[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Traveling ke luar negeri bagi orang dengan HIV

12 Januari 2024, 2902 kali dilihat Blog

Traveling ke luar negeri bagi orang dengan HIV

 

Diterjemahkan oleh Tim Spiritia: 12 Januari 2024

 

Terdapat beberapa negara yang membatasi masuknya orang-orang dengan HIV. Namun, jumlah negara yang membatasi perjalanan bagi orang-orang dengan HIV telah berkurang dalam beberapa tahun terakhir. Perjalanan jangka pendek biasanya memiliki batasan yang lebih sedikit dan pemeriksaan mungkin dilakukan secara kurang konsisten. Aturan cenderung diterapkan dengan lebih ketat untuk tinggal jangka panjang, seperti yang memerlukan visa kerja.

 

Apakah saya bisa bepergian ke luar negeri jika saya hidup dengan HIV?

Saat ini banyak negara yang dengan jelas menyatakan bahwa status HIV seseorang tidak akan mempengaruhi kunjungan, status untuk tinggal atau bekerja di sana. Sebagian besar negara tidak memerlukan jenis tes untuk tinggal jangka pendek atau panjang.

Namun, masih ada beberapa negara yang membatasi masuk bagi orang yang hidup dengan HIV. Negara-negara ini memberlakukan larangan masuk. Ini berarti bahwa jika seorang dengan HIV bepergian ke negara-negara tersebut, ia mungkin tidak akan diizinkan masuk.

Di negara-negara lain, pembatasan hanya berlaku untuk tinggal jangka panjang. Sesorang mungkin diizinkan masuk untuk waktu yang singkat (seperti liburan), tetapi mungkin tidak diizinkan untuk bekerja atau tinggal di sana. Di negara-negara ini, Anda mungkin harus menjalani tes HIV atau menyatakan status HIV Anda saat mengajukan visa atau izin tinggal.

Dalam beberapa kasus, Anda mungkin tidak diminta informasi tentang HIV, tetapi jika diketahui bahwa Anda memiliki HIV, Anda dapat diminta untuk keluar dari negara tersebut.

Pembatasan perjalanan untuk orang yang hidup dengan HIV bersifat kompleks dan berubah-ubah dari negara ke negara. Tidak semua negara memiliki hukum imigrasi khusus yang berkaitan dengan HIV, tetapi menyatakan status HIV kita kadang-kadang dapat menimbulkan masalah.

Pembatasan perjalanan juga berlaku bahkan jika seseorang memiliki jumlah virus (viral load) yang tidak terdeteksi.

 

Negara mana yang memiliki pembatasan perjalanan bagi orang dengan HIV?

Halaman ini memberikan panduan umum tentang regulasi saat ini di berbagai benua, berdasarkan informasi dari situs web www.hivtravel.org. Informasi ini disediakan oleh Deutsche AIDS-Hilfe, European AIDS Treatment Group, dan International AIDS Society.

Harap dicatat bahwa regulasi dapat berubah sejak waktu artikel ini dibuat. Sebelum membuat rencana perjalanan apa pun, termasuk untuk tinggal atau bekerja di luar negeri, kami sarankan Anda memeriksa situs web www.hivtravel.org untuk mendapatkan detail terkini berdasarkan negara. 

 

Amerika Utara

Untuk masuk dan tinggal sementara (jangka pendek), umumnya tidak ada pembatasan bagi orang yang hidup dengan HIV yang bepergian ke Amerika Utara.

Di Amerika Serikat, orang yang masuk dengan obat resep, termasuk obat HIV, perlu membawa surat keterangan dokter dalam bahasa Inggris, yang menyatakan bahwa obat-obatan tersebut diperlukan untuk mengobati kondisi kesehatan pribadi.

Di Kanada, Anda harus menjalani tes HIV jika berencana tinggal lebih dari enam bulan. Semua pengunjung yang berencana untuk tinggal jangka panjang dinilai berdasarkan seberapa besar biaya yang mungkin dibebankan pada layanan kesehatan Pemerintah Kanada. Biaya lebih dari CA$24.057 per tahun dianggap 'berlebih', tetapi biaya sebagian obat HIV yang didanai secara publik biasanya kurang dari jumlah ini.

