info@spiritia.or.id | (021) 2123-0242, (021) 2123-0243
Ikuti kami | Bahasa

Detail Informasi

PCP (Pneumonia Pneumocystis)

31 Januari 2024 Infeksi Oportunistik

Pneumocystis Jiroveci Pneumonia (PJP)/ (d/h) Pneumonia Pneumocystis (PCP)

Diperbarui 31 Januari 2024

 

Apa PCP Itu?

Pneumocystis jiroveci pneumonia (PJP), sebelumnya dikenal sebagai Pneumocystis carinii pneumonia (PCP), adalah infeksi oportunistik (IO) yang paling umum pada orang dengan infeksi HIV.

Pneumocystis pertama kali menjadi perhatian sebagai penyebab pneumonia pada bayi yang mengalami malnutrisi berat dan prematur selama Perang Dunia II di Eropa Tengah dan Timur. Sebelum tahun 1980an, kurang dari 100 kasus PJP dilaporkan setiap tahunnya di Amerika Serikat, terjadi pada pasien yang mengalami imunosupresi (misalnya, pasien kanker yang menerima kemoterapi dan penerima transplantasi organ yang menerima imunosupresan). Pada tahun 1981, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit melaporkan PJP pada 5 pria homoseksual sehat yang tinggal di wilayah Los Angeles.

P jiroveci kini menjadi salah satu dari beberapa organisme yang diketahui menyebabkan infeksi oportunistik yang mengancam jiwa pada pasien dengan infeksi HIV stadium lanjut di seluruh dunia. Lebih dari 100.000 kasus PJP dilaporkan pada dekade pertama epidemi HIV di Amerika Serikat pada orang yang tidak memiliki penyebab imunosupresi lainnya.

Saat ini, dengan tersedianya terapi antiretroviral (ART), angka PJP menurun secara dramatis. Sayangnya, PJP masih umum pada orang dengan HIB yang terlambat mencari pengobatan atau belum mengetahui dirinya terinfeksi HIV. Sekitar 30-40% orang dengan HIV akan mengembangkan PJP bila mereka menunggu sampai jumlah CD4-nya kurang lebih 50. Cara terbaik untuk mencegah PJP adalah dengan tes HIV untuk mengetahui infeksinya lebih dini.

Jamur ini hampir selalu berpengaruh pada paru, menyebabkan pneumonia (radang paru). Orang dengan jumlah CD4 di bawah 200 mempunyai risiko paling tinggi mengalami penyakit PJP. Orang dengan jumlah CD4 di bawah 300 yang telah mengalami IO lain juga berisiko. Sebagian besar orang yang mengalami penyakit PJP menjadi jauh lebih lemah, kehilangan berat badan, dan kemungkinan mengembangkan penyakit PJP lagi.

Tanda pertama PCP adalah sesak napas, demam, dan batuk tanpa dahak. Siapa pun dengan gejala ini sebaiknya segera periksa ke dokter. Namun, semua orang dengan HIV dengan jumlah CD4 di bawah 300 sebaiknya membahas pencegahan PJP dengan dokter, sebelum mengalami gejala apa pun.

 

Bagaimana PJP Diobati?

Meskipun secara resmi diklasifikasikan sebagai jamur, PJP tidak memberikan tanggapan yang baik terhadap pengobatan antijamur.

Antibiotik terutama direkomendasikan untuk pengobatan PJP ringan, sedang, atau berat. Trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX) telah terbukti sama efektifnya dengan pentamidin intravena dan lebih efektif dibandingkan rejimen pengobatan alternatif lainnya.

Meskipun secara resmi diklasifikasikan sebagai pneumonia jamur, pneumonia P jiroveci (PJP) tidak merespons pengobatan antijamur. Pengobatan pilihannya adalah TMP-SMX, dengan obat lini kedua termasuk pentamidin, dapson (sering dikombinasikan dengan pirimetamin), atau atovaquone. Namun, ada beberapa laporan keberhasilan pemberian caspofungin pada PJP, namun data klinis masih kurang. Laporan kasus menunjukkan bahwa pengobatan ini mungkin layak dipertimbangkan sebagai pilihan pengobatan penyelamatan pada kasus yang tidak responsif, dan penelitian lebih lanjut jelas diperlukan.

 

Dapatkah PCP Dicegah?

Cara terbaik untuk mencegah PCP adalah dengan memakai ART. Orang dengan jumlah CD4 di bawah 200 dapat mencegah PJP dengan memakai obat yang juga dipakai untuk mengobati PCP. 

Cara yang lain untuk mengurangi risiko PJP adalah dengan tidak merokok.

Perokok yang hidup dengan HIV mengembangkan PJP 2-3 kali lebih cepat dibandingkan orang dengan HIV yang tidak merokok. Satu penelitian menemukan bahwa perokok yang sudah berhenti sedikitnya selama satu tahun tidak mengembangkan PJP lebih cepat dibandingkan non-perokok.

ART dapat meningkatkan jumlah CD4 kita. Jika jumlah ini melebihi 200 dan bertahan begitu selama tiga bulan, mungkin kita dapat berhenti memakai obat pencegah PJP tanpa risiko. Namun, karena pengobatan PJP murah dan mempunyai efek samping yang ringan, beberapa peneliti mengusulkan pengobatan sebaiknya diteruskan hingga jumlah CD4 di atas 300. Kita harus berbicara dengan dokter kita sebelum kita berhenti memakai obat apa pun yang diresepkan. 

Obat sulfametoksazol (SMX) yang merupakan bagian dari kotrimoksazol merupakan obat sulfa dan hampir separuh orang yang memakainya mengalami reaksi alergi, biasanya ruam kulit, kadang-kadang demam. Sering kali, bila penggunaan kotrimoksazol dihentikan sampai gejala alergi hilang, lalu penggunaan dimulai kembali, masalah alergi tidak muncul lagi. Reaksi alergi yang berat dapat diatasi dengan cara desensitisasi. Pasien mulai dengan takaran obat yang sangat rendah dan kemudian meningkatkan takarannya hingga takaran penuh dapat ditahan. Mengurangi dosis menjadi tiga pil seminggu mengurangi masalah alergi kotrimoksazol, dan tampaknya memiliki tingkat keberhasilan yang sama.

Karena masalah alergi yang disebabkan oleh kotrimoksazol serupa dengan efek samping dari beberapa obat antiretroviral, sebaiknya penggunaan kotrimoksazol dimulai seminggu atau lebih sebelum mulai ART. Dengan cara ini, bila alergi muncul, penyebab alergi akan lebih mudah diketahui.

Dapson menyebabkan lebih sedikit reaksi alergi dibanding kotrimoksazol, dan harganya juga agak murah. Biasanya dapson dipakai dalam bentuk pil tidak lebih dari satu pil sehari. Namun dapson kadang kala lebih sulit diperoleh di Indonesia.

Pentamidin memerlukan kunjungan bulanan ke klinik yang mempunyai nebulizer, mesin yang membuat kabut obat yang sangat halus. Kabut ini dihirup secara langsung ke dalam paru. Prosedur ini memakan waktu kurang lebih 30-45 menit. Kita dibebani harga obat tersebut ditambah biaya klinik. Pasien yang memakai pentamidin aerosol akan mengalami PJP lebih sering dibanding orang yang memakai pil antibiotik.

Diperbarui 31 Januari 2024