Lebih Banyak Orang Eropa Meninggal Karena HIV Sekarang Dibandingkan 15 Tahun Lalu
Oleh: Gus Cairns, aidsmap.com, 21 Oktober 2025
Eropa, secara keseluruhan, kehilangan sebagian kemajuan yang sebelumnya telah dicapai dalam menangani beban HIV, demikian disampaikan dalam Konferensi AIDS Eropa ke-20 (EACS 2025) di Paris.
Teymur Noori dari European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) mengatakan kepada para peserta konferensi bahwa Eropa tidak akan mampu mencapai sebagian besar target UNAIDS yang ditetapkan untuk tahun 2030.
UNAIDS pertama kali menetapkan target-target tersebut pada tahun 2014, kemudian direvisi pada tahun 2021 dengan menambahkan target sementara untuk tahun 2025 sebagai respons terhadap dampak pandemi COVID-19. Namun sejak saat itu, perang di berbagai wilayah—termasuk di Palestina dan Ukraina—pemotongan besar pada anggaran HIV global oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, serta pergeseran politik dunia ke arah kanan telah membuat isu HIV kehilangan prioritas dalam agenda kesehatan global. Maka, kegagalan mencapai target ambisius tersebut tidaklah mengherankan.
Kematian akibat HIV meningkat di Eropa
Meskipun secara global jumlah kematian akibat HIV menurun hingga separuh sejak 2010, Eropa merupakan satu-satunya wilayah di dunia yang justru mengalami peningkatan. Menurut laporan UNAIDS tahun 2023, jumlah kematian akibat HIV di wilayah Eropa WHO—yang membentang dari Eropa Barat hingga Asia Tengah—meningkat sepertiga sejak 2010.
Target UNAIDS menetapkan penurunan 75% kematian terkait HIV pada tahun 2025 dibandingkan 2010 dan penurunan 90% pada tahun 2030. Namun kenyataannya, kematian akibat HIV justru naik 37%, dari 37.000 menjadi 51.000 kematian di wilayah Eropa. Angka ini 5,5 kali lebih tinggi dari target 2025 (9.250 kematian) dan 13,8 kali lebih tinggi dari target 2030.
Banyak kematian tersebut terjadi di Rusia dan Ukraina, dua negara yang sedang berperang dan sejak sebelum 2010 telah memiliki prevalensi HIV tertinggi di Eropa. Namun bahkan di negara-negara Eropa Barat dan Tengah yang lebih makmur, target juga belum tercapai.
Di negara-negara Uni Eropa dan Wilayah Ekonomi Eropa (EU/EEA) — yang mencakup Islandia, Liechtenstein, dan Norwegia — jumlah kematian akibat HIV turun dari 4.300 pada 2010 menjadi 2.300 pada 2025, tetapi angka ini masih lebih dari dua kali lipat target 2025 dan lebih dari lima kali lipat target 2030.
Penularan HIV dan diagnosis
Untuk penularan HIV, ECDC memperkirakan infeksi baru di seluruh Eropa meningkat dari 149.000 pada 2010 menjadi 156.000 pada 2025 — meningkat 5% alih-alih menurun 75% seperti target. Di wilayah EU/EEA, infeksi memang menurun 20% (dari 24.000 menjadi 19.000), tetapi masih jauh dari target penurunan 75%.
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Seandainya semua orang dengan HIV di Eropa mendapatkan pengobatan dan mencapai supresi viral, maka epidemi tidak akan terus berkembang. Namun ECDC memperkirakan sekitar 30% orang dengan HIV di Eropa masih memiliki kadar virus yang menular, yaitu sekitar 620.000 orang, lebih dari dua kali lipat target global 2030 (14%).
Ini memang merupakan perbaikan besar dibanding tahun 2017, ketika 57% orang dengan HIV belum menekan virusnya, tetapi kemajuan tersebut terhenti sejak pandemi COVID-19 tahun 2020, dan peningkatan jumlah orang yang mencapai supresi viral berjalan jauh lebih lambat setelahnya.
Diagnosis masih menjadi tantangan
Kondisi ini lebih disebabkan oleh banyaknya orang yang belum terdiagnosis, bukan karena gagal menjalani terapi. Di Eropa Timur, sekitar 50% orang dengan kadar HIV menular belum didiagnosis, sementara di Eropa Barat dan Tengah angkanya 43–44%.
