| Pengguna napza suntikan aktif harus diberi dukungan kepatuhan ketika memulai terapi HIV | Unduh versi PDF |
| Oleh: Michael Carter | Tgl. laporan: 20 Juni 2012 |
Kemungkinan mencapai viral load yang tidak terdeteksi sama-sama rendah untuk pasien yang menyuntikkan heroin, kokain atau kombinasi dari kedua obat ini. Para peneliti Kanada melaporkan dalam Drug and Alcohol Dependence. Antara 56%-58% dari mereka yang menyuntikkan napza memiliki viral load yang tidak terdeteksi pada satu tahun setelah memulai terapi HIV, dibandingkan dengan 89% orang yang tidak aktif menggunakan napza suntikan.
Namun, ketika mempertimbangkan variabel yang tergantung pada waktu, menyuntikkan obat-obatan ini tidak terkait dengan hasil virologi yang lebih buruk. Para peneliti percaya bahwa hal ini adalah karena kebiasaan menyuntik yang tidak konstan, dengan kecenderungan pengalihan antara obat dan antara menyuntik dan tidak menyuntik. Faktor yang terkait dengan kemungkinan yang lebih besar dari penekanan virus adalah viral load awal, terapi metadon dan yang terkuat di antara semuanya adalah kepatuhan terhadap terapi HIV.
Oleh karena itu para peneliti menekankan pentingnya untuk menyediakan dukungan pada orang yang baru menggunakan pengobatan HIV yang memiliki sejarah penggunaan napza suntikan.
Juga diakui bahwa pengguna napza suntikan aktif terkait dengan tanggapan yang lebih rendah terhadap terapi HIV. Namun, dampak dari pola yang spesifik dari penyuntikan terhadap kemungkinan untuk penekanan virologi masih kurang dipahami.
Oleh karena itu, peneliti dari Vancouver merancang penelitian longitudinal yang melibatkan 267 orang dengan riwayat penggunaan obat yang memulai terapi HIV untuk pertama kalinya antara tahun 1996 dan 2008.
Para peserta diwawancarai pada awal dan kemudian setiap enam bulan. Mereka ditanya apakah mereka telah menyuntikkan heroin, kokain, atau kombinasi obat ini pada enam bulan sebelumnya. Mereka yang menjawab ya diklasifikasikan sebagai pengguna narkoba suntikan aktif dan kesempatan mereka untuk mencapai penekanan virus (di bawah 500) dibandingkan orang yang tidak melaporkan penggunaan napza suntikan terakhir. Informasi juga dikumpulkan mengenai karakteristik demografi peserta, viral load dan jumlah CD4 pada awal, penggunaan terapi metadon, jenis terapi HIV yang digunakan dan kepatuhan terhadap pengobatan ini.
Tingkat penekanan virus pada 12 bulan setelah memulai terapi adalah 56% untuk penyuntik kokain, 58% bagi mereka yang menyuntikkan heroin dan 56% untuk peserta yang menyuntikkan kedua obat tersebut.
“Dampak dari menggunakan beberapa obat (misalnya heroin vs kokain) pada penekanan HIV tidak berbeda jauh pada awal,” tulis para penulis.
Sebaliknya, 89% dari pasien yang tidak melaporkan perilaku menyuntik saat ini mencapai penekanan virologi. Terdapat perbedaan yang bermakna di antara hasil penekanan virologi di antara mereka yang menyuntikkan obat-obatan dan mereka yang tidak (p <0,01).
Namun, ketika dilihat secara longitudinal sebagai variabel tergantung waktu, pola suntikan hanya terkait dengan peluang penekanan virus yang lebih rendah adalah ketika seseorang menggabungkan penggunaan kokain dan heroin (HR = 0,67, 95% CI, 0,47-0,97, p <0,05). Hubungan ini berhenti menjadi bermakna ketika para peneliti mengendalikan faktor seperti jumlah CD4, viral load dan terapi tahun dimulai.
Analisis statistik yang lebih lanjut menunjukkan bahwa tidak ada pola penggunaan obat yang dikaitkan dengan penekanan viral load.
Namun demikian, para peneliti menemukan bahwa beberapa faktor dikaitkan dengan kesempatan yang lebih baik mencapai penekanan virus. Ini termasuk penggunaan metadon (AHR = 1,33, 95% CI, 1,01-1,76), terapi dengan protease inhibitor (AHR = 1,35, 95% CI, 1,03-1,77), tahun pengobatan dimulai (AHR = 1,10, 95% CI , 1,05-1,15) dan, paling kuat dari semua, minimum kepatuhan terhadap terapi sebesar 95% (AHR = 4,00, 95% CI, 2,91-5,49).
“Penekanan viral load HIV paling kuat diperkirakan oleh karakter klinis pada awal, penggunaan metadon, dan kepatuhan terhadap ART,” para penulis menekankan.
Mereka menyimpulkan: “Aktif menyuntikkan napza pada saat memulai ART dikaitkan dengan penekanan viral load HIV yang lebih buruk…ketika mempertimbangkan secara longitudinal, terdapat sedikit hubungan antara pola menyuntik dan tingkat penekanan viral load HIV.” Para peneliti percaya bahwa temuan ini menunjukkan :intervensi terhadap kepatuhan harus dilakukan pada saat memulai terapi HIV untuk para pengguna napza suntikan aktif.”
Ringkasan: Active injecting drug users must be provided with adherence support when they start HIV therapy
Sumber: Kerr T et al. Patterns of heroin and cocaine injection and plasma HIV-1 RNA suppression among a long-term cohort of injection drug users. Drug and Alcohol Dependence 124: 108-12, 2012.
Edit terakhir: 10 Juli 2012