Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 534 Diperbarui 5 Januari 2014
Flukonazol Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa Flukonazol Itu?

Flukonazol adalah obat antijamur. Obat ini dipasarkan dengan nama merek Diflucan. Namun versi generik dengan nama flukonazol atau beberapa nama lain adalah sama dengan versi bermerek, hanya harganya jauh lebih murah.

Obat antijamur menyerang infeksi yang disebabkan berbagai macam jamur. Flukonazol menyerang beberapa infeksi oportunistik pada Odha.

Mengapa Odha Memakai Flukonazol?

Flukonazol dipakai jika infeksi jamur tidak dapat diobati dengan krim atau lozenge. Obat ini berhasil terhadap beberapa jenis jamur yang berbeda, termasuk infeksi ragi (semacam jamur) yang disebut kandidiasis (lihat Lembaran Informasi (LI) 516).

Banyak kuman hidup di tubuh kita atau adalah umum dalam lingkungan kita. Sistem kekebalan yang sehat dapat menyerang atau mengendalikan infeksi yang disebabkan oleh kuman tersebut. Namun, infeksi HIV dapat merusakkan sistem kekebalan. Infeksi yang mengambil manfaat dari kerusakan pertahanan kekebalan tubuh dikenal sebagai “infeksi oportunistik.” Orang dengan penyakit HIV tahap lanjut dapat mengalami infeksi oportunistik. Lihat LI 500 untuk informasi lebih lanjut tentang Infeksi Oportunistik.

Infeksi kandidiasis sifatnya agak umum. Namun penyakit ini dapat lebih berat pada Odha. Salah satu infeksi oportunistik lain, meningitis kriptokokus dibahas pada LI 503. Flukonazol disetujui untuk mengobati kedua jenis infeksi ini.

Namun sebuah penelitian baru menemukan bahwa orang yang diobati untuk meningitis kriptokokus mempunyai risiko tinggi akan sindrom pemulihan kekebalan (LI 483) bila mereka mulai terapi antiretroviral (ART) secara bersamaan. Para peneliti mengusulkan ART ditunda sampai infeksi meningitis sudah terkendali.

Beberapa dokter juga memakai flukonazol untuk mengobati infeksi oportunistik lain yang disebabkan oleh jamur.

Bagaimana dengan Resistansi terhadap Obat?

Jika kita memakai obat resep apa pun, kita harus menghabiskan semua pil yang diresepkan. Banyak orang berhenti memakai obat jika mereka merasa lebih baik. Ini bukan langkah yang baik. Jika sebuah obat tidak mematikan semua kuman, kuman tersebut dapat berubah (bermutasi) sehingga dapat menjadi kebal (resistan). Bila kuman menjadi resistan terhadap satu atau beberapa obat, obat tersebut tidak akan manjur lagi di tubuh kita. Misalnya, jika kita memakai flukonazol untuk melawan kandidiasis, dan kita melupakan terlalu banyak dosis, jamur di tubuh kita itu dapat menjadi resistan pada flukonazol. Jika ini terjadi, kita harus memakai obat lain terhadap kandidiasis.

Bagaimana Flukonazol Dipakai?

Flukonazol tersedia dalam beberapa bentuk. Ada tablet 50mg, 100mg, 150mg, dan 200mg. Obat juga tersedia sebagai granul (biji-butir) untuk membuat bentuk cairan, dan sebagai cairan untuk infus. Dosis dan lama memakainya tergantung pada jenis infeksi.

Jika kita mempunyai masalah ginjal, dokter mungkin mengurangi dosis flukonazol.

Flukonazol dapat dipakai dengan atau tanpa makanan.

Apa Efek Samping Flukonazol?

Efek samping flukonazol yang paling umum adalah sakit kepala, mual, dan sakit perut. Sedikit orang mengalami diare. Sebagian besar obat antiretroviral (ARV) menyebabkan masalah pada sistem pencernaan. Flukonazol dapat memburukkan masalah itu.

Flukonazol dapat membebani hati. Dokter kemungkinan akan memantau hasil tes laboratorium kita untuk tanda kerusakan pada hati – lihat LI 135 tentang Tes Fungsi Hati. Periksa ke dokter jika air seni menjadi gelap atau warna kotoran (tinja) menjadi lebih muda.

Flukonazol juga dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal – lihat LI 651 tentang penyakit ginjal. Periksa ke dokter jika berat badan tiba-tiba meningkat atau ada bagian tubuh yang membengkak.

Pada kasus yang jarang, flukonazol dapat menyebabkan reaksi yang gawat (sindrom Stevens-Johnson – lihat LI 562) yang dilihat sebagai ruam pada kulit.

Ada bukti bahwa flukonazol dapat memengaruhi kesehatan perempuan hamil dan dosis tinggi yang dipakai selama beberapa bulan dapat menimbulkan cacat pada janin. Jadi sebaiknya perempuan hamil tidak memakai flukonazol bila ada pilihan yang lebih aman.

Flukonazol dikeluarkan dalam ASI dengan tingkat serupa dengan yang ada di darah. Jadi flukonazol tidak boleh dipakai oleh perempuan yang menyusui.

Bagaimana Flukonazol Berinteraksi dengan Obat Lain?

Flukonazol sebagian besar diuraikan oleh ginjal. Jadi obat ini tidak begitu berinteraksi dengan obat yang diuraikan oleh hati, termasuk sebagian besar ARV yang dipakai untuk menyerang HIV. Namun, flukonazol berinteraksi dengan indinavir, ritonavir, dan AZT. Flukonazol juga berinteraksi dengan beberapa jenis obat lain, termasuk beberapa obat pengencer darah, obat antisawan (antikonvulsi), diuretik, obat untuk menurunkan gula dalam darah, dan obat antibiotik. Pastikan dokter tahu SEMUA obat, suplemen dan jamu yang kita pakai.

Lihat LI 407 untuk informasi lebih lanjut mengenai interaksi obat.

Ditinjau 5 Januari 2014 berdasarkan FS 534 The AIDS InfoNet 29 Mei 2013