Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 512 Diperbarui 1 Juni 2014

PCP (Pneumonia Pneumocystis)

Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa PCP Itu?

Pneumonia Pneumocystis (PCP) adalah infeksi oportunistik (IO) paling umum pada orang terinfeksi HIV. Tanpa pengobatan, lebih dari 85% orang dengan HIV pada akhirnya akan mengembangkan penyakit PCP. PCP menjadi salah satu pembunuh utama Odha. Walau PCP hampir selalu dapat dicegah dan diobati, penyakit ini tetap menyebabkan kematian pada kurang lebih 10% kasus.

Saat ini, dengan tersedianya terapi antiretroviral (ART), angka PCP menurun secara dramatis. Sayangnya, PCP masih umum pada Odha yang terlambat mencari pengobatan atau belum mengetahui dirinya terinfeksi HIV. Sebenarnya, 30-40% Odha akan mengembangkan PCP bila mereka menunggu sampai jumlah CD4-nya kurang lebih 50. Cara terbaik untuk mencegah PCP adalah dengan tes HIV untuk mengetahui infeksinya lebih dini.

PCP disebabkan oleh jamur yang ada dalam tubuh hampir setiap orang. Dahulu jamur tersebut disebut Pneumocystis carinii, tetapi para ilmuwan sekarang memakai nama Pneumocystis jiroveci, namun penyakit masih disingkatkan sebagai PCP. Sistem kekebalan yang sehat dapat mengendalikan jamur ini. Namun, PCP menyebabkan penyakit pada orang dewasa dan anak dengan sistem kekebalan yang lemah.

Jamur Pneumocystis hampir selalu berpengaruh pada paru, menyebabkan bentuk pneumonia (radang paru). Orang dengan jumlah CD4 di bawah 200 mempunyai risiko paling tinggi mengalami penyakit PCP. Orang dengan jumlah CD4 di bawah 300 yang telah mengalami IO lain juga berisiko. Sebagian besar orang yang mengalami penyakit PCP menjadi jauh lebih lemah, kehilangan berat badan, dan kemungkinan mengembangkan penyakit PCP lagi.

Tanda pertama PCP adalah sesak napas, demam, dan batuk tanpa dahak. Siapa pun dengan gejala ini sebaiknya segera periksa ke dokter. Namun, semua Odha dengan jumlah CD4 di bawah 300 sebaiknya membahas pencegahan PCP dengan dokter, sebelum mengalami gejala apa pun.

Bagaimana PCP Diobati?

Selama bertahun-tahun, antibiotik dipakai untuk mencegah PCP pada pasien kanker dengan sistem kekebalan yang lemah. Tetapi baru pada 1985 sebuah penelitian kecil menunjukkan bahwa antibiotik juga dapat mencegah PCP pada Odha.

Obat yang sekarang dipakai untuk mengobati PCP mencakup kotrimoksazol, dapson, pentamidin, dan atovakuon.

Berdasarkan sebuah penelitian kecil, bila terapi baku tidak berhasil, pasien mungkin dapat memakai trimekstrat digabung dengan asam folinik.

Dapatkah PCP Dicegah?

Cara terbaik untuk mencegah PCP adalah dengan memakai ART. Orang dengan jumlah CD4 di bawah 200 dapat mencegah PCP dengan memakai obat yang juga dipakai untuk mengobati PCP. Untuk informasi lebih lanjut, lihat LI 950 dan LI 951.

Cara yang lain untuk mengurangi risiko PCP adalah dengan tidak merokok. Perokok terinfeksi HIV mengembangkan PCP 2-3 kali lebih cepat dibandingkan Odha yang tidak merokok. Satu penelitian menemukan bahwa perokok yang sudah berhenti sedikitnya selama satu tahun tidak mengembangkan PCP lebih cepat dibandingkan non-perokok.

ART dapat meningkatkan jumlah CD4 kita. Jika jumlah ini melebihi 200 dan bertahan begitu selama tiga bulan, mungkin kita dapat berhenti memakai obat pencegah PCP tanpa risiko. Namun, karena pengobatan PCP adalah murah dan mempunyai efek samping yang ringan, beberapa peneliti mengusulkan pengobatan sebaiknya diteruskan hingga jumlah CD4 di atas 300. Kita harus berbicara dengan dokter kita sebelum kita berhenti memakai obat apa pun yang diresepkan.

Obat Mana yang Paling Baik?

Kotrimoksazol adalah obat yang paling efektif melawan PCP. Obat ini juga murah, dan dipakai dalam bentuk pil, satu atau dua pil sehari.

Namun, bagian SMX dari kotrimoksazol merupakan obat sulfa dan hampir separuh orang yang memakainya mengalami reaksi alergi, biasanya ruam kulit, kadang-kadang demam. Sering kali, bila penggunaan kotrimoksazol dihentikan sampai gejala alergi hilang, lalu penggunaan dimulai kembali, masalah alergi tidak muncul lagi. Reaksi alergi yang berat dapat diatasi dengan memakai desensitisasi. Pasien mulai dengan takaran obat yang sangat rendah dan kemudian meningkatkan takarannya hingga takaran penuh dapat ditahan (lihat LI 951). Mengurangi dosis menjadi tiga pil seminggu mengurangi masalah alergi kotrimoksazol, dan tampak sama berhasil.

Karena masalah alergi yang disebabkan oleh kotrimoksazol serupa dengan efek samping dari beberapa obat antiretroviral, sebaiknya penggunaan kotrimoksazol dimulai seminggu atau lebih sebelum mulai ART. Dengan cara ini, bila alergi muncul, penyebab lebih mudah diketahui.

Dapson menyebabkan lebih sedikit reaksi alergi dibanding kotrimoksazol, dan harganya juga agak murah. Biasanya dapson dipakai dalam bentuk pil tidak lebih dari satu pil sehari. Namun dapson kadang kala lebih sulit diperoleh di Indonesia.

Pentamidin memerlukan kunjungan bulanan ke klinik yang mempunyai nebulizer, mesin yang membuat kabut obat yang sangat halus. Kabut ini dihirup secara langsung ke dalam paru. Prosedur ini memakan waktu kurang lebih 30-45 menit. Kita dibebani harga obat tersebut ditambah biaya klinik. Pasien yang memakai pentamidin aerosol akan mengalami PCP lebih sering dibanding orang yang memakai pil antibiotik.

Garis Dasar

Hampir semua peristiwa PCP, salah satu penyakit pembunuh utama para Odha, dapat diobati – dan dapat dicegah dengan obat murah yang mudah dipakai. ART dapat menahan jumlah CD4 kita tetap tinggi. Jika jumlah CD4 kita turun di bawah 300, kita sebaiknya membahas penggunaan obat pencegah PCP dengan dokter kita. Siapa pun dengan jumlah CD4 di bawah 200 seharusnya memakai obat anti-PCP.

Ditinjau 1 Juni 2014 berdasarkan FS 515 The AIDS InfoNet 16 April 2014