Peringatan tentang teh Kombucha

Di akhir 1980-an di negara berpenghasilan tinggi, hanya satu obat yang tersedia untuk pengobatan HIV/AIDS: AZT. AZT harus dipakai enam kali sehari dan takarannya yang tinggi menyebabkan efek samping berat – dan efektivitasnya terhadap HIV adalah terbatas.

Pada 2009, Odha yang tinggal di negara maju memiliki pilihan terapi kombinasi yang memiliki catatan keamanan dan efektivitas yang lebih baik dibandingkan monoterapi AZT. Demikian juga, pada orang yang baru mulai rejimen pertama, takaran sekali sehari merupakan pilihan.

Walaupun terapi antiretroviral (ART) telah mengalami banyak perubahan dan kian membaik selama 20 tahun terakhir, mitos dan kesalahpahaman tentang keamanan ART tetap beredar di antara sebagian orang yang berisiko atau sudah terinfeksi HIV.

Para dokter di Los Angeles, California, AS baru-baru ini melaporkan kasus buruk yang dialami seorang pemudah HIV-positif yang mengalami toksisitas yang membahayakan jiwanya akibat terapi penunjang yang disebut teh Kombucha. Sebelum kami melaporkan temuan mereka, pertama-tama kami akan menyampaikan latar belakang informasi tentang Kombucha.

Tentang Kombucha

Menurut dokter di bagian gawat darurat yang menangani pemuda itu, teh tersebut “dibuat dengan teh hitam, manis, difermentasikan bersama semacam jamur yang putih, pipih, dan berwarna abu-abu selama paling sedikit tujuh hari.” Walaupun beberapa orang menganggapnya sebagai jamur Kombucha, sesungguhnya itu adalah campuran bakteri dan ragi.

Kombucha dan tikus

Untuk mulai mendokumentasikan dampak teh Kombucha, para peneliti di AS melakukan uji coba pada tikus percobaan. Mereka menemukan bahwa masa hidup tikus meningkat 5%. Namun, hal itu harus dibayar dengan pembengkakan hati dan limpa, memberi kesan toksisitas pada hati dan limpa. Begitu juga, tikus yang diberi teh Kombucha cenderung tidak bertambah berat badannya dibandingkan tikus yang tidak diberi teh Kombucha. Dan tikus yang diberi teh Kombucha tampak memiliki otak yang agak kecil. Namun, pemeriksaan darah secara luas, pemetaan CAT, MRI dan pemetaan lain tidak dilakukan, sehingga para peneliti hanya dapat menyediakan analisis secara terbatas tentang dampak terapi alternatif tersebut pada hewan.

Kombucha pada manusia – tidak ada bukti

Sayang sekali, belum ada penelitian yang dirancang dengan baik untuk menilai dampak teh Kombucha pada kesehatan manusia. Teh Kombucha diyakini memiliki serangkaian besar manfaat pada kondisi kesehatan berikut ini:

  • artritis
  • tekanan darah di atas normal
  • kanker
  • infeksi HIV

Juga ada pengakuan bahwa teh Kombucha dapat melakukan beberapa hal berikut ini:

  • mengurangi jerawat
  • menghilangkan kerut wajah
  • mengembalikan uban ke warna rambut yang semula

Yang mengherankan, seluruh pengakuan tentang manfaat Kombucha pada manusia tidak pernah diuji coba secara klinis.

Rincian kasus

Dokter di ruang gawat darurat melaporkan kekhawatirannya terhadap seorang pemuda berusia 22 tahun yang baru didiagnosis terinfeksi HIV. Jumlah CD4-nya 414, tidak memakai ART apa pun dan seharusnya sehat.

Sebulan setelah diagnosisnya dia minum satu liter teh Kombucha yang tidak dipasteurisasi. Empat jam kemudian dia mengalami demam sedang. Pada keesokan harinya dia mengalami gejala berikut ini:

  • gemetar yang tidak terkendali
  • sesak napas
  • demam tinggi

Akibat keadaannya yang memburuk, dia minta pertolongan ke bagian gawat darurat di rumah sakit setempat. Dokter di rumah sakit menemukan bahwa tekanan darahnya sangat tinggi dan mengkhawatirkan. Hasil tes darah mengungkapkan keadaan berikut ini: :

  • Tingkat enzim hati yang disebut AST (SGOT) di atas normal, memberi kesan kerusakan hati.
  • Darahnya menjadi asidik karena tingkat asam laktik yang berlebihan.
  • Ginjalnya mulai mengalami kerusakan dan tidak berfungsi.
  • Tidak terdeteksi adanya penggunaan narkoba.
  • Jumlah CD4-nya menurun drastis, menjadi 70.
  • Dokter menggambarkan perilakunya sebagai “pemberontak dan kebingungan” sehingga mereka membiusnya.
  • Tidak terdeteksi adanya bakteri, jamur atau virus. Namun, hal itu tidak mengejutkan, karena beberapa bakteri dan jamur memerlukan beberapa minggu atau bulan untuk bertumbuh sebelum mereka dapat terdeteksi.