Menariknya, di wilayah-wilayah tersebut, sepertiga dari orang dengan viral load menular sebenarnya sudah menjalani terapi antiretroviral (ART), tetapi belum mencapai supresi viral—menandakan masalah kepatuhan atau efektivitas pengobatan.
Capaian target 95–95–95
Menurut Noori, dari tiga target 95–95–95, Eropa hanya mencapai target ketiga, yaitu 95% orang yang menjalani ART telah mencapai supresi viral, dengan 62% negara pelapor berhasil memenuhi sasaran ini.
Untuk target kedua, yaitu proporsi orang terdiagnosis yang menjalani ART, angkanya naik dari 64% pada 2017 menjadi 85% pada 2020, namun nyaris tidak berubah sejak pandemi COVID. Secara keseluruhan, hanya 71% orang dengan HIV di Eropa yang menjalani ART, lebih rendah dibanding rata-rata global (77%).
Target pertama (diagnosis) menunjukkan kemajuan lebih baik: dari 75% pada 2016 menjadi 86% pada 2024. Meski masih jauh dari 95%, proporsi ini terus meningkat.
Pencegahan dan penggunaan PrEP
Mencapai supresi viral hanyalah setengah dari strategi pengendalian HIV. Komponen lainnya adalah pencegahan, khususnya melalui PrEP (profilaksis pra-pajanan).
Target jumlah penerima PrEP di Eropa adalah 500.000 orang, namun sejauh ini baru 345.000 orang (70%) yang pernah menerima PrEP “setidaknya sekali” — belum tentu merupakan pengguna aktif.
Angka ini juga tidak merata: lebih dari 70% pengguna PrEP berada hanya di empat negara — Inggris (111.000 orang), Prancis (59.999), Jerman (40.000), dan Spanyol (34.000).
Beberapa negara baru mulai menawarkan PrEP tahun lalu, seperti Kirgistan, Siprus, Montenegro, Azerbaijan, dan Armenia, meski jumlah penerimanya masih dalam puluhan hingga ratusan. Di antara negara besar, Ukraina mencatat peningkatan tertinggi, dengan lebih dari separuh dari 14.000 pengguna PrEP memulai pada tahun lalu.
Di Ukraina, 27% pengguna PrEP adalah perempuan, kontras dengan sebagian besar wilayah Eropa lainnya. Meskipun secara teoritis jumlah perempuan cisgender berisiko tinggi di Eropa setara dengan laki-laki gay/biseksual dan perempuan transgender, hanya Inggris yang memiliki jumlah perempuan pengguna PrEP sebanding dengan Ukraina (sekitar 3.800). Namun di Inggris, perempuan hanya mewakili 3,4% dari seluruh pengguna PrEP, dan tidak ada negara Eropa lain yang memiliki lebih dari 400 perempuan pengguna PrEP.
Ini sangat berbeda dengan situasi global, di mana sebagian besar pengguna PrEP adalah perempuan, meskipun banyak negara tidak memisahkan data berdasarkan jenis kelamin.
Ketimpangan layanan HIV di Eropa
Noori menutup presentasinya dengan mengatakan bahwa situasinya “tidak sepenuhnya suram,” karena “beberapa negara di ketiga sub-wilayah Eropa menunjukkan kemajuan signifikan di berbagai bidang target, terutama Eropa Barat yang telah atau hampir mencapai beberapa sasaran utama.”
Namun ia menegaskan:
“Kita harus mengakui bahwa ketimpangan dalam penyediaan layanan baru — termasuk pencegahan, tes terpadu, dan pengobatan sesuai standar emas — masih sangat meluas di seluruh wilayah Eropa.”
Artikel asli: More Europeans are dying from HIV now than 15 years ago
Tautan asli: https://www.aidsmap.com/news/oct-2025/more-europeans-are-dying-hiv-now-15-years-ago
Referensi:
Noori T. “Five years left!” What targets are in reach in Europe and which will we struggle to make?
20th European AIDS Conference, Paris, presentasi pleno PL3, 2025.