Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Depresi dan interferon pegilasi: dokter melihat strategi skrining dan pengobatan Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: Michael Carter Tgl. laporan: 9 Mei 2012

Pasien dengan hepatitis C harus dievaluasi secara cermat untuk gejala depresi pada sebelum dan selama terapi berbasis interferon pegilasi, peneliti menulis dalam International Journal of Interferon, Cytokine and Mediator Research. Para penulis juga menyoroti bukti yang menunjukkan bahwa antidepresan SSRI merupakan terapi yang efektif dan aman untuk gangguan depresi selama pengobatan interferon. Namun, mereka mencatat bahwa efektivitas penggunaan profilaksis antidepresan masih harus didirikan.

“Depresi merupakan komplikasi yang relatif sering dan berpotensi serius dari terapi berbasis interferon untuk infeksi hepatitis C,” para peneliti berkomentar. “Karena pasien dengan depresi dapat menderita dari gangguan yang lebih lama, memiliki kualitas hidup yang lebih rendah, memiliki kunjungan rawat inap dan rawat jalan yang lebih sering dan peningkatan risiko bunuh diri, deteksi dan pengobatan depresi dini sangat penting.”

Meskipun ada kemajuan terbaru dari pengobatan hepatitis C, interferon pegilasi tetap menjadi terapi andalan di masa depan. Obat ini dapat menyebabkan efek samping yang signifikan, termasuk gangguan suasana hati dan depresi. Efek samping ini tidak hanya memiliki dampak yang besar pada kualitas hidup, namun juga menyebabkan beberapa pasien menghentikan terapi.

Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Haris Papafragkakis dari University of Miami melakukan tinjauan studi yang diterbitkan untuk membangun pemahaman yang lebih jelas dari prevalensi depresi di antara pasien yang terinfeksi dengan hepatitis C yang diobati dengan interferon. Mereka juga meninjau penelitian yang melihat strategi skrining; efektivitas terapi antidepresan untuk pencegahan dan pengobatan depresi yang disebabkan oleh interferon; dan pengelolaan niat ingin bunuh diri.

Perkiraan prevalensi depresi di antara pasien dengan infeksi hepatitis C yang diobati dengan interferon pegilasi ditemukan berkisar antara 10-40%. Namun, penelitian menyarankan bahwa sejumlah alat skrining standar dapat berhasil mengidentifikasi pasien dengan depresi sebelum memulai terapi berbasis interferon. Penggunaan teknik skrining yang sama selama pengobatan juga mampu untuk mengidentifikasi kejadian depresi.

Para peneliti menyoroti hasil dari satu studi yang menunjukkan nilai dari pendekatan multidisiplin, dengan berkomentar: “evaluasi bulanan dari pasien oleh seorang psikiater terkait dengan tingkat depresi, psikosis, dan delirium yang lebih rendah dibandingkan dengan pendekatan ‘jika dibutuhkan’.”

Namun, mereka menekankan bahwa pasien dengan hepatitis C sering kali memiliki beberapa faktor risiko untuk depresi. Oleh karena itu, terapi interferon mungkin hanya salah satu dari penyebab depresi.

Ada beberapa bukti bahwa tanggapan kekebalan tubuh yang lebih kuat selama terapi hepatitis C dapat terkait dengan tingkat yang lebih tinggi dari depresi. Gen IL-28B – yang terkait dengan peningkatan tanggapan terhadap terapi hepatitis C – juga terkait dengan gangguan tidur. “Lebih banyak studi dibutuhkan untuk menjelaskan hubungan ini secara lebih lanjut,” para peneliti mencatat.

Masih belum jelas apakah terapi interferon meningkatkan risiko pikiran untuk bunuh diri. Satu studi kecil menunjukkan bahwa 17% pasien memiliki niat bunuh diri sebelum memulai pengobatan dengan interferon standar dan tingkat ini meningkat sebanyak 26% selama terapi. Namun, sebuah studi yang melibatkan 400 pasien dengan infeksi hepatitis C yang menggunakan pengobatan interferon pegilasi menunjukkan bahwa hanya 4% pernah memikirkan untuk bunuh diri.

Meskipun ada ketidaksesuaian dalam temuan penelitian, para peneliti menekankan bahwa risiko bunuh diri harus ditanggapi dengan serius “dan harus didiskusikan dengan pasien dan anggota keluarga mereka sebelum memulai terapi.” Mereka juga merekomendasikan bahwa pasien dengan sejarah gangguan suasana hati yang serius, depresi, niat atau percobaan bunuh diri serta mereka dengan masalah narkoba dan alkohol “harus diwawancara dengan seksama dan dirujuk ke spesialis untuk penilaian risiko bunuh diri dan pengobatan gangguan yang mendasarinya sebelum pengobatan dengan interferon dapat dipertimbangkan.”

Terapi dengan antidepresan SSRI telah terbukti menjadi pengobatan yang aman dan efektif untuk depresi bagi pasien yang menggunakan interferon. Sebuah penelitian yang melibatkan 15 orang yang diobati dengan citalopram menunjukkan bahwa 87% mengalami perbaikan gejala dan tidak memiliki perubahan pada fungsi hati mereka. Sebuah uji coba plasebo-terkontrol terbaru juga mengindikasikan efektivitas obat ini.

Para penulis membuat rekomendasi khusus untuk penggunaan antidepresan. Rekomendasi ini memperhitungkan keparahan gejala.

Data yang bertentangan tentang penggunaan profilaksis antidepresan disorot dan dibahas oleh penulis. Mereka juga menekankan bahwa terapi interferon dapat mengganggu fungsi tiroid dan bahwa fungsi tersebut harus dipantau selama terapi.

Ringkasan: Depression and pegylated interferon: doctors look at screening strategies and treatment

Sumber: Papafragkakis H et al. Depression and pegylated interferon-based hepatitis C treatment. International Journal of Interferon, Cytokine and Mediator Research, 4: 25-35, 2012.

Edit terakhir: 6 Juni 2012