Karena bingung mengenai gejalanya dan tidak ada kuman yang terdeteksi, tim dokter yang menanganinya berpendapat dia menderita meningitis – peradangan jaringan selaput otak dan saraf tulang belakang. Oleh karena itu mereka meresepkan beberapa antibiotik dengan anggapan dia terserang oleh bakteri.

Sebagaimana keadaannya kian memburuk, pemuda itu dipindahkan ke Intensive Care Unit (ICU) di rumah sakit itu. Para dokter di ICU menambahkan obat antiviral asiklovir pada rejimennya karena gejalanya mengesankan meningitis virus. Selama dia dirawat di rumah sakit itu dia tidak diberikan obat antijamur apa pun.

Hasil yang tidak terduga

Selama dirawat di ICU, dokternya begitu terkejut, gejalanya mulai membaik. Secara khusus, demamnya hilang. Dalam dua hari gejalanya hilang dan tekanan darahnya kembali normal dengan pH yang seimbang serta ginjalnya membaik. Dia diizinkan pulang.

Satu minggu kemudian dia kembali untuk pemeriksaan dan tes laboratorium lebih lanjut. Para dokter mengonfirmasi pemulihannya. Jumlah CD4-nya sudah meningkat menjadi sedikit di atas 400.

Satu bulan setelah kunjungannya ke bagian gawat darurat, biakan darahnya mengembangkan dua jenis jamur.

Toksisitas Kombucha

Selama satu dasawarsa terakhir, berbagai laporan toksisitas dihubungkan dengan meminum teh Kombucha telah dilaporkan, termasuk yang berikut ini:

  • tingkat keasaman darah yang berat
  • kerusakan hati
  • kerusakan otot
  • kesulitan bernapas
  • perdarahan dalam yang mengakibatkan kematian

Dokter pemuda itu menyatakan beberapa peringatan sebagai berikut:

“Teh Kombucha mungkin menimbulkan risiko kesehatan yang berat, khususnya pada orang yang memiliki sistem kekebalan yang lemah.” Walaupun dokter tidak menyebutkan kelompok tertentu dari orang dengan sistem kekebalan yang lemah, keadaan atau perilaku berikut ini dihubungkan dengan sistem kekebalan yang melemah:

  • penyalahgunaan alkohol
  • penyakit otoimun (penyakit Krohn, lupus, artritis rematik)
  • sangat muda (misalnya bayi)
  • berusia 65 tahun atau lebih tua
  • kanker
  • penyakit kardiovaskular (serangan jantung atau strok)
  • diabetes
  • infeksi HIV
  • penyakit ginjal
  • penyakit paru
  • penggunaan narkoba

Begitu juga, Dr. Edzard Ernst, pakar terapi penunjang dan alternatif di Eropa, menilai data tentang kemungkinan manfaat dan risiko yang terkait dengan teh Kombucha. Dia mengingatkan bahwa tidak cukup bukti yang mendukung penggunaannya.

Ringkasan: Kombucha caution

Sumber:
1. Ferguson B. Statistics from a Kombucha questionnaire. Available at: http://www.kombu.de/benefits.htm. Accessed June 16, 2009.
2. Hartmann AM, Burleson LE, Holmes AK, et al. Effects of chronic kombucha ingestion on open-field behaviors, longevity, appetitive behaviors, and organs in c57-bl/6 mice: a pilot study. Nutrition. 2000 Sep;16(9):755-61.
3. Sunghee Kole A, Jones HD, Christensen R, et al. A case of Kombucha tea toxicity. Journal of Intensive Care Medicine. 2009 May-Jun;24(3):205-7.
4. Ernst E. Kombucha: a systematic review of the clinical evidence. Forsch Komplementarmed Klass Naturheilkd. 2003 Apr;10(2):85-7.