[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Kasus sifilis meningkat di antara perempuan di Inggris

14 Mei 2026, 8 kali dilihat Blog

Kasus sifilis meningkat di antara perempuan di Inggris
 

Oleh: Gus Cairns, 14 Mei 2026

Dr. Helen Peters mempresentasikan studi tentang sifilis pada kehamilan dalam konferensi tersebut. Foto oleh Gus Cairns.
Meskipun mayoritas kasus sifilis di Inggris masih terjadi pada pria gay dan biseksual yang berhubungan seks dengan pria serta perempuan transgender, proporsi kasus pada populasi heteroseksual, khususnya perempuan, meningkat dalam dekade terakhir.
Pada tahun data lengkap terakhir (2024), Badan Keamanan Kesehatan Inggris melaporkan bahwa diagnosis sifilis di Inggris meningkat sebesar 4,6% dibandingkan tahun 2023, sementara diagnosis klamidia menurun 13% dan gonore menurun 16%. Kasus sifilis pada pria gay dan biseksual sedikit menurun dari 6.435 menjadi 6.330, namun terjadi peningkatan 24% pada pria heteroseksual.
Perempuan masih mencakup proporsi kecil dari seluruh kasus (828 kasus atau sedikit di atas 6%). Namun, meskipun tidak terjadi peningkatan pada tahun lalu, dalam satu dekade terakhir jumlah kasus pada perempuan meningkat lebih dari tiga kali lipat (217%), dibandingkan peningkatan 53% pada pria gay dan biseksual serta 130% pada pria heteroseksual.
Terjadi pula peningkatan kasus penularan vertikal yang menyebabkan bayi lahir dengan sifilis kongenital, suatu kondisi serius dengan dampak kesehatan yang berat.
Perempuan dengan paparan sifilis di Manchester
Dalam konferensi gabungan British HIV Association (BHIVA) dan British Association for Sexual Health and HIV (BASHH) di Liverpool, Dr. Rachel Kirby dari klinik kesehatan seksual The Northern di Manchester memaparkan analisis terhadap 40 perempuan yang didiagnosis sifilis di wilayah tersebut. Mereka mengakses layanan seperti The Northern, layanan dukungan pekerja seks MASH, layanan antenatal, dan layanan lainnya di daerah tersebut.
Mayoritas peserta beretnis kulit putih, namun terdapat proporsi perempuan kulit hitam yang lebih tinggi dibandingkan proporsi populasi umum, sementara perempuan Asia justru lebih sedikit terwakili.
Sebagian besar (22 dari 40) didiagnosis di luar layanan kesehatan seksual, terutama melalui layanan antenatal. Mayoritas perempuan didiagnosis pada stadium laten lanjut sifilis, yaitu fase ketika tubuh sementara beradaptasi terhadap infeksi. Pada fase ini, risiko penularan seksual lebih rendah, tetapi sifilis masih dapat ditularkan dari ibu ke bayi selama kehamilan.
Sebanyak enam dari 40 perempuan (15%) tidak menerima atau tidak menyelesaikan pengobatan. Selain itu, 57% tidak kembali untuk kunjungan tindak lanjut tiga bulan guna memastikan keberhasilan terapi.
Tim peneliti membandingkan kondisi psikososial perempuan dengan sifilis dan perempuan dengan klamidia di wilayah yang sama. Perempuan dengan sifilis lebih sering memiliki pengalaman bekerja di sektor seks (34% vs 2%), mengalami ketidakstabilan tempat tinggal (11% vs 0%), menggunakan narkotika rekreasional (45% vs 5%), mengalami kekerasan dalam rumah tangga (33% vs 8%), serta mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanak (18% vs 10%).
Dr. Kirby menekankan perlunya penilaian psikososial yang komprehensif bagi perempuan yang datang dengan risiko sifilis, peningkatan pelatihan bagi tenaga kesehatan non-spesialis kesehatan seksual, keberlanjutan layanan penjangkauan komunitas, serta pertimbangan pemberian doxyPEP bagi perempuan, yang saat ini belum direkomendasikan dalam pedoman.
Sifilis dan doxyPEP pada pekerja seks di Leeds
Salah satu layanan penjangkauan pekerja seks di Leeds mulai menyediakan doxyPEP. Poster penelitian dari Dr. Amy Evans dan tim Leeds Sexual Health mendokumentasikan wabah sifilis di kalangan pekerja seks perempuan, pasangan mereka, dan klien sejak September 2024. Berbeda dengan kasus di Manchester, seluruh kasus di Leeds merupakan sifilis stadium awal yang menunjukkan adanya penularan baru di komunitas tersebut.
Pada April 2026, tim multidisiplin telah mengonfirmasi 18 kasus sifilis primer dan sekunder stadium awal pada 17 perempuan (termasuk satu kasus infeksi ulang), 10 kasus pada laki-laki kontak, dan beberapa kasus lain yang masih menunggu verifikasi.
Sebagian besar perempuan berusia rata-rata 33 tahun dan berasal dari etnis Inggris kulit putih. Namun, mereka juga menghadapi berbagai kerentanan sosial. Hampir seluruh perempuan yang didiagnosis menggunakan crack, sebagian besar bekerja di jalanan, banyak yang mengalami ketidakstabilan tempat tinggal, dan lebih dari separuh pernah menggunakan narkotika suntik.
Tim multidisiplin kemudian menyediakan doxyPEP melalui berbagai mekanisme distribusi, termasuk melalui apotek dan layanan mobil keliling kesehatan seksual. Para perempuan dianjurkan mengonsumsi minimal satu dosis per minggu dan tidak lebih dari satu dosis per hari. Layanan doxyPEP juga disertai pemeriksaan IMS rutin, tes kehamilan, PrEP HIV, dan vaksinasi hepatitis B, gonore, serta HPV.
Diagnosis sifilis di layanan non-rutin
Sifilis juga sering terlewatkan di layanan kesehatan non-rutin. Fleur Preedy dari Brighton and Sussex Medical School meninjau kasus sifilis yang terdiagnosis di layanan non-rutin antara tahun 2020–2025. Dari 56.816 tes antibodi sifilis, sebanyak 8.149 dilakukan di layanan non-rutin dan 143 di antaranya menunjukkan hasil positif.
Proporsi hasil positif tertinggi ditemukan pada pasien di bangsal penyakit menular, unit gawat darurat, dan layanan rawat jalan penyakit menular.
Peninjauan catatan medis menunjukkan adanya keterlambatan diagnosis meskipun gejala cukup berat telah muncul, termasuk abses, radang sendi, penurunan berat badan, gangguan pendengaran, neuropati, dan gangguan fungsi hati. Keterlambatan diagnosis berkisar antara satu hingga 40 bulan.
Sifilis dikenal sebagai “peniru ulung” karena gejalanya menyerupai berbagai penyakit lain. Akibatnya, beberapa pasien menjalani pemeriksaan invasif yang sebenarnya tidak diperlukan dan mengalami tekanan psikologis berat. Salah satu pasien mengalami kehilangan pendengaran permanen setelah berulang kali ditolak untuk menjalani tes sifilis.
Sifilis pada kehamilan dan bayi
Sifilis dapat diobati secara efektif pada orang dewasa, tetapi sifilis kongenital pada bayi tetap menjadi kondisi yang sangat serius dengan risiko kematian dan komplikasi jangka panjang.
Di Inggris, sifilis kongenital tergolong jarang, dengan sekitar 2,5 kasus per 100.000 kelahiran hidup. Namun secara global, angka ini jauh lebih tinggi.
Pemeriksaan sifilis direkomendasikan bagi seluruh ibu hamil. Antara tahun 2020–2024, terdapat 1.341 perempuan hamil yang didiagnosis sifilis. Sebagian besar berhasil diobati, tetapi beberapa baru didiagnosis mendekati persalinan atau bahkan saat persalinan berlangsung.
Pada tahun 2023, tercatat 13 bayi lahir dengan sifilis kongenital. Secara keseluruhan, antara 2015–2024 terjadi 79 kasus penularan vertikal.
Sebanyak 14 bayi lahir mati dan tujuh lainnya meninggal dalam waktu kurang dari satu minggu setelah lahir. Bayi dengan sifilis kongenital dapat mengalami lesi kulit, pembesaran hati dan limpa, gangguan tumbuh kembang, kelainan tulang, hingga gangguan neurologis. Pengobatan penisilin dapat menyembuhkan infeksi, tetapi tidak dapat memperbaiki kerusakan yang telah terjadi sebelumnya.
Mayoritas ibu dari bayi dengan sifilis kongenital masih berusia muda, sebagian besar beretnis kulit putih, dan banyak menghadapi faktor sosial kompleks seperti keterlibatan dengan layanan sosial, ketidakstabilan tempat tinggal, penggunaan alkohol atau narkotika, kekerasan dalam rumah tangga, dan keterlibatan dalam pekerjaan seks.
“Temuan ini,” ujar Peters, “menunjukkan pentingnya edukasi kesehatan seksual selama kehamilan, peningkatan kesadaran di kalangan tenaga kesehatan, serta pertimbangan strategi skrining nasional yang lebih kuat.”

