| Terapi HIV mengurangi risiko patah tulang | Unduh versi PDF |
| Oleh: Tim Horn | Tgl. laporan: 14 Juni 2012 |
Dibandingkan dengan orang yang hidup dengan HIV dan tidak diobati, mereka yang menggunakan terapi antiretroviral (ART) kurang mungkin mengalami patah tulang yang berhubungan dengan kerapuhan tulang. Hal ini sesuai dengan sebuah makalah penelitian yang ditulis oleh Linda Mundy, MD dari GlaxoSmithKline dan rekannya yang diterbitkan dalam jurnal AIDS edisi 1 Juni 2012.
Dalam temuan tersebut, menyoroti bahwa tenofovir terkait dengan pengurangan risiko patah tulang dan bahwa protease inhibitor (PI) memiliki dampak yang kecil terhadap risiko ini. Ini berbanding terbalik dengan studi sebelumnya. Sebagai tambahan terhadap studi yang mencatat tingkat yang lebih tinggi dari osteopenia (kehilangan mineral tulang ringan/sedang) dan osteoporosis (kehilangan mineral tulang yang signifikan) di antara orang dengan HIV yang menggunakan obat ini, meningkatkan tingkat patah tulang pada pergelangan tangan, punggung dan pinggul juga telah diamati.
Bahkan, sebuah laporan yang bertentangan diterbitkan dalam jurnal AIDS edisi 24 April 2012. Laporan ini ditulis oleh peneliti Administrasi Kesehatan Veteran memasukkan data akhir dari studi yang awalnya disajikan Juli 2011 pada IAS Conference on HIV Pathogenesis, Treatment and Prevention di Roma. Para peneliti menyimpulkan bahwa tenofovir dan beberapa PI terkait dengan peningkatan risiko patah tulang.
Analisis yang dilakukan oleh kelompok Mundy menyertakan 59.594 orang yang hidup dengan HIV yang menerima perawatan antara Januari 1997 dan Maret 2008, mereka diidentifikasi dengan menggunakan pangkalan data.
Sekitar setengah pasien yang disertakan dalam analisis tidak menerima ARV. Di antara 29.179 yang belum menggunakan ART, usia rata-rata mereka adalah 39 tahun dan 58% adalah laki-laki. Di antara mereka yang diobati dengan ART, usia rata-rata adalah 42 tahun dan sekitar 85% adalah laki-laki. Dari catatan, mereka yang belum pernah menggunakan ART lebih mungkin untuk mengalami patah tulang di masa lampau (3,4% vs 0,7%) dan kurang mungkin untuk memiliki berat badan rendah (4,3% vs 11,4%).
Populasi akhir yang dipilih untuk perbandingan melibatkan 2.477 orang yang mengalami patah tulang dan 9.144 yang tidak mengalami patah tulang selama masa studi 11 tahun.
Secara statistik, risiko patah tulang lebih tinggi di antara pasien dengan faktor risiko tradisional, termasuk patah tulang sebelumnya, aktivitas fisik yang rendah, penggunaan alkohol berlebihan, berat badan rendah, koinfeksi hepatitis C dan infeksi HIV lanjut.
Untuk risiko yang terkait dengan terapi ARV, tim Mundy menemukan bahwa mereka pada pengobatan selama masa studi memiliki risiko patah tulang sekitar 36% lebih rendah daripada mereka yang tidak menerima ART.
Penurunan risiko menjadi lebih besar seiring dengan waktu, terutama dengan penggunaan obat NRTI dan NNRTI. Sebagai contoh, dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima pengobatan ARV, risiko patah tulang berkurang 17% selama lima bulan pertama dengan pengobatan NRTI. Di antara mereka yang pernah memakai NRTI selama minimal 20 bulan, risiko itu berkurang hampir 50%.
Penggunaan PI memiliki efek nol, setidaknya selama 18 bulan pertama pengobatan dengan kelas obat ini. Dengan kata lain, PI tidak menurunkan atau mempertinggi risiko patah tulang, dibandingkan dengan subyek penelitian tidak menggunakan ART. Hanya setelah 18 bulan pengobatan terdapat penurunan 16% dalam risiko patah tulang, dibandingkan dengan yang tidak menggunakan pengobatan ARV.
Dalam hal obat-obatan tertentu, darunavir, saquinavir dan delavirdine dikaitkan dengan peningkatan risiko patah tulang.
ART yang tidak memiliki dampak tertentu termasuk atazanavir, fosamprenavir, lopinavir/ritonavir, indinavir, nelfinavir, ritonavir dan tipranavir abacavir, didanosine, stavudine, dan enfuvirtide.
ARV yang dikaitkan dengan penurunan risiko patah tulang termasuk efavirenz, nevirapine,emtricitabine, lamivudine, AZT, dan tenofovir.
Khusus melihat pada tenofovir, yang telah dikaitkan dengan menurunkan kepadatan mineral tulang dan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko patah tulang dalam penelitian lain, tim Mundy menemukan ada penurunan yang terus menerus dari risiko. Selama empat bulan pertama pengobatan tenofovir, risiko patah tulang berkurang sekitar 17%, sedangkan setelah 17 bulan pengobatan, risiko berkurang sekitar 35%.
Tim Mundy menyimpulkan “ bersama-sama, hubungan pajanan-tanggapan dari obat tertentu ini menyarankan manfaat keseluruhan dari pengobatan ART untuk risiko patah tulang di antara subyek yang tidak menggunakan ART.”
Artikel asli: HIV Therapy Decreases Bone Fracture Risk, Compared With Those Not on Treatment
Edit terakhir: 10 Juli 2012