbatas, berhak memperoleh pengobatan dan perawatan yang layak.
Menurut Monsinyur Formica, institusi kesehatan Katolik menyediakan sekitar seperempat dari seluruh layanan terkait HIV di dunia.
Ia menegaskan bahwa lembaga-lembaga tersebut akan terus berupaya memastikan semua orang yang hidup dengan HIV menerima pengobatan dan perawatan yang menghormati martabat kemanusiaan mereka.
Kemajuan Harus Menjangkau Anak-Anak
Penurunan infeksi HIV baru sebesar 65 persen sejak 1995 menunjukkan bahwa pencegahan, pengobatan, dan kerja sama global dapat memberikan hasil yang besar.
Namun, keberhasilan tersebut belum dapat dianggap lengkap selama anak-anak masih lebih sering terlambat didiagnosis, tidak memperoleh obat yang sesuai, dan mengalami kematian yang sebenarnya dapat dicegah.
Mengakhiri AIDS membutuhkan lebih dari sekadar menurunkan jumlah kasus secara keseluruhan. Kemajuan harus dirasakan secara merata oleh semua orang, termasuk anak-anak, perempuan hamil, dan masyarakat di negara-negara dengan sumber daya terbatas.
Pemeriksaan sejak dini, pengobatan yang konsisten, obat yang ramah anak, layanan ibu dan anak yang berkualitas, serta pendanaan yang berkelanjutan menjadi bagian penting untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.
Artikel asli: HIV, AIDS rates down, but children still vulnerable, Vatican diplomat tells UN
Tautan asli: https://www.ucanews.com/news/hiv-aids-rates-down-but-children-still-vulnerable-vatican-diplomat-tells-un/114261