Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Studi mengidentifikasi karakteristik LSL yang mungkin cocok untuk profilaksis pra pajanan intermiten Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: Michael Carter Tgl. laporan: 6 Juni 2012

Laki-laki gay yang berusia lebih tua, memiliki tingkat pendidikan yang baik yang menggunakan situs jejering sosial dan memiliki hubungan seks di luar pasangan tetap mungkin menjadi target yang tepat dari profilaksis pra pajanan intermiten. Hasil studi yang dilakukan oleh para peneliti di AS ini diterbitkan dalam jurnal AIDS.

Para peneliti menemukan bahwa orang dengan profil ini lebih mungkin untuk merencanakan kegiatan seksual mereka dan melakukan hubungan seks kurang dari tiga kali per minggu.

“Studi ini akan mampu menilai karakteristik laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) yang paling bermanfaat dari profilaksis pra pajanan intermiten,” para peneliti berkomentar.

Studi iPrEX yang melibatkan gay dan LSL lain menunjukkan bahwa profilaksis pra pajanan mengurangi risiko terinfeksi HIV.

Namun, kepatuhan adalah hambatan utama terhadap keberhasilan profilaksis pra pajanan. Juga ada keprihatinan terhadap biaya dan efek samping potensialnya. Pemberian dosis intermiten (selang seling) telah diusulkan sebagai salah satu cara untuk mengatasi keterbatasan ini. Studi yang baru diterbitkan ini menunjukkan bahwa kepatuhan juga merupakan tantangan ketika dosis intermiten digunakan.

Strategi pengobatan ini melibatkan penggunaan sebuah dosis terapi antiretroviral sebelum kegiatan seks berisiko, dengan dosis kedua digunakan segera sesudahnya.

Strategi ini hanya akan cocok untuk orang yang terlibat dalam kegiatan seks berisiko kurang dari tiga kali per bulan, dan yang merencanakan kegiatan seks mereka.

Para peneliti dari AS ingin membentuk pemahaman yang lebih baik dari karakteristik laki-laki gay dan LSL lain yang memenuhi kriteria ini.

Laki-laki gay HIV negatif direkrut dalam studi ini dengan menggunakan situs jejaring sosial pada akhir tahun 2010. Semuanya aktif secara seksual (didefinisikan sebagai pernah melakukan seks anal pada bulan berikutnya). Para pria ini menyediakan data demografi, dan informasi mengenai perilaku seksual berisiko mereka, bagaimana mereka merencanakan kegiatan seksual mereka, penggunaan situs jejaring sosial dan status hubungan mereka.

Sebanyak 1,013 laki-laki berpartisipasi dalam penelitian ini. Media usia mereka adalah 28 tahun. Sebagian besar peserta (56%) melaporkan bahwa kegiatan seks anal terakhir mereka adalah kegiatan seks tanpa pengaman.

Ketika ditanyakan mengenai kegiatan seksual pada minggu sebelumnya, 49% laki-laki mengatakan bahwa mereka tidak melakukan kegiatan seks, 27% mengatakan bahwa mereka melakukan satu kegiatan seksual dan 9% melaporkan kegiatan seksual dua hari dalam seminggu. Sisanya 15% mengatakan bahwa mereka melakukan kegiatan seksual tiga kali dalam seminggu.

Separuh dari laki-laki melaporkan kegiatan seksual terakhir mereka tidak direncanakan, dan untuk 8% dari laki-laki, kegiatan seksual ini direncanakan beberapa menit sebelumnya. 22% pria melaporkan merencanakan untuk melakukan kegiatan seks beberapa jam sebelumnya, 11% mengatakan merencanakan untuk melakukan kegiatan seks pada satu sampai tiga hari sebelumnya, dan 8% mengatakan mereka merencanakan untuk melakukan kegiatan seks pada lebih dari tiga hari sebelumnya.

Secara keseluruhan, 31% laki-laki melaporkan kegiatan seks yang kurang rutin dan merencanakan kegiatan seks sebelumnya dan oleh karena itu menjadi calon potensial untuk profilaksis pra pajanan intermiten.

Faktor yang terkait dengan kegiatan seks yang kurang rutin termasuk usia yang lebih tua (media usia 30 tahun vs 27 tahun, p <0,001), lebih mungkin untuk menyelesaikan kuliah (46% vs 32%, p<0,001), dan melakukan tes HIV dalam 12 bulan terakhir (54% vs 47%, p=0,033), menggunakan situs jejaring sosial setidaknya sekali seminggu (55% vs 44%, p = 0,001) dan melakukan kegiatan seksual terakhir dengan pasangan tidak tetap (60% vs 38%, p<0,001).

Tambahan pengetahuan mengenai frekuensi seksual dan perencanaan seksual penting dalam mengidentifikasi LSL yang mungkin mendapatkan manfaat dari intervensi profilaksis pra pajanan ini,” para peneliti menyimpulkan. “Dengan penggunaan tenofovir/FTC sebagai profilaksis pra pajanan, profilaksis pra pajanan dengan dosis harian tetap penting untuk sebagian besar LSL yang berisiko tinggi yang melaporkan kegiatan seksual yang lebih sering atau yang kurang dalam merencanakan kegiatan seksual.”

Ringkasan: Study identifies characteristics of gay men who may be suitable for intermittent PrEP

Sumber: Volk JE et al. Sexual frequency and planning among at-risk men who have sex with men (MSM) in the US: implications for event-based intermittent pre-exposure prophylaxis (PrEP). J Acquir Immune Defic Syndr, online edition. DOI: 10.1097/QAI.0b013e31825bd87d, 2012.

Edit terakhir: 6 Juli 2012