 

Amerika Tengah dan Selatan

Untuk masuk dan tinggal sementara, umumnya tidak ada pembatasan bagi orang yang hidup dengan HIV yang bepergian ke Amerika Tengah dan Selatan.

Ada pembatasan untuk tinggal jangka panjang di Honduras, Nikaragua, dan Paraguay. Di Paraguay, misalnya, mereka yang bepergian ke negara tersebut dan ngin mengajukan izin tinggal permanen harus menjalani tes HIV. Izin tinggal tidak akan diberikan jika hasil tes positif, kecuali jika Anda dapat membayar pengobatan sendiri.

Untuk Aruba, Belize, Nikaragua, dan Suriname, regulasinya masih belum jelas atau tidak pasti. Silakan hubungi kedutaan masing-masing Negara tersebut untuk panduan sebelum bepergian.

 

Karibia

Untuk masuk dan tinggal sementara, umumnya tidak ada pembatasan bagi orang yang hidup dengan HIV yang bepergian ke Karibia.

Namun, Kuba, Republik Dominika, St Vincent dan Grenadin, Kepulauan Turks dan Caicos, serta Kepulauan Virgin memiliki pembatasan untuk tinggal jangka panjang. Sebagai contoh, di St Vincent dan Grenadin, izin kerja tidak diperpanjang jika hasil tes HIV positif, dan orang asing yang HIV positif tidak memiliki akses ke perawatan dan layanan.

Di Kepulauan Cayman, Montserrat, St Kitts dan Nevis, serta St Vincent dan Grenadin, regulasinya tidak jelas atau tidak pasti. Tidak ada informasi yang tersedia untuk Bermuda. Silakan hubungi kedutaan mereka masing-masing untuk panduan sebelum bepergian.

 

Sub-Saharan Afrika

Secara umum, terdapat sedikit pembatasan bagi orang yang hidup dengan HIV yang bepergian ke Sub-Sahara Afrika. Namun, di Guinea Khatulistiwa (Equatorial Guinea), Anda mungkin harus menunjukkan hasil tes HIV. Jika Anda HIV positif, Anda mungkin dapat ditolak masuk atau dideportasi.

Beberapa negara berikut memiliki pembatasan untuk tinggal jangka panjang: Guinea Khatulistiwa, Mauritius, Seychelles, dan Sudan. Regulasi untuk orang dengan HIV yang ingin menetap jangka panjang di Angola, São Tomé dan Principe tidak tersedia. Silakan hubungi kedutaan mereka masing-masing untuk panduan sebelum bepergian.

 

Afrika Utara dan Timur Tengah

Sebagian besar negara di Afrika Utara dan Timur Tengah membatasi perjalanan masuk bagi orang dengan HIV. Jika Anda hidup dengan HIV, Anda dapat ditolak masuk ke Yordania, Iran, Irak, Uni Emirat Arab, atau Yaman, bahkan untuk tinggal sementara. Namun, tidak ada pembatasan jika Anda hanya transit melalui Dubai sebagai penumpang pesawat.

Negara-negara dengan pembatasan (atau potensi pembatasan) untuk tinggal jangka panjang termasuk Aljazair, Bahrain, Mesir, Israel, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, Suriah, dan Tunisia. Hampir semua negara ini juga akan mendeportasi orang berdasarkan status HIV mereka.

Perlu diingat bahwa regulasi ini masih belum jelas atau tidak pasti di Iran, Qatar, dan Tunisia. Disarankan untuk menghubungi kedutaan mereka masing-masing untuk panduan sebelum bepergian.

 

Eropa Barat, Utara, dan Selatan

Untuk masuk dan tinggal sementara, umumnya tidak ada pembatasan/larangan bagi orang yang hidup dengan HIV yang bepergian ke Eropa Barat, Utara, atau Selatan.

Di Siprus, orang yang berasal dari luar Uni Eropa yang mengajukan izin tinggal sementara harus membuktikan bahwa mereka tidak memiliki HIV sebelum izin dapat diberikan. Namun, aturan ini tidak berlaku untuk personel diplomatik dan eksekutif perusahaan.

