Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Jawaban

Terapi TBC yang terputus

Pertanyaan

Diajukan: 19 Desember 2008

Selamat siang babeh, saya Patrick dari Manado. Saya drop pada bulan februari sampai Maret 2008. CD4 saya pada waktu itu 54. Lalu saya juga batuk-batuk pada waktu itu pada saat saya di rawat di rumah sakit. Setelah tes beberapa kali, akhirnya saya di kasih obat untuk batuk saya tersebut yang namanya "RIMSTAR 4-FDC". Memang pada waktu itu saya tidak menanyakan itu obat untuk apa, namun dokter (Bukan dokter CST, hanya dokter spesialis penyakit dalam) menyarankan untuk minum terus. setelah beberapa bulan saya merasa sudah sehat, saya menghentikan sendiri pemakaian obat tersebut karena terlalu mahal.

Setelah itu baru saya berkosulatsi dengan dokter CST dan dia mengatakan bahwa obat yang saya minum itu adalah salah satu obat TBC. Karena sudah terputus di tengah jalan maka dokter CST saya menyarankan untuk memulai terapi tersebut lagi, namun sekarang selama 9 bulan. Karena melihat hasil foto rongen saya masih ada sedikit kabur pada bagian paru-paru saya, ditambah setelah 6 bulan saya tes CD4 lagi dan hasilnya hanya 83.

Yang saya mau tanyakan, Apakah memang itu betul salah satu obat TBC? Dan kalau memang betul, saya minum obat TBC nya, obat program yang dari pemerintah? Karena saya takut kalau mulai dengan obat paten tidak dapat kembali ke obat generik. Itu saja yang saya mau tanyakan.

Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terima kasih.

 
Jawaban

Oleh: Babé (20 Desember 2008)

Patrick, RIMSTAR 4-FDC memang obat TB. Tablet ini adalah kombinasi obat takaran tetap (fixed dose combination/FDC) yang mengandung rifampisin, isoniazid, pirazinamid dan etambutol, yaitu rejimen obat lini pertama lengkap yang dipakai untuk menyembuhkan TB. Kombinasi ini umumnya dipakai untuk dua bulan (fase intensif) kemudian diganti dengan rifampisin dan isoniazid saja tiga kali seminggu untuk empat bulan. Kalau tidak dipakai terus sampai total enam bulan, ada risiko bakteri TB pada pengguna akan menjadi resistan (kebal) terhadap obat, dan bila dipakai lagi, tidak akan berhasil.

Untuk pasien yang mangkir pada pengobatan TB lini pertama yang baku, rejimen untuk terapi selanjutnya lebih berat. Saya tidak dapat mengakses pedoman Indonesia saat ini, tetapi umumnya fase intensif diperpanjang menjadi tiga bulan, dengan pasien diberi suntikan streptomisin setiap hari untuk dua bulan pertama. Kemudian, fase lanjutan juga lebih panjang, umumnya menjadi lima bulan, dan juga ditambah etambutol. Jadi masa terapi menjadi delapan bulan, tetapi dapat lebih panjang bila dokter merasa tetap ada masalah.

Semua obat TB di atas seharusnya tersedia gratis melalui rumah sakit rujukan ARV atau puskesmas. Namun tidak selalu tersedia FDC; mungkin yang tersedia adalah pil obat masing-masing, dengan akibat harus dipakai jauh lebih banyak pil. Obat yang tersedia adalah generik, bukan paten, tetapi kemanjuran tetap sama dengan versi paten. Tidak ada masalah ganti obat paten dengan obat generik atau sebailkinya.

Sangat penting Patrick patuh terhadap terapi TB ini, dan tidak mangkir/putus lagi. Kemungkinan TB Patrick dapat disembuhkan dengan obat ini. Namun bila bakteri TB dalam tubuh Patrick menjadi resistan terhadap obat ini, Patrick nanti harus pakai rejimen lini kedua, yang jauh lebih berat, jauh lebih mahal, harus dipakai selama dua tahun, dan efektivitas tidak terjamin. Lagi pula, bakteri TB yang resistan dapat menular pada orang lain, misalnya teman atau keluarga dalam rumah tangga, membuat penyakit pada mereka jauh lebih sulit diobati.

Semoga ini jelas...

 

Kalau ada pertanyaan atau komentar mengenai jawaban ini, silakan kirim pertanyaan lanjutan atau komentar

Semua informasi yang tercantum pada halaman ini sekadar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sebelum melaksanakan suatu pengobatan sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.