[email protected] | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Blog

Pencegahan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV

15 September 2023, 454 kali dilihat Blog

Pencegahan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV

 

Oleh: Tim Media Spiritia

Tanggal: 15 September 2023

 

Apakah Tuberkulosis itu?

Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga sering dikenal dengan Basil Tahan Asam (BTA). Sebagian besar kuman TBC sering ditemukan menginfeksi jaringan di paru dan menyebabkan TBC paru, namun bakteri ini juga memiliki kemampuan menginfeksi organ tubuh lainnya selain paru misalnya kelenjar getah bening, tulang, dan organ di luar paru lainnya.

 

Cara penularan Tuberkulosis

Mycobacterium tuberculosis, hingga saat ini merupakan bakteri yang paling sering ditemukan, dan menular antar manusia melalui rute udara. 

TBC paling sering memengaruhi paru, namun juga dapat memengaruhi organ lain. Gejala penyakit TBC paru tergantung pada lokasi lesi dan dapat menunjukkan manifestasi klinis sebagai berikut:

Ada 3 faktor yang menentukan transmisi M. Tuberculosis:

  1. Jumlah organisme yang keluar ke udara

  2. Konsentrasi organisme dalam udara, ditentukan oleh volume ruang dan ventilasi

  3. Lama seseorang menghirup udara terkontaminasi

Penularan TBC biasanya terjadi di dalam ruangan yang gelap, dengan minim ventilasi di mana kuman dapat bertahan di udara dalam waktu yang lebih lama. Cahaya matahari langsung dapat membunuh M. Tuberculosis dengan cepat, namun bakteri ini akan bertahan lebih lama di dalam keadaan yang gelap. Kontak dekat dalam waktu yang lama dengan orang terinfeksi meningkatkan risiko penularan. Apabila terpapar, proses berkembang menjadi penyakit TBC aktif bergantung pada kondisi imun individu. Pada individu dengan sistem imun yang normal, 90% tidak akan berkembang menjadi penyakit TBC dan hanya 10% dari kasus akan menjadi penyakit TBC aktif.

 

Pencegahan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV

Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, terutama orang dengan HIV, orang dengan malnutrisi, orang yang sedang menjalani pengobatan kanker atau sedang menjalani dialisis, risiko mengalami penyakit TBC lebih tinggi daripada orang dengan sistem kekebalan tubuh normal. Risiko tersebut dapat dikurangi dengan pemberian Terapi Pencegahan TBC atau yang dikenal dengan singkatan TPT.

TPT adalah terapi pencegahan tuberkulosis dengan menggunakan serangkaian pengobatan dengan satu jenis atau lebih obat antituberkulosis yang diberikan untuk mencegah perkembangan penyakit TBC.

Pemberian TPT dapat dilakukan jika tidak ada kontraindikasi pemberian TPT. Adapun kontraindikasi pemberian TPT antara lain memiliki hepatitis akut atau kronis, neuropati perifer (jika menggunakan isoniazid), konsumsi alkohol biasa atau berat. Penggunaan TPT yang mengandung Rifapentin hingga saat ini belum direkomendasikan pada ibu hamil dan ibu menyusui. 

TPT dapat diberikan pada orang dengan HIV yang tidak terbukti memiliki infeksi TBC aktif dan tidak mempunyai kontraindikasi terhadap pilihan obat. Ada beberapa pilihan regimen pemberian pengobatan pencegahan Tuberkulosis menurut rekomendasi WHO dan Kemenkes

  1. TPT dengan INH (Isoniazid) selama 6 bulan, dengan dosis INH 300 mg/hari selama 6 bulan dan ditambah dengan vitamin B6 dosis 25 mg/hari.

  2. TPT dengan menggunakan Rifapentine dan INH seminggu sekali selama 3 bulan dapat digunakan sebagai alternatif. Dosis yang digunakan adalah INH 15 mg/kg BB untuk usia > 12 tahun dengan dosis maksimal 900 mg dan dosis Rifapentine 900 mg untuk usia >12 tahun dan BB > 50 Kg (untuk BB 32 – 50 kg = 750 mg).

Kotrimoksazol diberikan pada semua pasien TBC HIV tanpa mempertimbangkan nilai CD4 sebagai pencegahan infeksi oportunistik lain. Pada ODHA tanpa TBC, pemberian profilaksis kotrimoksazol direkomendasikan untuk pasien dengan nilai CD4 <200 sel/mm3. Pemberian kotrimoksazol pada pasien HIV dapat menurunkan mortalitas.