 

Eropa Tengah dan Timur

Di Rusia, tidak ada tes HIV yang diperlukan untuk tinggal sementara sebagai turis (hingga tiga bulan), tetapi warga asing yang ditemukan HIV positif dapat dideportasi. Anda diharuskan menyerahkan hasil tes HIV negatif untuk tinggal lebih dari tiga bulan atau jika Anda menggunakan visa multi-entry.

Pembatasan perjalanan bagi orang yang hidup dengan HIV bersifat kompleks dan berubah-ubah dari negara ke negara.

Di Bosnia dan Azerbaijan, terdapat pembatasan untuk tinggal jangka panjang, dan di Slovakia, orang dari luar Uni Eropa yang mengajukan izin tinggal sementara harus membuktikan bahwa mereka tidak memiliki HIV sebelum izin diberikan.

Di Hungaria, Anda harus melaporkan status HIV Anda saat mengajukan izin tinggal. Namun, menjadi HIV positif tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk menolak aplikasi izin Anda.

 

Asia Tengah

Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Uzbekistan semuanya memiliki pembatasan untuk kunjungan jangka panjang, tetapi aturannya tidak jelas atau tidak pasti. Hubungi kedutaan mereka masing-masing untuk mendapatkan panduan sebelum bepergian ke negara-negara tersebut.

 

Asia Timur

Untuk masuk dan tinggal sementara, umumnya tidak ada pembatasan/larangan bagi orang yang hidup dengan HIV yang bepergian ke Asia Timur.

China sebelumnya melarang pengunjung jangka pendek dengan HIV, tetapi saat ini hal tersebut tidak lagi berlaku. Namun, situs web www.hivtravel.org merekomendasikan agar Anda tidak menyatakan status Anda pada formulir aplikasi visa. Situs ini juga menyarankan agar Anda berhati-hati dengan menyatakan status Anda misalnya dengan menggunakan pita merah. Tes HIV diperlukan untuk aplikasi visa kerja dan studi dengan tinggal lebih dari enam bulan. Namun, Hong Kong dan Macau memiliki peraturan masuk dan visa yang terpisah tanpa pembatasan apapun.

Satu-satunya negara di Asia Timur yang mendeportasi orang karena status HIV-nya adalah Republik Demokratik Rakyat Korea (Korea Utara).

 

Asia Selatan dan Asia Tenggara

Secara umum, terdapat sedikit pembatasan bagi orang yang hidup dengan HIV yang bepergian ke Asia Selatan dan Asia Tenggara untuk masuk dan tinggal sementara.

Namun, orang yang hidup dengan HIV tidak diizinkan masuk ke Brunei, dan orang yang ditemukan HIV positif dapat dideportasi. Di Bhutan, Anda harus menyerahkan hasil tes HIV yang diambil dalam enam bulan sebelum kunjungan Anda jika Anda ingin tinggal lebih dari dua minggu. Orang yang hasil tesnya positif mungkin akan dideportasi.

Di Maladewa, Malaysia, dan Singapura terdapat pembatasan untuk tinggal jangka panjang. Peraturan mengenai orang dengan HIV yang ingin tinggal jangka panjang di Malaysia dan Sri Lanka tidak jelas atau tidak pasti. Hubungi kedutaan Negara tersebut masing-masing sebelum bepergian untuk mendapat panduan sebelum Anda merencanakan untuk tinggal dalam jangka waktu yang lama.

 

Oseania

Untuk masuk dan tinggal sementara, umumnya tidak ada pembatasan bagi orang yang hidup dengan HIV yang bepergian ke Oseania. Pengecualiannya adalaj Kepulauan Solomon, di mana Anda mungkin dapat ditolak masuk berdasarkan status HIV Anda. Selain itu di Kepulauan Marshall, tes HIV diperlukan untuk pengunjung sementara yang tinggal lebih dari 30 hari.

Di Australia, semua pelamar visa jangka panjang yang berusia di atas 15 tahun harus menjalani tes HIV. Bagi mereka yang berusia di bawah 15 tahun, tes HIV juga mungkin dilakukan jika Anda memiliki riwayat transfusi darah, ibu Anda hidup dengan HIV, atau ada tanda medis bahwa Anda mungkin hidup dengan HIV. Para pelamar visa jangka panjang yang memiliki kondisi kesehatan jangka panjang, termasuk HIV, dinilai berdasarkan seberapa besar biaya yang mungkin akan membebani sistem kesehatan Australia. Informasi lebih lanjut dapat ditemukan di situs web pemerintah Australia.

