info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Hubungan HIV dan Kekurangan Vitamin D

09 Februari 2024, 1288 kali dilihat Blog

Hubungan HIV dan Kekurangan Vitamin D

Oleh: Tim Spiritia, 6 Februari 2024

Orang yang hidup dengan HIV memiliki peningkatan risiko kekurangan vitamin D, atau sudah mengalami kekurangan vitamin D. Hal ini mungkin disebabkan oleh efek samping dari terapi antiretroviral. Penelitian pada tahun 2019 mencatat bahwa kekurangan vitamin D umum terjadi di seluruh dunia dan mempengaruhi lebih dari 75% populasi di Amerika Serikat. Namun, kondisi ini umum terjadi pada orang dengan HIV.

HIV mempengaruhi cara tubuh mensintesis vitamin D. Obat antiretroviral tertentu juga dapat menekan produksi vitamin D dalam tubuh.

Suplemen vitamin D dapat membantu mengembalikan tingkat vitamin D pada orang dengan HIV.

Pada artikel ini, kita akan membahas hubungan antara HIV dan rendahnya kadar vitamin D. Kami juga akan membahas dampak dari pemberian suplemen vitamin D.

 

Apa hubungan antara kekurangan vitamin D dan HIV?

Orang yang hidup dengan HIV memiliki peningkatan risiko kekurangan vitamin D.

Penelitian menemukan bahwa hingga 100% orang dengan HIV-1, memiliki kekurangan kadar vitamin D. Selain itu, setidaknya 30% orang dengan HIV-1 mengalami kekurangan vitamin D berat.

Ada beberapa faktor risiko kekurangan vitamin D yang dapat mempengaruhi siapapun, seperti:

Seseorang yang hidup dengan HIV mungkin juga memiliki peningkatan risiko kekurangan vitamin D karena:

HIV-1 memengaruhi cara tubuh memetabolisme vitamin D. HIV-1 dapat menyebabkan peningkatan sitokin proinflamasi, sejenis protein yang mencegah tubuh mensintesis vitamin D aktif.

Terapi antiretroviral tertentu mungkin juga berdampak pada kadar vitamin D dalam tubuh.

Menurut sebuah studi pada tahun 2018, penelitian terhadap sel yang dikultur di laboratorium menunjukkan bahwa obat ARV golongan protease inhibitor, khususnya ritonavir dapat menekan kadar vitamin D. Penekanan ini bergantung pada dosis dan kondisi ini tidak permanen (dapat dikembalikan jika faktor dihilangkan). Penelitian pada manusia menghasilkan hasil yang beragam.

Efavirenz juga tampaknya menurunkan kadar vitamin D. Sebuah penelitian pada tahun 2014 menemukan bahwa dari 690 peserta, mereka yang memakai efavirenz mengalami penurunan kadar vitamin D yang signifikan selama 48 minggu, dibandingkan dengan orang yang memakai rilpivirine.

Tenofovir disoproxil fumarate (TDF) juga dapat mempengaruhi cara tubuh memetabolisme vitamin D, dan dapat meningkatkan kemungkinan pengeroposan tulang.

 

Efek vitamin D pada sistem kekebalan tubuh

Vitamin D berperan penting dalam respons imun tubuh, yaitu cara tubuh bereaksi terhadap zat asing atau berbahaya serta infeksi.

Vitamin D memiliki efek antiinflamasi dan antimikroba serta membantu mengatur sistem kekebalan tubuh.

Sebuah artikel pada tahun 2020 mencatat hubungan antara infeksi dan penyakit autoimun dan kekurangan vitamin D.

Para peneliti masih memerlukan lebih banyak bukti untuk menentukan apakah suplementasi vitamin D secara teratur dapat mencegah atau mengubah kondisi peradangan atau autoimun pada mereka yang berisiko.

Artikel tersebut menyimpulkan bahwa vitamin D berperan penting dalam fungsi kekebalan tubuh dan menghindari kekurangan vitamin D membantu meningkatkan kesehatan kekebalan tubuh dan menurunkan risiko kondisi autoimun.

 

Penanganan

Dokter dapat memantau kadar vitamin D pada orang HIV-positif untuk memastikan mereka memiliki kadar yang cukup.

Jika seseorang memakai obat antiretroviral tertentu yang menurunkan jumlah vitamin D dalam tubuh, mereka mungkin berkonsultasi dengan dokter tentang perubahan terapi antiretroviral misalnya beralih dari TDF ke tenofovir alafenamide. Jika seseorang menggunakan TDF, mereka mungkin perlu menggunakan suplemen vitamin D3.

Para ahli merekomendasikan seseorang yang menjalani terapi antiretroviral mengonsumsi hingga 4.000 unit internasional (IU) vitamin D3 setiap hari.

Sebuah penelitian skala kecil pada tahun 2020 juga merekomendasikan bahwa orang yang menerima kombinasi TDF, emtricitabine, dan efavirenz harus menambah vitamin D2 dan kalsium untuk mengurangi pengeroposan tulang.

 

Penggunaan suplemen dan dampaknya

Pada 2019 para peneliti meninjau 29 studi klinis dan melaporkan bahwa suplementasi vitamin D dapat secara efektif memulihkan tingkat vitamin D yang cukup pada orang dengan HIV yang memiliki kadar vitamin D rendah atau kekurangan vitamin D.

Penelitian tersebut mencakup dosis harian berkisar antara 400 hingga 14.000 IU. Dosis antara 4.000 dan 7.000 IU adalah yang paling umum.

Dalam kasus kekurangan vitamin D yang parah, dosis harian 7.000 IU ternyata merupakan dosis paling efektif dalam seluruh penelitian. Suplementasi pada tingkat ini memulihkan vitamin D ke tingkat yang cukup pada 80% peserta, dan kadarnya meningkat setelah 12 bulan pengobatan.

Setelah orang mencapai jumlah vitamin D yang cukup dalam tubuh, peneliti merekomendasikan dosis pemeliharaan untuk menjaga kadar vitamin D tetap stabil.

Namun, vitamin D dosis tinggi mungkin menimbulkan risiko. Jika kalsidiol, yang merupakan salah satu bentuk vitamin D, meningkat melebihi 100 nanogram per mililiter, atau jika kalsium dalam darah meningkat melebihi 2,70 milimol per liter, hal ini dapat menimbulkan dampak buruk.

Sembilan dari uji coba tersebut mencakup suplementasi vitamin D yang melebihi batas atas yang direkomendasikan yaitu 4.000 IU per hari. Di antara semua penelitian dalam tinjauan tersebut, semua penggunaan suplemen ternyata aman, tanpa ada laporan efek samping.

Namun, masing-masing penelitian memiliki periode tindak lanjut yang relatif singkat, dan oleh karena itu penelitian lebih lanjut mungkin memberikan rincian lebih lanjut tentang efek jangka panjang dan keamanan suplementasi vitamin D.

 

Artikel asli: HIV and vitamin D deficiency: What is the link?

Tautan asli: https://www.medicalnewstoday.com/articles/hiv-and-vitamin-d