Referensi:
Kirby R et al. Syphilis in Cisgender Women: Exploring the Challenges in Diagnosis, Treatment and Psychosocial Needs. Sixth Joint Conference of the British HIV Association (BHIVA) and the British Association for Sexual Health and HIV (BASSH), abstract O14, Liverpool, 2026.
Evans A (presenter Walker V) et al. Street sex worker outbreak and response 2: early syphilis. DoxyPEP: can we do it? Sixth Joint Conference of the British HIV Association (BHIVA) and the British Association for Sexual Health and HIV (BASSH), abstract A052, Liverpool, 2026.
Smith S (presenter Preedy F) et al. A retrospective review of syphilis testing in non-routine hospital settings between 2020 and 2025. Sixth Joint Conference of the British HIV Association (BHIVA) and the British Association for Sexual Health and HIV (BASSH), abstract O13, Liverpool, 2026.
Peters H et al. Characteristics and care of women diagnosed with syphilis in pregnancy in England, 2020 to 2024. Sixth Joint Conference of the British HIV Association (BHIVA) and the British Association for Sexual Health and HIV (BASSH), abstract A054, Liverpool, 2026.
Francis F et al (presenter Peters H). Factors contributing to increasing numbers of congenital syphilis in England 2015-2024. Sixth Joint Conference of the British HIV Association (BHIVA) and the British Association for Sexual Health and HIV (BASSH), abstract O12, Liverpool, 2026.

Artikel asli: Syphilis cases increasing in women in the UK
Tautan asli: https://www.aidsmap.com/news/may-2026/syphilis-cases-increasing-women-uk