Di Selandia Baru, orang dengan HIV dinilai secara 'kasus per kasus'. Jika Anda hidup dengan HIV dan berada dalam 'hubungan yang stabil jangka panjang' dengan warga negara Selandia Baru, Anda akan diberikan izin medis secara otomatis. Ini berarti status HIV Anda tidak dipertimbangkan sebagai bagian dari aplikasi visa atau izin tinggal Anda.

Beberapa negara juga memiliki pembatasan untuk tinggal jangka panjang, termasuk Kepulauan Marshall, Papua Nugini, Samoa, dan Kepulauan Solomon. Di Kepulauan Solomon dan Tonga, regulasinya tidak jelas atau tidak pasti. Untuk Polinesia Prancis (French Polynesia) dan Kiribati, tidak ada informasi yang tersedia mengenai pembatasan perjalanan terkait status HIV. Hubungi kedutaan mereka masing-masing sebelum bepergian untuk mendapatkan panduan.

 

Dapatkah saya tetap bepergian ke negara yang memiliki pembatasan masuk?

Jika Anda hidup dengan HIV dan memutuskan untuk bepergian ke negara yang menerapkan pembatasan masuk, Anda mungkin akan ditolak masuk atau dideportasi. Beberapa negara mungkin menawarkan izin khusus yang memungkinkan Anda mengunjungi dalam keadaan tertentu, seperti jika perjalanan tersebut untuk mengunjungi anggota keluarga, tetapi mendapatkannya bisa sulit.

Pembatasan perjalanan bagi orang dengan HIV dapat berubah dengan cepat, sehingga perlu diperiksa sebelum setiap perjalanan. Di negara-negara di mana pembatasan baru-baru ini berubah, sebaiknya berhati-hati lebih saat membicarakan status HIV Anda.

Jika Anda hidup dengan HIV, mungkin Anda pernah bepergian ke negara saat larangan perjalanan masih berlaku. Dalam hal ini, penting untuk diketahui bahwa masih ada risiko deportasi, bahkan jika larangan perjalanan telah dicabut. Hal ini dapat terjadi jika ada bukti bahwa Anda mengetahui status HIV Anda namun tetap memasuki negara tersebut. Dalam kasus ini, Anda bisa dideportasi karena melanggar hukum.

 

Dapatkah saya bepergian dengan obat PrEP?

Saat ini tidak ada informasi mengenai Negara yang melarang seseorang bepergian dengan PrEP. Namun, sebagian besar negara membatasi jumlah obat resep yang dapat Anda bawa saat bepergian. Biasanya, Anda dapat obat pribadi untuk tinggal selama tiga bulan. Tetapi selalu periksa aturan untuk negara-negara yang akan Anda kunjungi dan tinggali, karena beberapa negara memiliki aturan yang lebih ketat. Selalu disarankan untuk membawa resep Anda ketika masuk suatu Negara dengan membawa obat.

Jika sebuah negara memiliki pembatasan masuk untuk orang dengan HIV, bepergian dengan PrEP mungkin menyebabkan masalah. Hal ini karena petugas bea cukai mungkin menganggap bahwa obat tersebut digunakan untuk mengobati HIV. Dalam kasus ekstrem, ini bahkan bisa berarti Anda dideportasi (diminta untuk meninggalkan negara). Surat dari dokter Anda yang menjelaskan bahwa PrEP digunakan untuk pencegahan HIV mungkin bisa membantu.

 

Informasi Penting Lainnya

Ketika Anda menghubungi sebuah kedutaan atau konsulat untuk menanyakan tentang pembatasan perjalanan, Anda dapat menjaga agar nama atau status HIV Anda tetap anonim/tidak perlu menyatakan nama atau status Anda.

Mungkin Anda dapat menghubungi organisasi atau Lembaga yang bergerak di bidang HIV di negara yang akan Anda kunjungi dan meminta informasi dari mereka.

Terdapat lebih banyak informasi tentang akses ke layanan dan obat HIV di beberapa negara Eropa dan Asia Tengah di situs web Stay on ART (www.stayonart.com).

 

Artikel asli: https://www.aidsmap.com/about-hiv/travel-restrictions-people-hiv